Sukses

5 Tahun Vakum, Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen Kembali ke Layar Lebar

Liputan6.com, Jakarta - Setelah 5 tahun vakum, pasangan Ari Sihasale (Ale) dan Nia Zulkarnaen kembali ke layar lebar lewat film Rumah Merah Putih

Rumah Merah Putih merupakan film kesembilan Alenia Pictures, rumah produksi yang didirikan Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen. Terakhir, Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen merilis film Seputih Cinta Melati tahun 2014.

Biasanya, film-film buatan suami istri Ale dan Nia hadir di pertengahan tahun menandai liburan tahun ajaran baru. Diakui Nia Zulkarnaen, 5 tahun terakhir, banyak yang mempertanyakan mengapa lama tak memproduksi film. 

“Banyak yang menanyakan lewat media sosial, banyak yang mengomel. Kebetulan saya dan Mas Ale punya kafe di Kemang. Banyak orang tua yang berkunjung ke sana dan memperkenalkan anak mereka kepada kami sambil menanyakan kapan bikin film anak-anak lagi. Sebenarnya kami sangat rindu bikin film,” cerita Nia Zulkarnaen kepada Showbiz Liputan6.com di Jakarta, Senin (17/6/2019).

 

 

2 dari 3 halaman

Alasan Vakum

Nia Zulkarnaen menjelaskan, vakum 5 tahun untuk menghargai bulan Ramadan yang bertepatan dengan pertengahan tahun.  

Selama 5 tahun itu, keduanya membuat program dokumentasi bertajuk Alenia’s Journey Uncover NTT. Di sela syuting program dokumentasi, Ale dan Nia menggagas trilogi perbatasan, yakni tiga film tentang kehidupan dan perjuangan anak-anak di daerah perbatasan, yakni NTT, Papua, serta Kalimantan.

 

3 dari 3 halaman

Belajar dari Anak Perbatasan

Pasangan ini memilih cerita dari NTT untuk memulai trilogi perbatasan. Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen belajar banyak dari anak-anak di perbatasan. 

“Salah satunya masyarakat di perbatasan tulus dan jarang mengeluh. Di NTT misalnya, dalam setahun, hujan hanya turun selama 3 bulan. Mereka tetap bersyukur dan melanjutkan hidup,” kata Nia Zulkarnaen.

Ari Sihasale menambahkan, “Proses film ini dimulai dengan riset pada Agustus 2018. Saya dan penulis skenario Jeremias Nyangoen mengunjungi Atambua dan beberapa kota di NTT. Kami mendengar kisah-kisah warga setempat. Salah satu cerita dari anak kecil bernama Amori De Purivicacao yang kemudian tampil film ini.” (Wayan Diananto)