Hollywood Punya Terminator, Kita Punya Lady Terminator

Seperti apa versi lokal Terminator atau Lady Terminator yang bikin heboh di tahun 1980-an?

Diterbitkan 01 Juli 2015, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Tak lama kemudian korban kedua muncul. Ratu yang digambarkan sebagai budak nafsu merengut surjan pemuda itu, lalu menyeretnya ke peraduan. Adegan yang sama berulang. Tapi kali ini pihak lelaki menang. Seekor belut hitam keluar dari 'anu' Ratu yang berubah jadi keris di tangan lelaki sakti itu. Nyi Roro Kidul mengancam akan membalas pada keturunan seterunya.

Adegan film Lady Terminator.

Kemudian Antropolog Tania, yang dimainkan bintang cantik-seksi Barbara Constable, ditarik ke dasar laut ketika mengadakan penyelidikan. Tokoh ini kemudian jadi terminator Ratu Kidul. Ia naik kembali ke darat dengan perangai buas dan membunuh dua lelaki yang lagi iseng di pantai, dengan bercinta.

Dihajar dengan berondongan peluru, tembakan laser dari helikopter, bahkan juga sodokan panser, wanita itu jadi remuk redam. Toh ia melabrak terus. Baru setelah ditikam oleh keris yang pernah diperkenalkan pada bagian awal film, wanita itu mampus."

Sebetulnya Lady Terminator mengambil secuil plot dari Terminator dan meramunya dengan nuansa mistis dan supranatural khas Indonesia. Anda mungkin hapal, Terminator karya James Cameron punya premis, saat perang antara mesin dan manusia di masa depan pihak mesin mengirim robot tangguh ke masa lalu dengan misi membunuh ibunda dari calon pemimpin di masa depan.

Sedang Lady Terminator memiliki premis, seorang wanita bule yang dirasuki Ratu Laut Selatan ingin membalaskan dendam atas penghinaan yang diterima sang ratu seratus tahun lalu pada keturunan pria yang menghinanya dulu.

Lady Terminator juga punya mise-en-scene yang mengingatkan kita pada rivalnya sang Terminator. Seperti robot pemusnah, Lady Terminator muncul telanjang dan sebelumnya didahului kilatan-kilatan halilintar.

Menontonnya lagi sekarang tentu saja kelihatan filmnya terlihat seperti film aksi kelas B. Beda dengan Terminator rilisan 1984 yang ditonton lagi sekarang pun terlihat masih keren.

Adegan film Lady Terminator.

Namun yang menarik, Lady Terminator yang dibuat dengan bujet Rp 1 miliar (termasuk termahal di masanya) menemukan takdirnya yang unik bertahun-tahun kemudian. Lady Terminator malah diterima publik luar negeri. Bersama film-film kelas B era 1980-an lainnya, macam Jaka Sembung hingga Ratu Ilmu Hitam, Lady Terminator malah diedarkan di luar negeri oleh distributor film-film cult macam Mondo Macabro DVD, Troma Team, ZDD, VideoAsia, Maia, dan sebagainya. Film-film kelas B diedarkan dengan judul Inggris dan di-dubbing ke bahasa Inggris pula.

Distributor asing juga mengubah nama pemain dan kru. Di Lady Terminator, misalnya, nama sutradara Tjut Djalil diubah jadi Jalil Jackson.

Baca juga: Nonton Jaka Sembung, Merayakan Film Kelas B Orde Baru

Ya, Lady Terminator yang dicerca dan diprotes saat edar di bioskop, kemudian menemukan penggemarnya sendiri di luar negeri. Filmnya masuk kategori cult, dirayakan dan dipuja.

Dalam sebuah diskusi yang saya hadiri tahun lalu di Kineforum Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, pengamat film Ekky Imanjaya menyebut publik luar negeri menyukai film-film kelas B Indonesia karena, "Mereka merayakan keanehan, eksotisme, dan otherness (kelainan)."

Dan memang demikian adanya, Lady Terminator menawarkan semua itu. Hal-hal yang tak ada di Terminator-nya Arnold Schwarzenegger bikinan Hollywood. (Ade/Fei)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Ferry NoviandiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan