NICL Cetak Laba Bersih Naik Lebih dari 300% di Tengah Tekanan Pasar!

Direktur Utama NICL, Ruddy Tjanaka, menjelaskan bahwa perusahaan telah mempersiapkan langkah antisipatif terhadap fluktuasi harga nikel sejak awal tahun.

Diterbitkan 21 Juli 2025, 12:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT PAM Mineral Tbk (NICL), perusahaan tambang yang dimiliki oleh Christopher Sumasto Tjia, berhasil mencatatkan kinerja cemerlang sepanjang semester pertama tahun 2025. Pendapatan NICL melonjak tajam hingga 152,07% YoY, dari sebelumnya Rp419,19 miliar menjadi Rp1,05 triliun.

Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan signifikan volume penjualan nikel dari 707.597 metrik ton (mt) menjadi 1.885.433 mt, atau naik 166,46% dibanding periode yang sama tahun lalu. Efisiensi biaya yang dilakukan turut memperkuat kinerja keuangan perusahaan.

Seiring peningkatan penjualan, laba kotor perusahaan melonjak hingga 266,43% dari Rp142,85 miliar menjadi Rp523,46 miliar. Marjin laba kotor pun terdongkrak, dari 34,08% menjadi 49,54%.

Kinerja positif ini juga tercermin dalam laba usaha yang melesat 419,32% YoY, dari Rp87,87 miliar menjadi Rp456,30 miliar. Sementara itu, laba bersih (laba neto) periode berjalan tercatat sebesar Rp358,07 miliar, atau naik signifikan 386,51% dari semester pertama tahun lalu yang sebesar Rp73,59 miliar.

Strategi Antisipatif Hadapi Harga Nikel

Direktur Utama NICL, Ruddy Tjanaka, menjelaskan bahwa perusahaan telah mempersiapkan langkah antisipatif terhadap fluktuasi harga nikel sejak awal tahun.

“Sejak akhir tahun 2024, harga acuan nikel domestik mengalami penurunan sebesar 3,80% sejalan dengan tren global dan euforia pasar kendaraan listrik yang mulai normal serta meningkatnya permintaan baja stainless steel. Kami melihat bahwa penurunan harga nikel tersebut merupakan koreksi positif dan sudah diprediksi oleh perseroan," ujar Ruddy dalam keterangan resmi, dikutip Senin (21/7/2025).

Ia menambahkan meskipun pasar global masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, NICL tetap optimistis dan puas atas kinerja semester pertama 2025.

“Di tengah situasi geopolitik global yang belum stabil dan turut berdampak pada perekonomian dalam negeri, kami tetap merasa puas dengan kinerja operasional dan keuangan Perseroan pada kuartal kedua 2025,” tambahnya.

 

Posisi Keuangan Kuat dan Sehat

Dari sisi neraca, total aset NICL per Juni 2025 tumbuh 4,73% menjadi Rp1,09 triliun dari Rp1,05 triliun di akhir 2024. Sementara itu, liabilitas turun dari Rp171,92 miliar menjadi Rp150,69 miliar, dan perusahaan tidak memiliki utang bank jangka panjang.

Total ekuitas naik dari Rp878,18 miliar menjadi Rp949,13 miliar, terutama karena peningkatan saldo laba tahun berjalan yang signifikan. Secara keseluruhan, NICL menunjukkan kondisi keuangan yang kuat dan sehat.

 

Komitmen Dividen dan Ekspansi Strategis

NICL juga menunjukkan komitmennya dalam membagikan dividen kepada pemegang saham. Untuk periode buku hingga 31 Maret 2025, perusahaan telah membagikan dividen interim sebesar Rp159,53 miliar, atau 82,60% dari laba bersih.

“Secara historis, Perseroan selalu membagikan dividen dan di tahun ini Perseroan juga telah membagikan dividen interim... Kedepannya, Perseroan berkomitmen untuk melakukan pembagian dividen kembali kepada pemegang saham yang besarannya akan menyesuaikan dengan persetujuan RUPS,” tutur Ruddy.

Meski harga nikel diprediksi tetap berfluktuasi akibat kebijakan dagang AS dan kelebihan pasokan global, NICL melihat peluang besar dari kondisi geopolitik, khususnya tensi antara China dan negara-negara barat. Indonesia bisa menjadi alternatif pasokan logam penting, dan NICL siap mengambil peran strategis tersebut.

 

Perluas Pasar dan Cari Mitra Strategis

Untuk menghadapi pasar domestik yang semakin kompetitif, NICL memperluas jaringan pemasaran ke wilayah-wilayah baru seperti Pulau Obi dan Halmahera, selain Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah.

Selain itu, perusahaan juga menjajaki kerja sama dengan berbagai smelter dan trader serta membuka peluang untuk bermitra secara strategis dalam rangka memperkuat pengembangan bisnis ke depan.