SHID Kantongi Pendapatan Rp 123,9 Miliar pada 2025

Pendapatan PT Hotel Sahid Jaya International Tbk (SHID) mayoritas berasal dari segmen F&B, disusul kamar hotel dan apartemen.

Diterbitkan 19 Juni 2026, 13:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Hotel Sahid Jaya International Tbk (SHID) membukukan pendapatan sebesar Rp 123,99 miliar sepanjang 2025. Capaian tersebut menurun 20,5% dibandingkan pendapatan 2024 yang mencapai Rp 155,9 miliar, tetapi masih lebih tinggi dibandingkan realisasi 2023 sebesar Rp 133,10 miliar.

"Pada tahun 2025 PT Hotel Sahid Jaya International membukukkan pendapatan sebesar Rp 123,9 miliar," kata Direktur PT Hotel Sahid Jaya International, Tbk, Dhanadi Kusuma Wardana Sukamdani, dalam Public Expose RUPST PT Hotel Sahid Jaya International Tbk, Jumat (19/6/2026).

Penurunan pendapatan tersebut turut menekan kinerja operasional dan profitabilitas perseroan. EBITDA SHID turun menjadi Rp 34,30 miliar pada tahun 2025 dari Rp 54,45 miliar pada 2024, sementara rugi bersih komprehensif meningkat menjadi Rp 26,47 miliar dibandingkan rugi Rp 12,69 miliar pada tahun 2024.

Berdasarkan komposisi pendapatan 2025, segmen Food and Beverage (F&B) menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 51,5% terhadap total pendapatan perseroan. Capaian tersebut menunjukkan bahwa bisnis makanan dan minuman masih menjadi mesin utama pendapatan SHID di tengah tantangan industri perhotelan.

Kontributor terbesar kedua berasal dari segmen kamar hotel yang menyumbang 35,5% terhadap total pendapatan. Sementara itu, segmen lain-lain memberikan kontribusi sebesar 12,3%, sedangkan apartemen menyumbang sekitar 0,7%.

Dominasi pendapatan F&B mengindikasikan aktivitas MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) serta layanan restoran masih menjadi sumber pendapatan yang relatif lebih stabil dibandingkan bisnis akomodasi.

 

Pendapatan Kamar Tertekan Akibat Turunnya Segmen Pemerintah

Perseroan juga mencatat perubahan signifikan dalam struktur pendapatan kamar sepanjang 2025. Kontribusi segmen pemerintah (government) terhadap pendapatan kamar turun tajam menjadi 50% dari sebelumnya 72% pada 2024.

Penurunan tersebut setara dengan 22 percentage point dan menjadi salah satu faktor utama melemahnya pendapatan kamar hotel selama tahun lalu. Sementara itu, kontribusi segmen corporate meningkat menjadi 15% dari sebelumnya 9%. Segmen direct channel juga naik menjadi 21% dari 9%, menunjukkan upaya perseroan memperkuat penjualan langsung kepada pelanggan.

Segmen individu turut meningkat menjadi 11% dari sebelumnya 5%, sedangkan kategori lainnya naik menjadi 3% dari 1%. Meski demikian, peningkatan kontribusi dari segmen corporate, direct channel, dan individu tersebut belum mampu sepenuhnya mengimbangi penurunan tajam dari segmen pemerintah yang selama ini menjadi penyumbang utama okupansi kamar.

Aset Meningkat, Liabilitas Ikut Membengkak

Dari sisi neraca, total aset SHID pada 2025 tercatat sebesar Rp 1,26 triliun, meningkat dibandingkan Rp 1,24 triliun pada 2024. Kenaikan aset terutama ditopang oleh renovasi kamar hotel serta penambahan armada mobil operasional. "Pada tahun 2025, Perseroan mencatatkan aset sebesar Rp 1,26 triliun meningkat dibanding tahun 2024," ujarnya.

Namun, peningkatan aset juga diikuti kenaikan liabilitas yang cukup signifikan. Total liabilitas perseroan melonjak menjadi Rp 546,23 miliar dari Rp 501,57 miliar pada tahun sebelumnya.

Kenaikan kewajiban tersebut terutama berasal dari utang kepada pihak berelasi yang digunakan untuk mendukung proyek renovasi kamar hotel, Meski demikian, beban keuangan yang meningkat akibat tambahan utang masih menjadi tantangan bagi perseroan dalam memperbaiki profitabilitas.

Â