Masih Rugi, Pengelola Bus Lorena Absen Dividen

PT Eka Sari Lorena Transport Tbk (LRNA) memutuskan tidak ada pembagian dividen untuk tahun buku 2024. Keputusan itu telah disepakati dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perseroan yang diselenggarakan hari ini, Kamis 26 Juni 2025.

Diperbarui 26 Juni 2025, 15:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta PT Eka Sari Lorena Transport Tbk (LRNA) memutuskan tidak ada pembagian dividen untuk tahun buku 2024. Keputusan itu telah disepakati dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perseroan yang diselenggarakan hari ini, Kamis 26 Juni 2025.

"Kebijakan dividen tidak diberlakukan pada tahun ini," kata Direktur PT Eka Sari Lorena Transport Tbk, Rianta Soerbakti dalam paparan publik usai RUPS, Kamis (26/6/2025).

Rianta menjelaskan, kebijakan dividen yang diberlakukan perseroan mengacu pada raihan laba bersih tahun buku berjalan. Rinciannya, laba bersih setelah pajak di bawah Rp 25 miliar, maka dividennya 15%. Kamudian laba bersih Rp 25 miliar sampai dengan Rp 50 miliar, dividen diberikan 20%. Laba di atas Rp 50 miliar, maka dividen yang akan dibagikan adalah 25% laba.

Sementara, pada tahun buku 2024 perseroan masih membukukan rugi Rp 16,7 miliar. Rugi itu bahkan lebih tinggi dibandingkan rugi pada tahun buku 2023 yang tercatat sebesar Rp 777,2 juta.

Kinerja 2024

Di tengah tantangan eksternal dan ketatnya persaingan, LRNA membukukan penurunan pendapatan sebesar 12,93% menjadi Rp 80,93 miliar sepanjang 2024, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 92,95 miliar.

Kontribusi pendapatan terbesar berasal dari segmen AKAP sebesar Rp 62,23 miliar, diikuti shuttle bus senilai Rp 14,22 miliar, bus bandara Rp 2,47 miliar, serta AKAP dengan jarak pendek senilai Rp 1,98 miliar.

 

 

Aset Perseroan

Rianta mengungkapkan, aset Perseroan turun 6,73% menjadi Rp 334,6 miliar dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 358,76 miliar. Sementara ekuitas terkoreksi 5,44% menjadi Rp 289,87 miliar dari periode sama tahun sebelumnya Rp 306,57 miliar.

Liabilitas tercatat menurun 14,27% menjadi Rp 44,73 miliar dibandingkan periode sama 2023 sebesar Rp 52,18 miliar. Perseroan menyoroti semakin padatnya pasar AKAP oleh pemain baru serta kurangnya regulasi yang melindungi operator lama sebagai penyebab menurunnya kinerja. Perang tarif dan banyaknya angkutan ilegal membuat industri ini tidak sehat. Penertiban pun masih lemah.

“Sebagai langkah efisiensi, Perseroan menutup rute-rute yang tak lagi menguntungkan, memperkuat layanan komuter dan meningkatkan keikutsertaan dalam tender jasa sewa bus," kata Rianta.

Perseroan juga terus memperluas implementasi sistem pembayaran nontunai (Cashless Payment Method) untuk meningkatkan transparansi dan kontrol keuangan. Setiap akhir tahun, kami evaluasi strategi dan langsung ambil kebijakan bila ada kendala yang muncul di tengah jalan," imbuh dia.

 

 

Era Digital

Rianta Soerbakti menyebutkan, era digital menuntut perusahaan beradaptasi melalui teknologi kolaboratif agar bisa saling melengkapi dengan mitra strategis. “Kita bisa melakukan teknologi kolaborasi dengan partner sehingga saling menguntungkan dan meringankan beban perusahaan,” ujar Rianta.

Perseroan juga menargetkan peremajaan armada dengan mengadopsi kendaraan listrik. Meski diakui masih terdapat tantangan seperti keterbatasan infrastruktur pengisian daya dan bengkel perawatan di rute jarak jauh. Rianta memaparkan pula, langkah ini penting untuk efisiensi biaya operasional.

“Ini jadi target kami di 2025 dan ke depan. Tapi tentu butuh peran aktif dari Pemerintah," kata dia. Saat ini, Perseroan mengoperasikan bus listrik untuk mendukung program akselerasi ekosistem transportasi publik berbasis listrik yang digagas Kementerian Perhubungan dan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek.

Perseroan, tidak hanya bergantung pada layanan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), LRNA juga terus memperkuat lini bisnis lain seperti Airport Connexion (JAC), Trans Jabodetabek Reguler (TJR), Jabodetabek Residence Connexion (JRC), dan jasa sewa bus jangka panjang. “Kami perkuat layanan komuter dan renta, karena AKAP makin ketat dan kompetisinya tidak sehat,” jelas Rianta menambahkan.

Perseroan juga berencana untuk meluncurkan layanan cargo/pengiriman barang yang berkolaborasi dengan ESL Express yang merupakan “sister company” perusahaan.