Terhanyut dalam Pahit Getir Peperangan di Dunkirk

Christopher Nolan kembali menunjukkan kelasnya sebagai sineas papan atas lewat Dunkirk.

Diterbitkan 21 Juli 2017, 15:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Namun sutradara Dunkirk, Christopher Nolan, menyajikan tema ini dengan perspektif yang berbeda. Ia menghadirkan ketakutan, teror, dan keputusasaan yang dihadapi para tentara di medan perang. Dan Nolan, berhasil melakukannya sejak menit-menit awal Dunkirk. Suasana teror dibangun terus menerus, nyaris tanpa henti, sejak film dimulai.

Fionn Whitehead (IMDB/ Warner Bros)

Dialog dalam film ini juga terbilang tak begitu banyak. Sekenanya saja, tapi tetap mengena. Keheningan antara para tokoh di film ini makin menguatkan tensi dalam film. Lagipula, siapa yang sempat berbincang hal-hal sepele bila setiap saat nyawa tiba-tiba bisa terlepas dari tubuh? 

Dialog yang tergolong irit ini tentu menjadi tantangan besar untuk para pemain Dunkirk. Pasalnya, mereka harus piawai menyampaikan emosi yang dirasakan karakternya lewat bahasa mimik wajah dan gerak tubuh. Untungnya, visi sang sutradara Inception ini didukung penuh oleh para pemainnya. Termasuk para pemain muda dalam film ini. 

Fionn Whitehead yang punya porsi besar dalam film ini, mampu mengimbangi performa para aktor dengan jam terbang tinggi, seperti Tom Hardy dan Mark Rylance. Bahkan Harry Styles—personel One Direction yang keikutsertaannya di Dunkirk awalnya dipertanyakan—juga mampu menghadirkan labilnya jiwa prajurit muda di medan perang.

Hal lain yang menarik dari Dunkirk adalah tak ada penekanan mengenai identitas sebagian besar karakternya, terutama soal nama. Penonton mungkin tak bakal bisa mengingat nama para karakter di film ini begitu keluar dari bioskop. Bahkan karakter penting yang dimainkan oleh Cillian Murphy hanya diberi keterangan sebagai "tentara yang gemetaran" di credit film ini.

Namun seperti kata Shakespeare, apalah arti sebuah nama. Karena toh dalam Dunkirk, para penonton telah berhasil digiring untuk peduli dengan nasib para pemainnya. Terhadap tentara-tentara muda bertubuh kurus yang ketakutan dan hanya ingin pulang ke rumah, juga dengan keberanian seorang pria tua dan pilot yang tengah menghadapi kesulitannya masing-masing.

Apalagi, dalam film ini terdapat sejumlah adegan singkat yang benar-benar menggambarkan kegetiran dan rasa putus asa para tentara Sekutu di Dunkirk. Salah satunya, saat tentara yang sedang terendam air laut, berbaris menunggu kapal penjemput, mendorong dengan pelan jenazah-jenazah kawannya yang terapung ke arahnya. 

Cerita dari Darat, Laut, dan Udara

Dunkirk dibagi menjadi tiga bagian cerita yang berbeda: darat, laut, dan udara. Di darat adalah bagian pergulatan para prajurit muda yang diperankan oleh Fionn Whitehead dkk. Udara adalah medan pertempuran bagi Farrier, sementara di laut berjalan narasi perjuangan Tuan Dawson.

Meski sarat dengan muatan emosional, Dunkirk tak lantas menjadi film yang mendayu-dayu. Justru film ini banyak menyuguhkan adegan yang membuat jantung kebat-kebit. Tak hanya pada bagian pertempuran udara, namun juga detik-detik saat para tentara muda menghindari berondongan peluru dan mortir yang berdesingan sepanjang film. 

Satu hal yang patut diperhatikan, Dunkirk memiliki alur yang tidak linear di antara tiga bagian cerita ini. Satu bagian memiliki rentang waktu yang lebih panjang dibanding bagian yang lain. Namun, ketiga bagian ini diceritakan secara selang-seling dengan alur maju-mundur, sehingga terlihat acak dan susah dicari benang merahnya. Barulah di bagian akhir, ketiga bagian ini saling berkelindan dan membentuk satu gambaran utuh.

Sementara itu, Dunkirk adalah peristiwa yang benar-benar terjadi di 1940. Sejarahnya, peristiwa ini merupakan aksi penyelamatan besar-besaran yang melibatkan ratusan pesawat tempur dan kapal laut. Sayang, hal ini tak begitu terlihat kolosal di atas layar. Terutama, bagian tentang Angkatan Udara yang hanya menceritakan tentang tiga buah pesawat dan pilotnya. Namun, hal ini masih bisa dipahami, mengingat film ini tampaknya memang lebih difokuskan terhadap cerita manusia-manusia yang terjebak di medan perang.

Kesimpulannya, lewat film yang mulai diputar di Indonesia mulai 21 Juli ini, Christopher Nolan kembali membuktikan kelasnya sebagai seorang sineas. Bahkan tak berlebihan bila Dunkirk menjadi salah satu kandidat yang kuat untuk berlaga di sejumlah penghargaan bergengsi pada tahun depan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Ferry Noviandi, Fadjriah NurdiarsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan