Ouija: Origin of Evil, Kembalinya Si Jelangkung Hollywood

Ouija: Origin of Evil punya elemen yang serupa tapi tak sama dengan film perdananya.

Diterbitkan 01 November 2016, 23:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Cuplikan film Ouija

Meski begitu, kedua film ini terasa memiliki nuansa yang sangat berbeda. Tak hanya karena film Ouija kedua ini berlatar tahun 70-an, tapi juga memiliki pendekatan yang berbeda dengan pendahulunya.

Bila film pertama menggunakan formula film horor remaja, prekuelnya ini memilih pendekatan drama keluarga. Bagaimana Alice bertahan sebagai orangtua tunggal yang membesarkan kedua putrinya sendirian, ikatan dalam keluarga kecil ini, juga kehidupan remaja Lina, sangat dieksplorasi di babak awal film ini.

Flanagan terlihat berusaha keras untuk memperkenalkan para pemeran film ini, sekaligus menarik penonton untuk bersimpati pada mereka. Sayang, skenario tak cukup kuat untuk melakukannya.

Cuplikan film Ouija

Namun untungnya, makin ke belakang film ini mulai menunjukkan ototnya. Salah satu kekuatan utamanya, adalah visualisasi Doris yang mengerikan saat ia kerasukan. Apalagi, ia kerap muncul tanpa peringatan sebelumnya.

Sementara itu, berbeda dengan dua bagian awalnya, babak ketiga Ouija: Origin of Evil yang datang secara tiba-tiba ini memiliki muatan horor yang sangat padat. Kebanyakan, memang menggunakan pendekatan jump scare alias memberikan efek kejut buat penonton. Meski banyak orang yang menganggap tipe horor seperti ini menyebalkan—karena hanya mengagetkan tanpa menakut-nakuti—setidaknya jump scare Ouija: Origin of Evil berhasil menaikkan adrenalin penonton.

Poster film Ouija

Kalau Anda tertarik untuk ditakut-takuti jelangkung Hollywood ini, jangan bergerak dari bangku bioskop sampai closing credit benar-benar berakhir. Karena ada adegan bonus yang diberikan oleh Ouija: Origin of Evil.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Nilam SuriTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan