Dampak Keluarnya 4 Saham Indonesia dari Indeks FTSE Russell

Pengamat pasar modal sebut pengeluaran saham DSSA cs dari FTSE memicu potensi penurunan likuiditas dan tekanan jual jangka pendek dari passive funds.

Diterbitkan 24 Mei 2026, 13:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Financial Times Stock Exchange (FTSE) Russell mengeluarkan empat saham Indonesia dari FTSE Global Equity Index Series pada June 2026 Quaterly Review.

Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai keluarnya empat saham yaitu DSSA, DAAZ, HILL, dan MLIA dari indeks FTSE lebih berdampak pada masing-masing saham dibanding terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara keseluruhan.

"Pengeluaran DSSA, DAAZ, HILL, dan MLIA dari indeks FTSE cenderung berdampak lebih besar pada saham individual dibanding keseluruhan IHSG," kata Reydi kepada Liputan6.com, Minggu (24/5/2026).

Menurut Reydi, dampak utama dari pengeluaran saham-saham tersebut adalah potensi tekanan jual jangka pendek dari passive funds serta penurunan likuiditas perdagangan.

"Dampak utamanya adalah potensi tekanan jual jangka pendek dari passive funds dan likuiditas yang turun," ujarnya.

Meski begitu, pengaruhnya terhadap pasar modal Indonesia dinilai tidak terlalu signifikan karena bobot kapitalisasi keempat saham tersebut tidak dominan dalam indeks.

"Namun, pengaruhnya ke pasar modal Indonesia tidak signifikan karena bobot kapitalisasi keempat saham itu tidak dominan terhadap indeks," jelasnya.

 

Investor Asing Diprediksi Semakin Selektif

Reydi menjelaskan, keputusan FTSE menjadi sinyal bahwa isu free float, likuiditas, dan struktur kepemilikan saham masih menjadi perhatian utama indeks global terhadap pasar Indonesia.

Ia menilai investor asing, khususnya institusi, ke depan akan lebih selektif dalam memilih saham dengan free float besar, transparansi tinggi, serta likuiditas yang kuat. Kondisi ini berpotensi membuat pasar lebih fokus pada saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps yang memenuhi standar indeks global.

"Investor asing terutama institusi akan semakin selektif memilih saham dengan free float besar, transparansi tinggi, dan likuiditas kuat. Jadi ke depan pasar kemungkinan lebih fokus ke saham-saham big caps yang memenuhi standar indeks global," ujarnya.

 

Reformasi Pasar Dinilai Perlu Dipercepat

Meski demikian, Reydi menilai prospek pasar saham Indonesia masih tetap menarik dalam jangka menengah. Namun momentum keluarnya sejumlah saham dari indeks FTSE dinilai menjadi sinyal penting bahwa reformasi pasar perlu terus dipercepat agar daya saing Bursa Indonesia tidak tertinggal.

Ia mengingatkan, apabila persoalan HSC dan free float tidak segera dibenahi, maka risiko berkurangnya aliran dana pasif asing ke pasar domestik masih dapat terjadi.

"Jika isu HSC dan free float tidak cepat dibenahi, risiko berkurangnya aliran dana pasif asing ke pasar domestik masih bisa terjadi," pungkasnya.

  • liputan6
    Saham adalah hak yang dimiliki orang (pemegang saham) terhadap perusahaan berkat penyerahan bagian modal sehingga dianggap berbagai dalam pe
    Saham
  • liputan6
    Analisis komprehensif ini membahas tren pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dampak rebalancing MSCI, rekomendasi saham terkini, pengertian dan komponen IHSG, serta faktor-faktor penggeraknya.
    Ihsg
  • FTSE
  • FTSE Russell
  • emiten
  • DSSA