Sukses

Orang Terkaya RI Low Tuck Kwong Beli Saham BYAN Rp 3,43 Miliar

Orang terkaya RI sekaligus menjabat sebagai Direktur Utama PT Bayan Resources Tbk (BYAN) Dato' Dr Low Tuck Kwong membeli saham BYAN untuk investasi.

Liputan6.com, Jakarta - Orang terkaya Indonesia sekaligus menjabat sebagai Direktur Utama PT Bayan Resources Tbk (BYAN) Dato' Dr Low Tuck Kwong kembali membeli 195.300 saham BYAN pada 15 Agustus 2023.

Mengutip keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (15/8/2023), Low Tuck Kwong membeli 195.300 lembar saham BYAN dengan harga pelaksanaan Rp 17.587,07 per saham pada 15 Agustus 2023.

Dengan demikian, nilai transaksi pembelian saham tersebut merogoh kocek Rp 3,43 miliar. "Tujuan dari transaksi investasi dengan status kepemilikan langsung," tulis Low Tuck Kwong, dikutip Selasa (15/8/2023).

Dengan transaksi pembelian saham itu, Low Tuck Kwong memiliki saham 20.330.221.570 atau setara 60,99 persen. Sebelumnya, ia memiliki 20.330.026.270 saham atau 60,99 persen saham BYAN.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sekaligus orang terkaya di Indonesia Dato Dr Low Tuck Kwong kembali beli saham BYAN.

Mengutip keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Selasa, 8 Agustus 2023, Low Tuck Kwong membeli 211.100 saham BYAN dengan harga Rp 19.679,48 pada perdagangan 1-3, dan 7 Agustus 2023. Dengan demikian, ia rogoh Rp 4,15 miliar untuk beli saham BYAN.

"Tujuan transaksi investasi, status kepemilikan langsung," tulis Sekretaris Perusahaan PT Bayan Resources Tbk Jenny Quantero dalam keterbukaan informasi BEI.

Setelah transaksi pembelian saham Low Tuck Kwong memiliki 20.330.026.270 saham BYAN. Jumalh saham itu setara 60,99 persen sesudah transaksi. Sebelumnya ia memiliki 20.329.815.170 saham BYAN.

Pada penutupan perdagangan saham Senin, 7 Agustus 2023, saham BYAN melemah 1,56 persen ke posisi Rp 17.375 per saham. Saham BYAN dibuka 100 poin ke posisi Rp 17.750 per saham. Saham BYAN berada di level tertinggi Rp 17.850 dan terendah Rp 17.150 per saham. Total frekuensi perdagangan 1.006 kali dengan volume perdagangan 4.482 lot saham. Nilai transaksi Rp 7,8 miliar.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Transisi Energi, Bayan Resources Bicara Peluang Konversi Batu Bara ke Produk Petrokimia

Sebelumnya, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) telah ancang-ancang untuk melakukan diversifikasi bisnis, seiring dengan transisi energi yang tengah digalakkan pemerintah.

Direktur Bayan Resources Alexander Ery Wibowo menyebutkan salah satu bisnis yang potensial dalam waktu dekat adalah konversi batu bara menjadi produk petrokimia. "Memang yang kelihatan saat ini adalah bisa menjadi industri petrochemical," kata Alex, Senin (22/5/2023).

Di sisi lain, Alex mengatakan permintaan global untuk produk batu bara masih tinggi. Sehingga ini menjadi peluang lain saat nanti permintaan batu bara dalam negeri mulai menipis. Di samping itu, lini usaha perseroan tidak hanya terpaku pada aktivitas pertambangan, melainkan juga mengakomodir dari sisi logistik. Sehingga perseroan optimis dapat bertahan lebih lama.

"Setidaknya apabila tidak diperlukan lagi, maka saat ini prediksi bisa dimanfaatkan untuk industri petrokimia,” imbuh dia.

 

 

3 dari 4 halaman

Transisi Energi

Diakui Alex, transisi energi akan berpengaruh pada model bisnis perseroan ke depan. Namun, untuk saat ini, atau setidaknya sampai target nol emisi tercapai pada 2060, perseroan masih memiliki peluang untuk menyumbang kontribusi.

Misalnya, mobil listrik menjadi salah satu produk yang digejot terkait dengan transisi energi hijau karena menggunakan bahan bakar berupa baterai. Namun, pengisian daya baterai diperlukan sumber listrik berdaya besar, yang saat ini banyak ditopang oleh batu bara.

Ke depan, jika sumber listrik yang digunakan untuk pengisian daya perlahan beralih pada energi terbarukan, perusahaan batu bara bisa mencoba bermanuver dengan melakukan diversifikasi hasil olahan batu bara. Secara teknis, perusahaan batu bara bisa mulai melakukan transisi melalui peningkatan kualitas batu bara dengan sulfur rendah, sehingga lebih ramah lingkungan.

Selain itu, batu bara juga bisa dikonversi untuk kebutuhan petrokimia seperti methanol dan ethanol. "Lokomotif dari kelistrikan nasional dan transportasi nasional adalah PLN dan Pertamina. Memang, proses (transisi) ini berjalan terus. Tapi setidaknya direction dari industri batu bara untuk kelistrikan, maka saya memprediksi akan bisa dimanfaatkan untuk industri petrochemical,” kata Alex.

4 dari 4 halaman

Pantau Peluang Ekspor

Sebelumnya, salah satu perusahaan pertambangan batu bara terbesar di Indonesia, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) optimistis memiliki prospek yang cukup cerah dalam masa transisi energi.

Indonesia menargetkan nol emisi pada 2060. Sembari menunggu waktu itu tiba, Direktur PT Bayan Resources Indonesia Tbk Alexander Ery Wibowo mengatakan bahwa Indonesia masih membutuhkan sumber energi listrik berbasis batu bara.

Di sisi lain, hilirisasi batu bara sebagai upaya diversifikasi bisnis usai 2060 juga membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sebentar.

"Kekayaan alam batu bara di Indonesia pada 2022 91,8 miliar ton, ini kekayaan alam yang baik penambang bisa manfaatkan dengan fungsi yang beda-beda. Seperti untuk kelistrikan untuk industri lainnya seperti hilirisasi memang butuhkan waktu dan teknologi. Kebetulan kondisi pasar belum menunjang secara keekonomiannya untuk investasi dalam skala besar. Tapi dengan potensi sumber daya batu bara yang ada, seiring waktu sampai 2060 kami percaya nanti akan ada perkembangan teknologi yang bisa tercapai,” kata dia dalam  CNBC Green Economic Forum, Senin (22/5/2023).

Di sisi lain, Alex mengatakan permintaan global untuk produk batu bara masih tinggi. Sehingga ini menjadi peluang lain saat nanti permintaan batu bara dalam negeri mulai menipis. Di samping itu, lini usaha perseroan tidak hanya terpaku pada aktivitas pertambangan, melainkan juga akomodasi dari sisi logistik. Sehingga perseroan optimis dapat bertahan lebih lama.

Sebelum batu bara banyak dialokasikan untuk ekspor, Alex memperkirakan peluang yang bisa dimanfaatkan pelaku usaha batu bara adalah melakukan diversifikasi atau hilirisasi batu bara menjadi produk petrokimia. Namun, untuk saat ini, perseroan juga berkomitmen untuk turut memprioritaskan kebutuhan dalam negeri. “Setidaknya apabila tidak diperlukan lagi, maka saat ini prediksi bisa dimanfaatkan untuk industri petrokimia,” imbuh dia.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Terkini