Pasar Prediksi Penurunan Suku Bunga The Fed Lebih Kecil pada 2026

Berikut prospek suku bunga the Federal Reserve (the Fed), obligasi dan saham pada 2026.

Diterbitkan 03 Januari 2026, 12:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street mengalami pergeseran bertahap dari tema sektor teknologi ke sektor lain seperti sektor keuangan dan perawatan kesehatan. Selain itu, kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) soal suku bunga pada 2026 menjadi katalis di pasar.

Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru dirilis di mana nada keseluruhan untuk lebih banyak pemangkasan suku bunga. Namun, terdapat perbedaan pendapat yang terus menerus di antara pembuat kebijakan mengenai risiko inflasi dan pengangguran yang juga memengaruhi pandangan masing-masing anggota mengenai besarnya pemotongan suku bunga pada 2025.

Proyeksi ekonomi terbaru dari the Federal Reserve (the Fed) menunjukkan pertumbuhan yang lebih optimistis pada 2026 yang mengarah pada pemotongan suku bunga lebih moderat.

"Masih ada peluang untuk pemangkasan suku bunga lebih besar jika ada koreksi di pasar tenaga kerja AS,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore Asset Management Indonesia.

Selain itu,  sentimen global terhadap risiko beragam karena emas telah mengalami reli yang kuat pada 2025, di mana perak juga bertahap mengikutinya, di mana masing-masing logam mulia mencapai titik tertinggi baru sebelum merosot.

Suku Bunga AS

Tahun lalu, suku bunga di AS tetap tinggi di mana lingkungan masih sangat fluktuatif dan mendorong sikap yang lebih hati-hati sehingga menunjukkan the Fed tidak terburu-burut untuk memangkas suku bunga meski tetap berada pada tingkat yang tinggi secara historis.

Indonesia mengalami kondisi serupa dengan suku bunga tinggi dan Bank Indonesia mempertahankan sikap lebih defensive dengan fokus pada stabilitas. Selain itu, masih ada risiko suku bunga tinggi dalam waktu lama secara global pada awal 2025, tetapi kekhawatiran telah bergeser sejak tahun lalu ke arah ketidakpastian mengenai laju dan besarnya penurunan suku bunga ke depan.

"Dengan menegaskan ada perpecahan di the Fed dan prospek keseluruhan yang lebih optimis, pasar memperkirakan penurunan suku bunga lebih kecil di AS untuk 2026 dibandingkan 2025,” demikian seperti dikutip.

 

Sentimen Domestik

Untuk Indonesia, suku bunga telah turun lebih cepat daripada di Amerika Serikat, di mana lajunya melambat menjelang akhir tahun. Ashmore menilai hal itu seiring bank sentral lebih berhati-hati terhadap kekuatan mata uang dan transmisi suku bunga yang tertunda ke ekonomi riil.

Ekonom masih memperkirakan penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI) sejalan dengan the Fed sekitar 50 basis poin (bps) pada 2026. Adapun faktor utama yang mempengaruhi dalam jangka pendek yakni volatilitas mata uang yang dapat memicu reaksi dari bank sentral.

“Namun, dukungan kebijakan menjadi lebih penting tahun ini untuk mendukung rupiah dari inisiatif seperti kerangka kerja yang lebih ketat untuk devisa hasil ekspor (DHE) serta insentif dari bank sentral untuk mempercepat transmisi penurunan suku bunga, deposito dan pinjaman bank,” demikian seperti dikutip.

Selain itu, pada 2025, reli yang kuat untuk instrumen pendapatan tetap yang didukung oleh pemangkasan suku bunga lebih besar, terutama untuk obligasi tenor pendek.

 

Prospek Saham dan Obligasi

“Tahun 2026 dapat melihat pergeseran yang berbeda dengan ruang yang relatif lebih besar bagi suku bunga deposito dan pinjaman untuk menurun dengan dorongan kebijakan dan insentif yang lebih kuat, sementara imbal hasil obligasi dapat melihat ruang yang lebih terbatas terutama untuk obligasi tenor pendek,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.

Pada 2025, Bank Indonesia (BI) memotong suku bunga sebesar 125 bps sementara deposito 1 bulan turun sebesar 67 bps hingga November YTD. Dorongan yang lebih kuat untuk menurunkan suku bunga deposito dan pinjaman dapat lebih bermanfaat bagi ekuitas Indonesia karena aktivitas bisnis dan investasi dapat meningkat dalam lingkungan suku bunga yang lebih rendah.

“Kami tetap optimis terhadap obligasi pemerintah Indonesia jangka panjang karena premi jangka waktu membaik, tetapi lebih memilih untuk menambah eksposur pada saham berkualitas tinggi karena laba untuk tahun 2026 diperkirakan tumbuh sekitar 10-12%,”