4 Alasan Princess Disney Tak Cocok Jadi Tontonan Anak-anak

Beberapa alasan ini bagi kritikus membuat Princess Disney tak cocok untuk tontonan anak-anak.

Diterbitkan 11 April 2016, 21:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Princess Disney, karakter fiksional besutan Disney dari cerita rakyat atau mitos hingga legenda mengenai sosok wanita di berbagai daerah di seluruh dunia. Biasanya menjadi pujaan bagi anak-anak.

Baca Juga

  • 10 Fakta Mengerikan Tentang Princess Disney
  • 6 Alat Batman yang Menakjubkan di Film Batman v Superman
  • 6 Artis Hollywood Ini Punya Bakat Terpendam

Princess Disney digambarkan sebagai wanita cantik dengan penampilan yang tanpa cacat, mulai dari tubuh ramping, pinggang kecil hingga mata besar yang indah. Cerita mengenai Cinderella yang sabar, Mulan yang pemberani hingga Snow White yang cantik membuat penggemar, khususnya anak-anak terbuai.

Dengan kisah mengenai si baik dan si jahat. Salah satu hal yang baik diajarkan dalam film Princess Disney adalah anak-anak diajarkan menjadi pribadi yang baik, melawan hal yang buruk.

Di antara keajaiban dan keindahan yang tergambar di Princess Disney, ada beberapa hal yang tak pantas untuk dicontoh anak-anak. Beberapa adegan di cerita Disney mendapatkan kritikan pedas dari media internasional. Apa sajakah itu?

Cinderella (YouTube)

1

Modal Tampang

Kritik muncul terhadap Princess disney ditulis di koran The Washington Post, Princess Disney seolah hanya menampilkan wanita cantik tanpa bakat apapun.

Cinderella yang tampak cantik, diceritakan tak memiliki hobi atau bakat tertentu. Cinderella digambarkan hanya senang melakukan pekerjaan rumah, membersihkan atau memasak. Cinderella diceritakan tak memiliki hobi atau bakat tertentu.

Cinderella

Selain itu, Aurora dalam Sleeping Beauty terlihat seperti wanita tidak berdaya. Aurora yang terkena kutukan saat jarinya terkena jarum di mesin penyulam hanya menunggu untuk diselamatkan. Aurora jadi tampak seperti wanita yang tengah kecanduan.

2

Wanita Tak Punya Hak

Princess Disney tampak `pasrah` seperti wanita di era kolonial, di saat gerakan feminisme masih belum dikenal. Sedikit berbagi mengenai feminisme, setiap wanita memiliki hak yang sama seperti pria.

Sayangnya, gambaran Princess Disney di film terlihat sang putri tampak seperti dibentuk oleh masyarakat kuno. Wanita tak punya hak suara, tampak digambarkan jelas dalam film The Little Mermaid.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Ariel kehilangan suara emasnya saat harus menukar dengan sebuah ramuan agar bisa menjadi manusia. Secara eksplisit--Jeff Guo menuliskan--karakter dalam Princess Disney adalah wanita yang tak memiliki hak menyuarakan keinginannya karena terbelenggu dengan keadaan.

Halaman
Show All
Desika Pemita, Aditia SaputraTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan