Saham AMD Berpeluang Naik 60% pada 2026 Didorong Kebijakan Donald Trump

Saham Advanced Micro Devices (AMD) membukukan performa impresif sepanjang 2025 dengan kenaikan 78% hingga saat ini.

Diterbitkan 07 Januari 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Saham Advanced Micro Devices (AMD) membukukan performa impresif sepanjang 2025 dengan kenaikan 78% hingga saat ini. Meski demikian, dalam beberapa waktu terakhir terlihat aksi ambil untung oleh investor. 

Melansir Yahoo Finance, Rabu (7/1/2026), hal ini tercermin dari koreksi saham AMD yang turun 19% dari level tertinggi 52 minggu yang dicapai pada 29 Oktober. Koreksi tersebut berpotensi menjadi momentum akumulasi bagi investor yang ingin menambah kepemilikan saham perusahaan bertumbuh tinggi yang turut diuntungkan oleh ekspansi kecerdasan buatan (AI). 

Selain itu, kebijakan terbaru Presiden Donald Trump yang membuka kembali peluang bagi Nvidia (NVDA), AMD, dan Intel untuk menjual chip AI canggih ke pasar Tiongkok diperkirakan menjadi katalis tambahan bagi kinerja AMD pada 2026.

Berikut ulasan faktor pendorong utama AMD memasuki tahun mendatang dan alasan mengapa saham ini berpeluang kembali mencatat lonjakan signifikan.

Kebijakan pemerintahan Trump berpotensi menjadi katalis besar bagi AMD

Kinerja bisnis AMD menunjukkan pertumbuhan solid sepanjang 2025. Perusahaan diproyeksikan meraih pendapatan sekitar USD 34 miliar tahun ini, meningkat 31% dibandingkan 2024. 

Capaian tersebut sebetulnya berpotensi lebih tinggi jika AMD tidak menghadapi pembatasan penjualan chip ke Tiongkok sejak April, ketika pemerintahan Trump menerapkan kontrol ekspor terhadap chip AI pusat data berteknologi tinggi.

Kebijakan tersebut berdampak pada kerugian persediaan AMD sebesar USD 800 juta pada kuartal kedua. Selain itu, perusahaan kehilangan sebagian signifikan pendapatan, mengingat Tiongkok berkontribusi hampir seperempat dari total pendapatan AMD pada 2024 sebesar USD 25,8 miliar, atau sekitar USD 6,2 miliar.

Meski menghadapi tekanan tersebut, analis tetap memperkirakan laba AMD naik 20% pada 2025 menjadi USD 3,97 per saham. Konsensus pasar bahkan memproyeksikan lonjakan laba hingga 62% pada 2026 menjadi USD 6,46 per saham. Namun, potensi realisasi kinerja AMD dinilai bisa melampaui proyeksi tersebut.

 

Perbandingan

Sebagai perbandingan, pemerintahan Trump kini mengizinkan Nvidia menjual chip H200 ke Tiongkok. Sebelumnya, Nvidia hanya dapat memasarkan chip H20 dengan spesifikasi lebih rendah demi mematuhi regulasi ekspor. Chip H200 memiliki performa dan harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan H20.

Dengan kebijakan baru ini, Nvidia berpeluang mencatat pertumbuhan pendapatan signifikan pada tahun depan, meskipun harus menanggung tarif ekspor sebesar 25%. 

Presiden Trump juga menyatakan melalui Truth Social bahwa "pendekatan yang sama akan berlaku untuk AMD," yang mengindikasikan AMD berpotensi memperoleh perlakuan serupa dalam penjualan chip ke Tiongkok.

Sebelumnya, AMD hanya menjual prosesor MI308 dengan kemampuan terbatas ke pasar Tiongkok. Jika AMD kini dapat mengekspor chip dengan spesifikasi lebih tinggi, potensi pemulihan pendapatan dari kawasan tersebut pada 2026 menjadi terbuka, meski dikenakan tarif ekspor 25%.

Hal ini disebabkan GPU pusat data AMD versi penuh memiliki harga jual yang jauh lebih tinggi dibandingkan MI308 yang telah dipangkas performanya. Faktor inilah yang membuat potensi pendapatan AMD tahun depan dinilai bisa melampaui estimasi saat ini.

 

Saham AMD berpotensi melonjak tajam pada 2026

Analis memperkirakan pendapatan AMD akan tumbuh 31% pada 2026 menjadi USD 44,6 miliar. Apabila kontribusi pendapatan dari Tiongkok kembali ke level 2024 sebesar USD 6,2 miliar, maka total pendapatan AMD berpeluang mencapai sekitar USD 51 miliar. 

Perlu dicatat, proyeksi analis saat ini belum sepenuhnya memasukkan dampak perubahan kebijakan pemerintahan Trump, sehingga potensi kontribusi dari pasar Tiongkok masih belum tercermin secara menyeluruh.

Jika AMD mampu mencatat pendapatan USD 51 miliar dan mempertahankan rasio harga terhadap penjualan (price-to-sales) di level 11, kapitalisasi pasarnya berpotensi meningkat menjadi sekitar USD 561 miliar. 

Angka tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 60% dari posisi saat ini. Dengan demikian, pelemahan harga saham belakangan ini dinilai sebagai peluang menarik untuk masuk, mengingat prospek lonjakan signifikan yang berpotensi terjadi pada 2026.Â