Black Panther, Jagoan Afrika yang Tak Kalah Keren dari Superhero Amerika

Kisah T’Challa akan langsung diceritakan di Wakanda, kerajaan di benua Afrika tempat sang Black Panther berkuasa.

Diterbitkan 14 Februari 2018, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Cerita Tak Terlalu Istimewa, tapi...

Durasi film Black Panther, terbilang cukup panjang, yakni dua jam lebih. Namun film ini jauh dari kata membosankan. Film Black Panther tak kalah keren dari kisah superhero lainnya yang  terjadi di Amerika. Bahkan, nuansa suku Afrika dalam film ini memberikan warna tersendiri yang membuat Black Panther jadi makin asyik untuk dinikmati.

Sebenarnya, bila ditilik lebih lanjut, plot utama dalam film Black Panther sebenarnya terbilang tak terlalu istimewa. Yakni, soal intrik dalam perebutan takhta dan kekuatan, serta balas dendam. Namun banyak hal dalam film ini yang membuat  cerita biasa ini menjadi luar biasa.

Simpati pada Sang Penjahat

Yang paling terasa, adalah bagaimana para karakter dalam film ini ditampilkan. Masing-masing dimunculkan secara kuat dan multidimensi. Beberapa yang mencuri perhatian adalah Shuri yang bandel dan kocak namun jenius, serta Okoye yang begitu serius akan tugasnya—namun tingkah dan komentar pedasnya kerap mengundang tawa.

Bahkan, sutradara sekaligus penulis skenario Black Panther, Ryan Coogler, berhasil melaksanakan tugas sulit: membuat penonton bersimpati dengan tokoh antagonis di film ini. Pasalnya, Erik Killmonger ditampilkan dengan manusiawi di film ini.

Meski tak bisa dibenarkan, ia memiliki alasan yang cukup kuat untuk segala perbuatannya. Hal ini, menjadikan Erik Killmonger sebagai tokoh antagonis yang jauh dari stereotip sekadar ‘ingin-menguasai-dunia’.

Tradisi Afrika

Hal lain yang menarik dalam film ini adalah penggambaran Wakanda. Sejumlah tradisi suku Afrika di dunia nyata yang dipinjam dan dimasukkan dalam film ini, seperti penampilkan suku dan musik, kian memperkaya nuansa film ini. Dan yang patut diberi aplaus, para suku di Wakanda digambarkan dengan sangat bermartabat.

Sutradara Ryan Coogler juga terbilang cukup jeli membenturkan budaya Amerika dan Afrika dalam film ini. Cek saja, di sela tabuhan musik perkusi yang bergemuruh di sepanjang film, musik latar langsung berubah haluan ke hip hop begitu Erik Killmonger yang berasal dari Amerika muncul ke layar.

Bela Diri Frontal

Satu lagi yang membetot perhatian penonton adalah desain pertarungan dalam film ini. Berbeda dari banyak film superhero lain yang lebih mengandalkan kekuatan super, pertarungan di Black Panther banyak menampilkan aksi bela diri yang frontal. Hal ini, membuat adegan laga dalam film ini mengasyikkan untuk diikuti.

Di tengah serbuan film superhero tiap tahun, Black Panther yang mulai tayang hari Rabu (14/2/2018) ini bisa dibilang memberi napas segar dari film-film serupa. Bila Marvel mampu mempertahankan hal ini, bisa jadi kegelisahan akan munculnya ‘superhero fatigue’ alias rasa bosan penonton pada film semacam ini, bisa ditangkal sejak dini.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan