6 Alasan Film Jadul Tiga Dara Masih Layak Tonton

Film Tiga Dara dari tahun 1956 akan kembali diputar di bioskop pada 11 Agustus mendatang.

Diterbitkan 05 Agustus 2016, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Mungkin tak sedikit orang yang malas menonton film yang dibuat jauh sebelum mereka lahir. Padahal, banyak film jadul yang bisa jadi jauh lebih menarik dari film-film yang beredar di masa kini. Salah satunya adalah film legendaris dari tahun 1956, Tiga Dara.

Kabar baiknya, film ini baru selesai direstorasi oleh SA Films, dan diubah dalam format digital beresolusi 4K. Tak hanya itu, film karya Usmar Ismail ini akan ditayangkan kembali ke bioskop Indonesia mulai 11 Agustus mendatang.

Tiga Dara diperankan oleh Chitra Dewi, Mieke wijaya, dan Indriati Iskak besutan Usmar Ismail (wikipedia)

Film ini juga telah diputar pada Rabu (3/8/2016) di bioskop XXI Metropole, Jakarta Pusat, sebagai pembuka hajatan Festival Film Indonesia 2016.

Mungkin ada suara-suara pesimis yang muncul dengan perilisan ulang Tiga Dara di bioskop. Mungkinkah ada penonton yang bersedia menyaksikan film hitam putih selama dua jam? Bila Anda termasuk yang masih ragu, silahkan membaca tulisan ini hingga habis. Karena mungkin saja, Anda hanya membutuhkan enam alasan berikut untuk tertarik menonton film Tiga Dara.

 

Cerita yang Manis dan Menarik

 Cerita yang Manis dan Menarik

Salah satu poin penting yang menentukan betah atau tidaknya penonton menikmati sebuah film, adalah ceritanya yang menarik. Dan Tiga Dara, memiliki faktor ini.

Film Tiga Dara bercerita tentang tiga perempuan kakak beradik yang memiliki kepribadian jauh berbeda. Si sulung Nunung (Chitra Dewi), adalah seorang gadis pendiam yang lebih suka mengurus pekerjaan rumah. Ini berbeda dengan anak tengah, Nana (Mieke Wijaya), perempuan kenes si biang pesta. Sementara si bungsu Nenny (Indriati Iskak), adalah si bandel lincah yang suka ikut campur urusan orang lain.

Melihat Nunung yang tak juga menikah, sang nenek (Fifi Young) bertambah cemas. Di usianya yang makin tua, hanya satu hal yang ia inginkan, yakni melihat cucu sulungnya menikah. Hanya saja, Nunung sewot tiap kali hendak dijodohkan. 

Semua berubah setelah datang Toto, lelaki yang tak sengaja menabrak Nunung dengan skuternya. Nana terang-terangan ingin menarik perhatian Toto, sementara Nunung diam-diam juga jatuh hati padanya. Melihat keruwetan ini, Nenny pun tak tinggal diam.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Jadul? Justru Makin Lucu Tiga Dara, adalah film musikal yang memiliki unsur humor yang lumayan kental. Sumber kelucuan dalam film ini berasal dari dialog keseharian yang begitu cair dan terasa membumi, sehingga penonton masa kini pun masih bisa ikut tertawa.  Dibuat di tahun 1956, tentu saja aroma jadul terasa sangat kuat dalam film ini. Jangan berpikir soal ketinggalan zaman, justru era yang berberda membuat Tiga Dara menjadi semakin lucu. Misalnya saat tokoh Herman (Bambang Irawan), pemuda berkumis tipis yang bernyanyi sambil menggoda para gadis. Tak hanya untuk memancing tawa, nuansa zaman dahulu ini setidaknya memperkenalkan  pada generasi muda gaya akting hingga teknik pengambilan gambar di masa lalu.

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Nilam SuriTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan