REVIEW The Little Prince, Cerita Anak Prancis Rasa Pixar

Novel anak-anak paling terkenal dari Prancis, The Little Prince, diangkat menjadi animasi dengan gaya berbeda.

Diterbitkan 02 November 2015, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Di novel tipis Le Petit Prince atau The Little Prince, pada lembar persembahannya, Antoine de Saint-Exupery menulis begini, "Kepada anak-anak aku mohon maaf karena mempersembahkan buku ini kepada seorang dewasa… Semua orang dewasa pernah menjadi anak-anak. (Sekalipun hanya sedikit yang ingat)."

Kalimat di halaman pertama novelnya itu yang terus terngiang ketika saya pertama baca Le Petit Prince. Tentu saja saya baca ketika sudah dewasa—dari edisi terjemahan terbitan Gramedia tahun 2011.

Sebuah kisah anak—entah dongeng, novel atau film—ada yang ditujukan bagi anak-anak saja dan ada yang ditujukan bagi orang dewasa. Le Petit Prince menurut saya masuk kategori kedua. Pesan yang ingin disampaikan si pengarang justru bukan untuk anak-anak, melainkan pembaca dewasa.

Nov

el ini pertama terbit 1943. Sejak itu dongeng si pangeran cilik memikat orang di seluruh dunia hingga dicetak 145 juta buku. De Saint-Exupery, sang pengarang, seorang mantan penerbang. Pada 30 Januari 1935, pesawat yang diterbangkannya jatuh di gurun pasir Libya. Ia nyaris mati kehausan selama tiga hari sebelum diselamatkan.

Adegan film The Little Prince. (dok. Entertainment One)

Kisah bertahan hidupnya lalu ia tuangkan di buku Terre de Hommes (Bumi Manusia). Saat Perang Dunia II berkecamuk, de Saint-Exupery bergabung dengan skuadron pesawat pengintai Prancis. Ketika tanah kelahirannya dijajah Nazi Jerman, ia mengasingkan diri ke Amerika dari 1941 sampai 1943. Di sana ia menulis dan menerbitkan Le Petit Prince.

Baca Juga

  • 3 Novel Terlaris Sepanjang Sejarah, Sudah Baca?
  • EKSKLUSIF Wawancara Sutradara Inside Out, Pete Docter
  • REVIEW Inside Out

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Kembali ke Prancis, de Saint-Exupery memaksa diizinkan terbang lagi. Namun nahas, nasibnya kemudian tak diketahui saat menerbangkan pesawat Sekutu di wilayah Mediterania pada 31 Juli 1944. Hampir pasti ia ditembak jatuh di laut oleh pihak Jerman. Di biografi singkat di ujung novel terjemahan Le Petit Prince disebutkan: “Novel ini ditulis dalam masa perang oleh pria dewasa yang senang in action, yang dipaksa nonaktif, dan dibayangi situasi kritis di negara asalnya, membuat mereka yang akrab dengan kehidupan dan kematian de Saint-Exupery berpendapat Le Petit Prince adalah sepotong autubiografi—upaya untuk meredam kesulitan pernikahannya, atau untuk menangkis masa kini agar bisa terus mengenang dunia kanak-kanak, atau bahkan merupakan ucapan selamat tinggal atas kepergiannya yang misterius.” Apa pun itu, yang jelas novelnya amat memikat. Di dalam kesederhanaan tuturnya, orang dewasa yang membacanya pastilah merasa tertampar. Terutama mendapati kenyataan kita telah tumbuh dewasa dan kian melupakan jiwa kanak-kanak kita. Intisari tersebut yang terekam pula di film adaptasinya berwujud animasi 3D ini, The Little Prince.

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Feby FerdianTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan