Pasca Kemarau Panjang, HGII Pede Capai Target Kinerja Semester II 2025

Pada semester I 2025 HGII membukukan pendapatan sebesar Rp 35,6 miliar.

Diterbitkan 16 September 2025, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta PT Hero Global Investment Tbk (HGII), emiten energi terbarukan berbasis pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM), optimistis meraih target kinerja Semester II 2025, dengan datangnya curah hujan di wilayah hulu aliran sungai penggerak pembangkit. Faktor cuaca merupakan salah satu indikator keberlangsungan pasokan air yang menjadi sumber tenaga penghasil listrik dari teknologi berbasis hidro.

Berdasarkan informasi Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan, wilayah Sumatera Utara diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada September 2025.

Kondisi ini diproyeksikan meningkatkan pasokan air bagi pembangkit listrik tenaga air yang dikelola perseroan. Kemarau panjang melanda Sumatra Utara di lokasi PLTM Parmonangan 1 dan PLTM Parmonangan 2. Keduanya di wilayah Tapanuli Utara, masing-masing dikelola anak usaha HGII yaitu PT Seluma Clean Energy (SCE) dan PT Bina Godang Energi (BGE).

Berdasarkan keterangan Kepala BBMKG Wilayah 1 Hendro Nugroho, puncak musim kemarau Juli-Agustus segera berakhir, berganti musim hujan yang diperkirakan September ini. Sebagaimana diketahui, kemarau di Sumatra Utara berlangsung panjang pada separuh tahun ini.

Masyarakat setempat di Desa Manalu Dolok, Kecamatan Parmonangan, Kabupaten Tapanuli Utara menyatakan ini sebagai kemarau terpanjang dalam 9 tahun terakhir.

“Musim hujan akan memperbaiki faktor produksi kami, sehingga kinerja Semester II diharapkan lebih kuat dengan dukungan potensi hidro di Sumatera yang sangat besar,” jelas Direktur Utama HGII Robin Sunyoto, Selasa (16/9/2025).

 

Pendapatan

Pada semester I 2025 HGII membukukan pendapatan sebesar Rp 35,6 miliar. Seiring kondisi iklim yang mendukung, HGII optimis pada semester II 2025 dapat melampaui capaian pendapatan pada semester I 2025 yang didorong peningkatan produksi listrik.

Meski sepanjang Januari–Juli 2025 produksi listrik PLTM Parmonangan 1 dan 2 sempat turun masing-masing 12,9% dan 14,9% dibanding periode sama tahun lalu, dengan berakhirnya musim kemarau tiga bulan lebih panjang pada tahun ini, HGII meyakini tren akan berbalik positif.

“Dengan perubahan cuaca menjadi musim hujan dimulai September ini, kinerja produksi listrik tenaga minihidro kita, dapat kembali pada performansi ideal,” jelas Robin.

Mengacu pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, kawasan Sumatra memiliki potensi energi hidro terbesar di Indonesia. Demikian pula dalam pemanfaatan www.heroglobalinvestment.com energi baru terbarukan (EBT) sekitar 47% wilayah di pulau ini telah menggunakan EBT sebagai sumber listrik.

 

Potensi Hidro

Namun secara nasional pemanfaatan potensi hidro baru mencapai sekitar 6%. Selain memaksimalkan potensi energi air, HGII tengah mempertimbangkan rencana ekspansi ke sektor energi dari sampah (waste-to-energy/WtE). Langkah ini sejalan dengan program pemerintah dalam mengurangi timbunan sampah kota sekaligus meningkatkan bauran energi baru terbarukan di Indonesia.

“Kami melihat WtE berpotensi besar, baik secara komersial maupun sebagai solusi untuk lingkungan. Saat ini kami sedang dalam tahap pembahasan internal mengenai proyek WtE,” pungkas Robin.

Kehadiran inisiatif baru di sektor energi terbarukan dapat memperkuat posisi HGII sebagai perusahaan energi hijau dengan portofolio yang lebih beragam, sekaligus membuka peluang pertumbuhan pendapatan yang lebih berkelanjutan di masa depan.