The Greatest Showman, Film Musikal Tokoh Sirkus Kontroversial

The Greatest Showman diinspirasi oleh seorang tokoh nyata yang hidup di abad ke-19 bernama PT Barnum.

Diterbitkan 28 Desember 2017, 19:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Orang mungkin asing dengan nama PT Barnum. Padahal ia adalah sosok penting dalam perkembangan satu ‘seni pertunjukan’ yang populer di kalangan masyarakat luas sirkus.

Kini, sosok PT Barnum ditampilkan di atas layar lebar dalam sebuah film musikal yang merupakan film panjang debutan sutradara muda Michael Gracey, The Greatest Showman. Yang memerankan sosok kontroversial PT Barnum, adalah Hugh Jackman.

The Greatest Showman memulai perjalanan dari masa-masa awal kehidupan PT Barnum muda di abad ke-19, seorang anak penjahit miskin yang kerap diremehkan orang kaya di kotanya. Hanya saja, PT Barnum malah jatuh cinta dengan anak orang berada, Charity (Michelle Williams).

 

Setelah bertahun-tahun bekerja, akhirnya PT Barnum berhasil menikahi Charity, memboyongnya ke kota, dan hidup bahagia dengan kedua anaknya. Sayang, kantor tempatnya bekerja malah pailit.

PT Barnum  tak kehabisan akal. Dengan siasatnya yang sedikit licik, ia lantas mendapat pinjaman uang dari bank dan merintis bisnis pertunjukan. Ia mengumpulkan sejumlah orang dengan penampilan fisik aneh, mulai dari pria bertubuh kerdil hingga wanita berjenggot. Ia juga mengajak serta kakak beradik kulit hitam yang jago beratraksi trapeze, Anne Wheeler (Zendaya), dan kakaknya.

Pelan-pelan bisnis PT Barnum mulai berkembang. Ia mulai memiliki rekanan, Phillip Carlyle (Zac Efron), bahkan ia kini punya bintang baru, The Swedish Nightingle yang cantik bersuara merdu, Jenny Lind (Rebecca Ferguson).

Namun masalah juga mulai menghadangnya. Mulai dari hajaran dari kritikus seni hingga penentangan dari masyarakat sekitar yang menilai bahwa pertunjukan mereka hanyalah kumpulan orang aneh. Sementara istri dan anaknya, mulai merasa adanya jarak dengan PT Barnum.

 

Sosok Kontroversial yang Dipoles Ulang

Ada dua hal penting yang patut dicatat dalam The Greatest Showman. Yang pertama adalah bagaimana sosok PT Barnum ditampilkan.

PT Barnum, sebenarnya dicatat sebagai sosok kontroversial dalam sejarah. Kebohongan publik yang ia buat demi usahanya, jauh lebih dahsyat dibanding dengan yang ditampilkan dalam film. Contohnya saja ia pernah memperkenalkan seorang wanita tua sebagai asisten George Washington yang berumur 160 tahun. Padahal aslinya, wanita ini baru berusia sekitar 80 tahun.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Tak heran, PT Barnum selama ini dikenal sebagai sosok kapitalis yang tak segan untuk mengeksploitasi para pekerjanya. Bahkan National Geographic menyebutnya satu dari sejumlah pembohong terbesar sepanjang sejarah. Namun di film ini, sosok PT Barnum—meski tetap terlihat sebagai kapitalis nan oportunis—terasa dibentuk dengan begitu positif. Tak hanya sosok positif yang begitu menghargai sesama, ia juga diperlihatkan begitu hangat, setia kawan, dan seorang ayah dan suami yang begitu memuja nilai keluarga. Sebenarnya sah-sah saja bila para penulis skenario—Jenny Bicks dan Bill Condon—hendak mengangkat sosok PT Barnum seperti ini. Dan tak cuma PT Barnum yang karakternya dipelintir demi mulusnya alur film, tapi juga tokoh lain dalam film ini. Salah satunya adalah penyanyi Jenny Lind. Nah, tugas penonton adalah tidak menelan bulat-bulat The Greatest Showman sebagai sebuah fakta yang sebenarnya.

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Telni RusmitantriTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan