Setelah Dua Kali Nonton Star Wars: The Force Awakens

Wartawan kami nonton Star Wars: The Force Awakens sekali lagi. Ini catatannya setelah tontonan kedua.

Diterbitkan 23 Desember 2015, 16:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PERINGATAN: SPOILER ALERT! Tulisan tentang Star Wars: The Force Awakens ini mengandung bocoran cerita. Sangat dianjurkan hanya untuk yang sudah menonton filmnya; atau Anda yang belum nonton, tapi tidak peduli dengan bocoran cerita.

I.

Apakah nonton sebuah film lebih dari sekali akan memperoleh hasil berbeda? Apa film yang di saat pertama kali kita nonton terlihat bagus, lalu di tontonan berikutnya jadi biasa? Bagaimana bila film tersebut Star Wars: The Force Awakens?

Saya nonton Star Wars: The Force Awakens pertama kali saat gala premiere atau pemutaran perdana pada Selasa (15/12/2015) malam, atau tiga hari lebih dulu ketimbang kebanyakan orang yang menontonnya saat tayang di bioskop reguler.

Kami, para wartawan yang biasa menulis ulasan film, memang punya keistimewaan macam itu: nonton film lebih dulu dari kebanyakan orang. Tapi kami juga punya tugas kenapa nonton duluan: kami wajib menuliskan resensinya, memberi nilai pada film yang kami tonton dan memberi panduan pada Anda, apa filmnya layak Anda tonton atau tidak.

Well, meski begitu menonton Star Wars: The Force Awakens lebih dulu terasa lain dibandingkan nonton film yang lain.

Adegan film Star Wars: The Force Awakens. (dok. Lucasfilm/Disney)

Baca Juga

  • ESAI Film Whiplash
  • ESAI Film Mencari Hilal dan Surga yang Tak Dirindukan
  • ESAI Film The Walk

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

The Force Awakens membangkitkan harapan baru bagi pencinta Star Wars. Setiap orang yang mencermati film Star Wars tentu paham, trilogi anyar atau kisah prekuel yang dibuat George Lucas (The Phantom Menace, Attack of the Clone dan Revenge of the Sith) tak bisa menyamai kualitas trilogi pertama (A New Hope, Empire Strikes Back dan Return of the Jedi). Jar Jar Binks, Hayden Christensen yang salah casting sebagai Anakin, serta dialog yang klise mengisi sejumlah daftar kesalahan Lucas di kisah prekuel. Nah, ketika kursi sutradara diserahkan pada JJ Abrams oleh Disney (yang membeli Lucasfilm dari George Lucas pada 2012), harapan tentu membuncah. Bagi kami, penggemar Star Wars, Abrams bak Barack Obama yang diharapkan mampu membawa perubahan, memperbaiki kesalahan yang dibuat pendahulunya. Alasan di atas ditambah menonton bersama para artis dan anggota komunitas Star Wars menghasilkan rasa menonton berbeda. Suasana bioskop XXI Senayan City, Jakarta malam itu hiruk-pikuk. Selain wartawan, para artis serta undangan lain berseliweran pula penonton dengan kostum karakter-karakter Star Wars. Hal itu membuat suasana kebatinan nonton The Force Awakens jadi lain. Dalam keremangan bioskop, kami tak bisa menonton filmnya dengan diam. Begitu muncul tulisan “A long time ago … in galaxy far far away” serta musik Star Wars yang menggema kami bertepuk tangan. Ya, harapan kami begitu besar pada film ini. Begitu juga setiap muncul karakter-karakter lawas dari trilogi asli. Kami tepuk tangan saat Han Solo dan Chewbacca muncul. Kami bertempik sorak melihat aksi manuver pesawat Millennium Falcon. Kami merasa senang. Rasanya seperti bertemu kembali kawan lama yang telah menghilang. Saya teringat omongan seorang teman yang bilang begini, nonton film saat pemutaran perdana bisa menimbulkan apa yang disebutnya 'efek premiere'. Maksudnya, film jadi terasa lebih bagus dari aslinya lantaran ditonton duluan dengan suasana kebatinan yang berbeda bila ditonton saat pertunjukan reguler dengan orang-orang biasa.

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Ferry NoviandiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan