Review Deadpool: Merapat ke Dunia Jagoan Super Berotak Sinting

Tak seperti dalam X-Men Origins: Wolverine, pada film ini karakter Deadpool dibuat lebih setia dengan komik aslinya.

Diterbitkan 12 Februari 2016, 07:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Tak cuma karakternya, yang nyleneh, struktur plot film Deadpool berjalan dengan cara tak biasa.

Dalam lima belas menit pertama, penonton langsung digempur adegan laga gila-gilaan saat Deadpool (Ryan Reynolds) tengah menghabisi sejumlah lawannya. Namun di tengah pertarungan, alur tiba-tiba ditarik mundur ke belakang, pada masa sebelum Deadpool mengenakan spandeks merah-hitam ketatnya. Saat Deadpool masih dikenal dengan nama Wade Wilson.

20th Century Fox mengunggah video teaser Deadpool yang berdurasi kurang dari satu menit demi sambut trailer perdana.

Wade Wilson adalah seorang mantan prajurit khusus yang beralih profesi sebagai seorang tukang pukul bayaran. Ia bertemu dan jatuh cinta pada seorang kupu-kupu malam bernama Vanessa (Morena Baccarin). Hidup terasa sempurna, sampai Wade Wilson didiagnosis menderita kanker yang telah menyebar ke seluruh organ vitalnya. Ia kemudian setuju mengikuti program dari Ajax (Ed Skrein), yang tak hanya menjanjikannya kesembuhan, tapi juga kekuatan super.

Ternyata, Ajax memiliki rencana busuk yang diketahui Wilson dengan terlambat. Dari sini, adegan dikembalikan pada pertarungan Deadpool, dan tak berapa lama kemudian kembali dilempar ke masa lalu.

Plot yang dipimpong maju-mundur secara tiba-tiba ini, bisa jadi membuat penonton mengharapkan adegan laga non-stop menjadi sedikit terganggu. Pasalnya, dua sisi plot ini begitu bertolak belakang. Yang satu lebih menjurus pada drama, yang lain adalah adegan dar-der-dor dengan darah muncrat dan isi kepala tumpah ke mana-mana.

Ryan Reynolds syuting Deadpool. (Foto: Twitter)

Untungnya, ada satu benang merah yang menjahit dua bagian beda nuansa ini. Yakni, sisi humor Deadpool dan Wade Wilson yang liar dan kadang kurang ajar. Ada banyak jenis lelucon yang ditebar dalam Deadpool. Mulai dari lelucon vulgar, sampai yang lebih canggih. Yakni kala Deadpool mendobrak ‘dinding keempat’, atau yang dalam bahasa sinematik sebagai ‘breaking the fourth wall’.

Istilah ini, digunakan saat karakter dalam sebuah dunia fiksi memiliki kesadaran bahwa ia tengah berada dalam dunia tersebut, bahkan berinteraksi dengan penonton. Dan inilah yang dilakukan Deadpool.

Di

banyak adegan ia berbicara dengan penonton, juga sadar bahwa dunianya merupakan konstruksi yang dibuat oleh studio film. Dengan gayanya yang sarkastis, ia mengolok-olok banyak hal, mulai soal film X-Men Origins: Wolverine hingga budget film Deadpool. Dengan cara ini Deadpool membuat jembatan yang kokoh, yang membuat para pemirsa makin masuk ke dunianya. 

Ryan Reynolds syuting Deadpool. (Foto: Twitter)

Deadpool, dengan segala kejanggalannya, menjadi sebuah gebrakan baru di jagat sinema para pahlawan super. Tak hanya menjadi franchise Marvel pertama yang memasang rating R, alias restricted, Deadpool adalah angin segar bagi penggemar film superhero yang telah berulang kali dijejali dengan formula yang sama. (Rtn/fei)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Ferry NoviandiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan