Stand Up Comedy Academy 2015 Sukses karena `Indosiar Effect`?

Lewat SUCA, Indosiar membawa stand up comedy jadi tontonan rakyat.

Diterbitkan 16 November 2015, 14:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Meledaknya program stand up comedy di Indosiar membuat wabah lawakan tunggal kini makin melanda Indonesia. Antusiasme masyarakat meningkat. Sekarang banyak orang yang ingin
jadi comic atau komika, sebutan bagi pelakon stand up comedy. SUCA 2016 bahkan sudah bukan hanya dilirik, tapi diantre. Padahal, proses audisinya baru akan berlangsung beberapa
bulan mendatang.

Stand up comedy sendiri sebenarnya bukan hal baru di dunia perlawakan Tanah Air. Mengutip artikel di sebuah tabloid, Indonesia punya Ramon Papana sebagai penggiat pertama, yang bersama sahabatnya Harry De Fretes menggelar lomba lawak tunggal di kafe mereka, Baim Kafe, pada 1992. Kemudian di tahun 1997, ia mengenalkan open mic, istilah bagi siapa pun untuk naik panggung dan melucu di hadapan tamu Comedy Cafe miliknya.

Muzdalifah Stand Up Comedy [Foto: Faisal R. Syam/Liputan6.com]

Tahun 2004, Iwel Sastra atau dikenal juga dengan Iwel Wel adalah komika pertama yang menggelar show stand up comedy pertama yang lalu mengantarkan stand up comedy ke sejumlah acara di stasiun TV. Terakhir, kita punya Pandji Pragiwaksono dan Raditya Dika sebagai generasi muda yang melanjutkan perjuangan Ramon dan Iwel untuk mempopulerkan jenis lawakan tunggal ini. Pandji tercatat pernah menggelar pementasan spesial "Bhineka Tunggal Tawa" pada 28 Desember 2011 di Gedung Perfilman Umar Ismail Jakarta.

Saat itu stand up comedy belum jadi budaya pop mainstream. Penggemar maupun pelakonnya lebih pas disebut sebagai kumpulan komunitas. Saat komunitasnya makin banyak, stand up comedy kemudian dilirik Metro TV dan dibuatkan acara Stand Up Comedy Show.

Kompas TV kemudian juga menggelar ajang Stand Up Comedy Indonesia yang lantas banyak melahirkan comic. Nama-nama seperti Ernest Prakasa, Ge Pamungkas, Babe Cabitha, Kemal Palevi, dan masih banyak lagi terangkat dari ajang ini.

Kehebatan SUCA 2015

SUCA Tontonan Semua Kalangan

Namun, sejatinya acara-acara stand up comedy ini hanya diketahui segelintir masyarakat. Hal ini tak lepas dari jangkauan tayang stasiun TV tersebut yang sangat terbatas. Baru kemudian tahun ini Indosiar lewat SUCA mengibarkan pamor stand up comedy ke puncak. Bukan tanpa alasan anggapan ini mengemuka.

Indosiar tak hanya memiliki jangkauan tayang yang lebih luas, bisa disaksikan lebih banyak masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Selain itu, Indosiar juga dikenal bisa mengangkat sebuah kontes atau ajang apa pun menjadi sebuah acara dengan kemasan yang menarik.

Ini dibuktikan dengan sukses Dangdut Academy yang berjaya selama 2 tahun berturut-turut. Beranak-pinak ke D'Terong Show dan Bintang Pantura. Jika kemudian Indosiar bisa mengklaim
membawa stand up comedy naik level jadi tontonan rakyat, rasanya sih sah-sah saja.

Stand Up Comedy Academy [Foto: Faisal R. Syam/Liputan6.com]

Stand up comedy pada awalnya hanya bisa dinikmati di kafe-kafe dengan segmen penonton terbatas. Beranjak ke kampus-kampus melalui pertunjukan kecil-kecilan. Ketika masuk ke
televisi, biasanya stand up comedy menyediakan kursi penonton untuk ditempati mahasiswa. Mahasiswa adalah kaum intelektual muda.

Tak heran, kontes atau ajang adu stand up comedy lalu identik dengan pelawak-pelawak tunggal berbakat yang menjaring audisi di kampus atau gedung perkuliahan. Pesertanya rata-rata adalah mahasiswa. Beberapa nama comic yang kini kita kenal bahkan adalah mahasiswa yang sulit lulus kuliah karena keburu nyemplung di stand up comedy. Contohnya Gilang Bhaskara, salah satu mentor di SUCA 2015.

Namun, ada juga anggapan SUCA tak hanya menaikan derajat stand up comedy, tapi juga membuatnya jadi terlihat jadi tontonan semua kalangan.

Jika dulu hanya dikenal sebatas kalangan mahasiswa saja atau mereka yang masuk status ekonomi kelas A dan B, stand up comedy kini memang jadi tontonan segala lapisan masyarakat. SUCA tak membatasi kriteria peserta/calon comic. Cemen sang juara bahkan dibilang hanya guru les.

Para juri dan host Stand Up Comedy Academy. (foto: instagram.com/gadiiing)

Penonton SUCA juga tak hanya mahasiswa. Ibu rumah tangga, anak sekolah, pria, wanita, dengan segala pekerjaan pun jadi penonton setia. Apalagi Indosiar meletakkan SUCA di slot prime time pukul 20.00 WIB. Kontes stand up comedy lain kebanyakan tak mendapat privilige macam begini. Kontes stand up comedy di stasiun TV lain biasanya hadir di atas pukul 22.00 WIB.

Tak ayal, SUCA pun bisa sukses jadi tontonan favorit pemirsa sejak tayang perdana 5 Oktober silam. Pujian sungguh layak kita sematkan pada Indosiar yang tanpa ragu menempatkan stand up comedy jadi tontonan umum yang tak lagi dipandang sebelah mata. "Indosiar Effect," begitu banyak orang bilang.

Setelah sukses SUCA, jangan khawatir. Indosiar masih akan memanjakan comic lovers dengan acara Stand Up Comedy Club dan Stand Up Comedy Celeb sebelum memulai audisi SUCA 2016.
Dan kita patut berbahagia, stand up comedy kini bisa terus kita nikmati di TV nasional, jadi tontonan rakyat seperti lawakan Srimulat dahulu.* (Puj/Ade)**

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Puji Astuti HPS, Ade IrwansyahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan