Sukses Marmut Merah Jambu dan Raditya Dika Effect

Apa yang membuat banyak orang menonton film-film Raditya Dika?

Diterbitkan 13 Mei 2014, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Sejak ia masih kuliah di Australia dahulu di awal 2000-an--sebelum ia menerbitkan buku "Kambing Jantan" dan main versi film bukunya itu. Ketika kuliah di Australia dulu, Dika pertama kali belajar serius stand-up comedy. Beruntung di dekade kedua abad ke-21 ini, stand-up comedy mendadak jadi tren di Tanah Air.

Komedi jenis ini kemudian merangsek menjadi bagian dari budaya populer arus-utama, punya penggemar dan acara teve sendiri. Dika, yang sudah membekalli diri dengan ilmu stand-up comedy sejak jauh hari, kemudian menjadi "tokoh" dari tren baru ini. Konon, saking banyak comic--sebutan pelawak di ranah stand-up comedy—yang bergaya ngelawak mirip Raditya Dika sampai muncul istilah "Radit Style".

Sekali lagi, apa sih yang bikin Dika disukai?

Dika--yang di ranah Twitter punya follower hampir tujuh juta--disukai orang mungkin karena menggambarkan sosok orang kebanyakan. Kita tahu, orang suka bintang film karena melihat sesuatu yang lain, sosok yang lebih dari mereka: lebih ganteng, lebih cantik, dan lebih segalanya. Tapi ada kalanya terjadi sebuah anomali: yang disuka penonton karena memiliki kedekatan dengan mereka.

Raditya Dika memenuhi syarat itu. Ia tidak ganteng dan juga aktingnya pun biasa saja. Tapi dari situ penonton banyak yang jatuh cinta padanya. Lewat sosok Dika, penonton kebanyakan seolah menitipkan angan mereka, orang bertampang biasa juga bisa menjadi terkenal.

Demikianlah "Raditya Dika Effect" bekerja. (ade)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Ferry NoviandiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan