Saham-Saham Ini Bakal Menguat Setelah Libur Idul Adha 2025

Momen Idul Adha 2025 akan berdampak jangka pendek dan terhadap sektor saham tertentu. Berikut ulasannya.

Diperbarui 07 Juni 2025, 12:42 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perayaan Idul Adha 2025 diperkirakan tetap mendorong aktivitas konsumsi masyarakat, terutama karena bertepatan dengan akhir pekan dan hari libur panjang.

Momentum ini lazim dimanfaatkan masyarakat untuk berkumpul bersama keluarga, melakukan perjalanan, hingga menggelar acara makan bersama. Dampak langsungnya terlihat pada sektor-sektor seperti transportasi, makanan dan minuman, serta ritel.

Namun, penting dicatat dorongan konsumsi pada Idul Adha tidak sekuat saat Idul Fitri. Selain karena sifat hari rayanya yang lebih sederhana, pelemahan ekonomi nasional juga turut menekan daya beli masyarakat. Data terbaru menunjukkan pertumbuhan PDB Indonesia turun dari 5,02% menjadi 4,87%, angka terendah sejak 2023.

“Penurunan kelas menengah sebesar 20% akibat minimnya lapangan kerja formal dan dominasi sektor berupah rendah menggerus konsumsi domestik,” ulas Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam risetnya, dikutip Sabtu (7/6/2025).

Maka, aktivitas ekonomi meningkat sesaat, dampaknya kemungkinan hanya terasa dalam jangka pendek dan terbatas pada sektor tertentu.

Saham Transportasi dan Tol Paling Diuntungkan

Sektor transportasi termasuk yang paling diuntungkan dari momen Idul Adha. Berdasarkan data 2024, terjadi lonjakan penggunaan kendaraan pribadi sebesar 63,6% di Jakarta selama libur Idul Adha, seluruhnya untuk perjalanan domestik. Tren serupa diperkirakan terulang tahun ini seiring meningkatnya mobilitas masyarakat.

Salah satu emiten yang patut diperhatikan adalah PT Jasa Marga Tbk (JSMR). Perusahaan operator jalan tol ini berpeluang mencatat peningkatan volume lalu lintas harian rata-rata (VLLR), meskipun tidak sebesar saat Idul Fitri atau libur nasional panjang. Saham JSMR bisa mendapatkan sentimen positif dalam periode pendek usai libur Idul Adha.

“Lalu lintas jalan tol biasanya meningkat menjelang dan selama Idul Adha, terutama dari kawasan perkotaan ke daerah sekitar untuk perjalanan jarak pendek,” ungkap Liza. Meski terbatas, pergerakan ini tetap bisa memberi kontribusi terhadap kinerja keuangan JSMR di kuartal berjalan.

 

Produk Herbal dan Personal Care Ikut Terangkat

Pola konsumsi masyarakat selama Idul Adha juga berpotensi mendongkrak permintaan terhadap produk herbal dan personal care.

Salah satu emiten yang bisa mengambil manfaat adalah PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO). Setelah menyantap daging dalam jumlah besar, masyarakat cenderung mengonsumsi produk seperti Tolak Angin atau Kuku Bima untuk menjaga pencernaan dan stamina.

Kenaikan permintaan ini memang bersifat tidak langsung dan segmentatif. Namun, dengan basis konsumen yang luas dan loyal, SIDO tetap bisa memperoleh dorongan penjualan. Kinerja ini penting terutama dalam konteks lesunya konsumsi nasional yang berdampak ke industri farmasi secara umum.

"SIDO kemungkinan mendapat dampak tidak langsung dari konsumsi daging, terutama pada produk suplemen herbal dan pencernaan. Meski bukan barang utama hari raya, SIDO bisa menjadi saham defensif yang relevan di tengah fluktuasi pasar pasca-libur,” jelas Liza.

Ritel dan F&B Berpotensi Naik Moderat

Perusahaan ritel seperti PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) juga masuk dalam radar saham pilihan usai Idul Adha. MAPI, yang menaungi merek-merek gaya hidup seperti Zara, Starbucks, dan Domino’s, diperkirakan mencatat kenaikan penjualan moderat karena masyarakat tetap berbelanja dan makan bersama saat libur panjang.

Faktor promosi dan diskon hari raya turut mendorong minat belanja. Di sisi lain, konsumsi produk kebutuhan rumah tangga seperti sabun, sampo, dan pasta gigi juga meningkat. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) bisa mendapatkan momentum positif dari kebiasaan menjaga kebersihan diri saat dan setelah penyembelihan hewan kurban. Namun, peningkatan ini bersifat moderat dan tidak sebesar saat Lebaran.

"UNVR memproduksi barang kebutuhan rumah tangga dan personal care… konsumsi bisa meningkat seiring tradisi berkumpul dan menjaga kebersihan,” tulis Liza. Dengan daya beli yang masih tertahan, Liza menilai saham-saham berbasis konsumsi dasar dan gaya hidup cenderung lebih tahan banting dibanding sektor siklikal lainnya.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.