BFI Finance Belum Putuskan Aksi Buyback Saham Lanjutan

Manajemen BFI Finance Indonesia (BFIN) menanggapi mengenai rencana pembelian kembali atau buyback saham BFIN.

Diterbitkan 28 November 2025, 19:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) masih menimbang rencana buyback saham selanjutnya setelah program sebelumnya berakhir pada 31 Oktober 2025. Direktur Keuangan BFIN, Sudjono, menyampaikan keputusan belum diambil soal buyback saham karena perusahaan menunggu kondisi pasar yang tepat.

"Jadi terus terang untuk buyback kami belum putuskan karena buyback yang kemarin itu baru berakhir di 31 Oktober 2025,” ujar Sudjono dalam Public Expose, Jumat (28/11/2025).

Ia menuturkan, buyback hanya akan dieksekusi bila mekanisme jual-beli saham di pasar menunjukkan ketidakseimbangan yang dapat menekan harga secara tidak wajar. Menurut dia, perusahaan akan mempertimbangkan langkah tersebut apabila terjadi kondisi pasar yang tidak normal.

"Jadi apakah kami akan melakukan buyback atau tidak itu tergantung beberapa pertimbangannya. Yang pertama tentunya apakah saham BFI itu secara trading-nya itu balance ga? artinya ada yang mau jual, ada yang mau beli,” jelas Sudjono.

Sudjono menegaskan, selama transaksi berjalan normal dan tidak ada gangguan signifikan yang menyebabkan harga saham tertekan, BFIN memilih untuk tidak melakukan intervensi agar likuiditas pasar tetap terjaga. Perusahaan menyerahkan pembentukan harga pada mekanisme pasar yang sehat.

Sebelumnya, BFIN melaporkan perkembangan pelaksanaan program buyback senilai Rp 500 miliar yang dijalankan saat pasar bergejolak signifikan. Program tersebut berlangsung bertahap sejak 29 Agustus hingga 6 Oktober 2025, dengan periode pelaksanaan resmi dari 4 Agustus sampai 31 Oktober 2025. 

Berdasarkan laporan perusahaan, BFIN telah membeli 73.615.100 saham dengan harga rata-rata Rp 773,1 per lembar, menyerap dana sekitar Rp 57,33 miliar. Dengan demikian, masih terdapat sisa dana buyback sekitar Rp 443,52 miliar. 

Aktivitas pembelian terbesar tercatat pada 1 Oktober 2025, mencapai 18,67 juta saham di harga rata-rata Rp 764,9 per saham.

Penutupan perdagangan saham Jumat, 28 November 2025, harga saham BFIN melemah 0,66% ke posisi Rp 750 per saham. Harga saham BFIN dibuka naik lima poin ke posisi Rp 760 per saham. Total frekuensi perdagangan 1.095 kali dengan volume perdagangan saham 148.711 saham. Nilai transaksi Rp 11,3 miliar.

BFI Finance Beri Bocoran Soal Pembagian Dividen Interim

Sebelumnya, PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) mengungkapkan akan melakukan pembagian dividen interim tahun ini, sementara nilai dividen final dan payout ratio masih menunggu keputusan pemegang saham. Direktur Keuangan BFI Finance Indonesia, Sudjono, mengatakan kebijakan dividen perseroan tetap mengikuti pola beberapa tahun terakhir.

Sudjono menjelaskan penentuan besaran dividen final baru dapat dilakukan setelah proses audit laporan keuangan tahunan rampung dan sebelum RUPS yang lazim digelar pada April atau Mei.

“Tapi kalau mengenai apakah ada dividen interim, jawabannya iya,” kata Sudjono dalam Public Expose, Jumat (28/11/2025).

Ia menambahkan, dalam tiga tahun terakhir, dividen interim BFIN berada di kisaran Rp 28 per saham. Nilai final dividend belum bisa dipastikan hingga audit selesai.

“Kami biasanya dalam beberapa tahun terakhir itu membagikan interim dividend dan, besarnya jumlah interim dividend yang kami bagikan itu sebagai acuan,” ujarnya.

 

Keputusan Dividen

Mengenai dividend payout ratio, Sudjono menyampaikan keputusan akhir tetap berada pada pemegang saham. Ia mengingatkan tahun lalu BFIN telah menaikkan payout ratio hingga mendekati 60% dan berharap level tersebut dapat dipertahankan atau ditingkatkan.

Sebagai panduan, BFIN memiliki batas atas payout ratio hingga 75%, namun tetap menunggu persetujuan pemegang saham.

Pada penutupan perdagangan saham Jumat, 28 November 2025, harga saham BFIN turun 0,66% ke posisi Rp 750 per saham. Harga saham BFIN dibuka naik lima poin ke posisi Rp 760 per saham. Saham BFIN berada di level tertinggi Rp 760 dan terendah Rp 750 per saham. Total frekuensi perdagangan 1.095 kali dengan volume perdagangan 148.711 saham. Nilai transaksi Rp 11,3 miliar.