Cerita Pendiri Produsen Kamera Insta360 yang Jadi Miliarder Usai IPO

IPO produsen kamera Insta360 yakni Arashi Vision di Bursa Efek Shanghai membuat Liu Jinkang (JK) jadi miliarder.

Diterbitkan 12 Agustus 2025, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) produsen kamera Arashi Vision yang berkantor di pusat Shenzhen ini mendorong pendirinya Liu Jingkang (33) menjadi seorang miliarder.

Mengutip Forbes, ditulis Selasa (12/8/2025), saham produsen kamera China yakni Insta360 melonjak hampir empat kali lipat saat debut perdana di Bursa Efek Shanghai. Hal itu menjadikan valuasi perusahaan sekitar 71 miliar yuan atau USD 9,9 miliar. Valuasi tersebut setara Rp 161,36 triliun (asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.299).

Seiring IPO Arashi Vision itu juga yang mendorong Liu Jingkang menjadi miliarder. Arashi Vision  meraup dana 1,94 miliar atau USD 270 juta (Rp 4,4 triliun) saat debut di Science and Technology Innovation Board (STAR Market) di Bursa Efek Shanghai pada 11 Juni 2025.

Harga saham Arashi Vision dibuka 182 yuan, 285% di atas harga IPO di posisi 47,27 yuan, dan mencapai puncaknya hampir 188 yuan sebelum ditutup pada 177 yuan.

Ini adalah pencatatan terbesar di STAR Market tahun ini. Hasil dana IPO akan dipakai untuk mendukung penelitian dan pengembangan pada masa mendatang.

Liu Jingkang yang merupakan lulusan ilmu komputer dari Universitas Nanjing yang biasa dipanggil JK mendirikan Insta360 pada 2015 dan masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30 Asia pada 2017.

Berdasarkan kepemilikan saham Liu sekitar 26,8% di perusahaan tersebut, termasuk saham yang dipegang istrinya, Forbes prediksi kekayaan bersihnya mencapai USD 2,7 miliar atau Rp 43,98 triliun.

“10 tahun lalu, kami meninggalkan asrama Universitas Nanjing dengan sumber daya yang sangat terbatas dan impian yang sangat besar,” ujar Liu Jingkang saat pidatonya di pencatatan Insta360 di Shanghai.

“10 tahun berlalu, dan perangkat unggulan kami telah berkembang dari ONE X menjadi X5, semakin jauh kami melangkah, semakin jelas visi awal kami,” ia menambahkan.

Menawarkan beragam produk pencitraan konsumen, Insta360 telah mendapatkan daya tarik di kalangan videografer dan kreator konten di seluruh dunia.

Produk-produknya meliputi seri kamera aksi 360 derajat seri 'X', yang mampu merekam video sferis beresolusi tinggi, dan seri 'Go', kamera aksi ringkas dan ringan. Pada 2024, perusahaan mencapai pendapatan 5,6 miliar yuan (USD 779,9 juta atau Rp 12,7 triliun), naik 53,3% dari tahun ke tahun, dan laba 994,7 juta yuan, naik 19,9% dari tahun ke tahun.

 

Kontributor Pertumbuhan

Pendorong pertumbuhan pesat Insta360 adalah penjualan domestik yang kuat dan ekspansi internasional di pasar-pasar utama seperti Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Jepang.

Tahun lalu, 76% pendapatannya berasal dari penjualan luar negeri, menurut prospektusnya, dengan penjualan sebesar 1,3 miliar yuan hanya dari AS. Perusahaan ini menyatakan memiliki 2.000 karyawan di seluruh dunia yang berkantor di China, AS, Jepang, dan Jerman.

Sebelum debutnya, Insta360 telah didukung oleh Qiming Venture Partners, investor awal di produsen ponsel pintar dan kendaraan listrik Tiongkok, Xiaomi, dan raksasa pengiriman makanan, Meituan; IDG Capital Partners, yang mitranya dalam daftar Forbes Midas antara lain Young Guo dan Meng Lian; raksasa teknologi yang terdaftar di Nasdaq, Xunlei; dan peritel terkemuka Tiongkok, Suning Holdings Group.

Dijuluki "raksasa kecil" oleh media pemerintah China karena statusnya sebagai perusahaan teknologi yang sedang naik daun, produsen kamera ini mengumpulkan USD 30 juta atau Rp 488,6 miliar dalam putaran pendanaan 2019, yang mencakup partisipasi dari perusahaan investasi Tiongkok, Everest Venture Capital, MG Holdings, dan Huajin Capital.

Tantangan Perseroan

Ke depannya, Insta360 mungkin menghadapi tantangan besar dari ancaman perang dagang AS-China. Perusahaan mencatat dalam prospektusnya "ketidakpastian perkembangan bisnis luar negeri perusahaan telah meningkat," mengutip perubahan sikap Gedung Putih terkait tarif sejak Februari.

Perusahaan mungkin juga perlu menavigasi pesaing di bidang elektronik konsumen. Insta360 menyatakan pesaingnya termasuk GoPro yang terdaftar di Nasdaq dan DJI milik miliarder Frank Wang yang berkantor pusat di Shenzhen, yang berspesialisasi dalam drone tetapi juga menjual kamera aksi.

Pada 2024, Komisi Perdagangan Internasional AS mengumumkan akan menyelidiki pengaduan yang diajukan GoPro terhadap Insta360 atas dugaan pelanggaran paten, meskipun hasil investigasi ini belum dipublikasikan.