Moana vs Belle, Kisah Princess Disney Beda Kelas di Masyarakat

Dua film besutan Disney mengisahkan tentang Princess Disney dan feminisme dengan cita rasa berbeda.

Diterbitkan 04 Desember 2016, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Dalam Beauty and the Beast, Belle yang digambarkan sebagai sosok yang cantik--dari ras Kaukasia--dengan kulit putih dan rambut coklat. Belle digambarkan sebagai sosok wanita yang cerdas dan kuat.

Bahkan, Belle (live action) justru yang diceritakan sebagai seorang penemu. Dalam bocoran, Belle berhasil menciptakan mesin cuci--di zamannya tentu saja terlihat aneh--tapi sangat berguna. Belle yang kutu buku dipandang aneh oleh orang lain, termasuk kakak-kakak Belle (dalam novel aslinya karangan Grimm Brothers).

Semua itu sesuai dengan pandangan feminisme menyangkut bagaimana memosisikan subjek perempuan di dalam masyarakat. Selama ini, wanita dianggap sebagai the other--keberadaannya dipandang sebelah mata--di masyarakat.

Dalam sebuah adegan, Belle digambarkan sebagai sosok yang berani. Saat itu, Belle menemukan ayahnya yang dikurung karena masuk ke istana the Beast. Sang ayah langsung menyuruh anaknya lekas pergi. Tak lama, The Beast muncul. Alih-alih merasa takut, Belle justru menghadapi Beast yang kemudian memohon pada ‘monster’ itu untuk melepaskan ayahnya.

Belle memberanikan diri untuk menukar dirinya dengan ayahnya sebagai tawanan Beast. Melihat sang gadis yang cantik, Beast tergiur dengan tawaran ini dan menerima dengan satu syarat--Belle harus berjanji untuk tinggal di istana itu selamanya. Sosok Belle yang dengan berani berhadapan dengan Beat sesuai dalam prinsip feminisme.

Lewat bukunya The Feminine Mystique, Betty Friedan menjelaskan gerakan feminisme ingin menyamakan kedudukan perempuan dengan laki–laki. Selama ini budaya patriarkat masih berlaku, sehingga kedudukan laki-laki dipandang selalu lebih
tinggi dibandingkan perempuan.

Di dalam budaya patriarkat nilai-nilai perempuan sebagai sosok lemah dan memerlukan perlindungan laki-laki bukan untuk membuatnya kuat seraya menghadapi ketidakpastian hidup.

Moana

Moana tak mengakui dirinya sebagai Princess Disney. Ia hanya mengaku sebagai putri kepala suku. Sosok Moana dengan kulit coklatnya ini mengingatkan dengan Pocahontas.

Mereka adalah anak dari kepala suku sebuah adat yang sangat memegang teguh adat. Pembagian kerja berdasarkan gender yang menempatkan perempuan dalam ranah domestik, sementara laki-laki dalam ranah publik jelas menimbulkan kesenjangan kelas.

Namun Moana tidak hanya berhadapan dengan kaum laki-laki dari sukunya saja, tapi juga perempuan kulit putih. Sungguh tragis, saat perempuan banyak berbicara mengenai feminsime, mereka sendiri menjadi pelaku adanya gap atau pembagian kelas di masyarakat. Orang kulit putih, termasuk wanita Kaukasia, merasa superipr dibandingkan dengan wanita dari negara lainnya.

Feminsime dalam film Moana disebut sebagai generasi ketiga atau konsep post-feminsme. Mulai diperkenalkan di Amerika oleh kaum wanita kulit hitam. Selama ini, wanita kulit berwarna kerap kali dimarginalkan, terutama dalam hubungannya dengan perempuan dan laki-laki kulit putih dan kaum heteroseksual. Kritik feminis ini memberikan perhatian kepada keberadaan para perempuan kulit berwarna.

Moana merupakan contoh sempurna mengenai feminsime generasi ketiga. Digambarkan, sosok Moana sebagai wanita yang tak kenal takut. Di film ini, tak ada sosok pangeran, hanya ada Maui, pria setengah dewa yang menemani Moana melakukan perjalanan dan petualangan.

Menurut sang kepala suku, hidup mereka telah digenapi oleh segala hasil kebun di pulau. Tak perlu menyusuri laut yang penuh dengan bahaya. Namun, satu waktu malapetaka hadir di pulau mereka.

Membangkang dari perintah ayahnya, Moana kemudian nekat berlayar di laut lepas.Tak hanya memenuhi panggilan jiwanya, ia juga meminta bantuan pada manusia setengah dewa bernama Maui yang kini hidup terasing untuk mengembalikan jantung Te Fiti. Padahal, sebagai anak kepala suku, Moana bisa saja mendapatkan kenyamanan. Tapi Moana memilih bertaruh nyawa demi menyelamatkan sukunya.

Inilah bukti, Princess Disney di era modern tak lagi egois yang hanya ingin menunggu untuk diselamatkan. Moana juga menggambarkan feminisme gelombang ketiga yang berusaha menunjukkan signifikansi peran dan citra perempuan dalam ranah publik. dan, mereka berusaha agar perempuan mempunyai keterlibatan yang lebih intens di masyarakat atau sosial.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Desika Pemita, Telni RusmitantriTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan