Meneropong Prospek Reksa Dana pada 2026

Berikut prospek produk reksa dana yang menjadi pilihan pada 2026.

Diterbitkan 01 Januari 2026, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Memasuki 2026, salah satu hal yang menjadi resolusi untuk dapat diwujudkan mengenai resolusi keuangan. Seiring hal itu, salah satu portofolio investasi yang menjadi perhatian reksa dana. Bagaimana prospek reksa dana pada 2026?

PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat pertumbuhan pertumbuhan pada industri reksa dana sepanjang 2025. Nilai asset under management (AUM) agtau dana kelolaan reksa dana tercatat meningkat 23% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi Rp 996 triliun per 24 Desember 2025.

Kenaikan AUM tersebut sejalan dengan meningkatnya jumlah investor reksa dana di Indonesia. KSEI mencatat jumlah investor reksa dana mencapai 19,17 juta SID pada akhir 2025, tumbuh 37% dibandingkan posisi 2024 yang sebanyak 14,03 juta investor. Pertumbuhan ini mencerminkan minat masyarakat yang semakin besar terhadap produk investasi berbasis reksa dana.

Dari sisi produk, jumlah reksa dana dan instrumen investasi lain yang tercatat di KSEI mencapai 2.317 produk, meningkat sekitar 2% dibandingkan tahun sebelumnya. Penambahan produk ini turut memperluas pilihan investasi bagi investor ritel maupun institusi.

Lalu bagaimana prospek reksa dana pada 2026?

Fund Manager Syailendra Capital Rendy Wijaya menuturkan, sentimen global positif akan didorong dari potensi penurunan suku bunga acuan pada 2026. Hal ini berdampak positif untuk reksa dana.

“Investasi pada reksa dana masih memiliki prospek yang positif pada 2026,” ujar Rendy kepada Liputan6.com.

Ia mengatakan, di tengah penurunan tingkat suku bunga yang masih terus berlanjut ada jenis reksa dana yang berpotensi mendapatkan katalis positif. Pertama, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) terutama reksa dana pendapatan tetap yang didominasi oleh obligasi pemerintah.

“Salah satunya adalah Syailendra Fixed Income Fund (SFIF) yang mengalokasikan 94,5% dana ke Obligasi Pemerintah dan berhasil mencetak imbal hasil sebesar 9,51% dalam 1Y terakhir,” ujar dia.

 

Prospek Reksa Dana

Ia menambahkan, investor dapat memanfaatkan kesempatan di obligasi korporasi yang lebih solid di tengah penurunan suku bunga.

"Salah satunya adalah Syailendra Pendapatan Tetap Premium (SPTP) maupun Syailendra Pendapatan Total Return (SPTR-A) yang dibekali dengan fitur dividen dan mengalokasikan 70% dana ke obligasi korporasi,” kata dia.

Kedua, reksa dana saham. Rendy menuturkan, reksa dana saham menjadi pilihan didorong kondisi dividen dan earnings yield melebihi bond yield sehingga instrument saham lebih atraktif dibandingkan obligasi.

"Salah satu produk Syailendra yang layak diperhatikan investor adalah Syailendra Alpha Focus Equity Fund (SAFE) dan Syailendra Equity Oppurtunity Fund (SEOF) yang dikelola secara aktif dan berhasil mencetak imbal hasil lebih dari 20 persen dalam setahun,” ujar dia.

 

Pasar Obligasi

Terkait prospek obligasi pada 2026, Rendy mengatakan, peningkatan pertumbuhan ekonomi domestik dan juga sentimen positif dari pasar global di tengah penurunan tingkat suku bunga acuan oleh berbagai bank sentrla juga dapat memberikan dampak positif bagi pasar obligasi pada 2026.

Untuk instrumen obligasi sejumlah hal yang perlu diperhatikan yakni tren suku bunga ke depan. Selain itu, defisit fiskal ke depan yang berpengaruh terhadap kebutuhan pembiayaan program pemerintah dan juga stabilitas nilai tukar rupiah ke depan.