Sukses

Melihat Kinerja Saham Emiten Orang Terkaya Indonesia, Ada Bos Harita hingga Bayan Resources

Sejumlah orang terkaya di Indonesia memiliki perusahaan yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ingin tahu bagaimana kinerja saham emiten milik orang terkaya Indonesia?

Liputan6.com, Jakarta - Daftar orang terkaya di Indonesia acap mengalami pergeseran, meski beberapa posisi teratas masih diisi orang yang sama. Melansir data The Worlds Realtime Billionaire Forbes per 23 April 2023, Low Tuck Kwong memimpin dengan kekayaan mencapai USD 29,5 miliar atau sekitar Rp 440,61 triliun (kurs Rp 14.936 per USD).

Low Tuck Kwong merupakan pendiri perusahaan batu bara PT Bayan resources Tbk (BYAN). Saham BYAN ditutup naik 1,46 persen pada Selasa, 18 April 2023 ke posisi 20.800 sebelum bursa libur sementara dalam rangka perayaan Idul Fitri

Secara year to date (ytd) harga saham BYAN terkoreksi tipis 0,95 persen di tengah tren harga batu bara yang mulai landai. Namun secara historis, harga saham BYAN memiliki kinerja yang solid. Dalam setahun terakhir, harga saham BYAN telah naik 395,83 persen. Sedangkan dalam lima tahun terakhir, harga saham BYAN telah naik 1.880,95 persen.

Selanjutnya, ada Hartono bersaudara yang terdiri dari duo Budi Hartono dan Michael Hartono. Masing-masing menduduki peringkat kedua dan ketiga dengan kekayaan sebesar USD 26,8 miliar atau Rp 400,28 triliun dan USD 25,6 miliar atau Rp 382,36 triliun.

Bos Grup Djarum ini diketahui memiliki tiga perusahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Antara lain, Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), dan yang baru IPO yakni PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) atau Blibli.

Harga saham BBCA saat ini berada pada posisi 9.125 atau naik 1,11 persen pada perdagangan Selasa. Secara YTD, saham BBCA telah naik 6,73 persen. Dalam satu tahun terakhir, harga saham BBCA telah naik 16,24 persen.

TOWR naik 1,02 persen pada Selasa ke posisi 995. Saham TOWR memiliki kinerja yang kurang baik beberapa waktu terakhir. TOWR turun 9,55 persen YTD, serta telah terkoreksi 6,57 persen dalam satu tahun terakhir.

Saham BELI tak banyak mencatatkan pergerakan. Saham BELI ditutup stagnan atau mengalami perubahan 0,00 persen ke posisi 456 pada Selasa. Harga tersebut naik tipis dari harga IPO 450 per saham yang digelar pada Oktober 2022.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Saham Emiten Sri Prakash Lohia

Kekayaan Sri Prakash Lohia tercatat sebesar USD 7,3 miliar atau Rp 109,03 triliun. Ia diketahui memiliki satu perusahaan tercatat di BEI, yakni PT Indo-Rama Synthetics Tbk (INDR).

Saham INDR ditutup naik 0,4 persen ke posisi 4.970 pada Selasa. Kinerja saham INDR juga kurang bergairah, tercermin dengan penurunan sebesar 12,04 persen secara YTD dan koreksi 3,02 persen dalam satu tahun terakhir. Namun dalam lima tahun terakhir, harga saham INDR masih naik 285,27 persen.

Lim Hariyanto Wijaya Sarwono

Pengusaha Lim Hariyanto Wijaya Sarwono menjadi orang terkaya ke-5 sekaligus orang kaya tertua di Indonesia saat ini. Total kekayaannya mencapai USD 6,4 miliar atau Rp 95,59 triliun. Grup Harita milik keluarga juga memiliki mayoritas perusahaan tambang bauksit yang terdaftar, Cita Mineral Investindo Tbk (CITA).

Perusahaan pemrosesan nikel terintegrasi milik Lim, Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) juga baru saja menyelesaikan IPO senilai Rp 10 triliun, menjadi salah satu yang terbesar di BEI pada tahun ini. Saham CITA naik 0,28 persen ke posisi 3.590 pada Selasa. Secara ytd, harga saham CITA terkoreksi 7,24 persen.

Namun,dalam satu tahun terakhir, harga saham CITA telah naik 17,7 persen. Dalam lima tahun, harga CITA telah naik 298,89 persen. Sedangkan saham NCKL terpantau terus berkibar sejak resmi tercatat di BEI pada 12 April lalu. Saham NCKL naik 3,21 persen ke posisi 1.445 pada Selasa. Harga penutupan itu telah naik 15,6 persen dari harga IPO sebesar 1.250 per saham.

 

 

3 dari 4 halaman

Salip Bos Alfamart, Ini Sosok Dewi Kam Orang Terkaya ke-8 Indonesia

Sebelumnya, menjadi pengusaha sukses tidak hanya dilakukan seorang laki-laki saja. Terbukti, sosok Dewi Kam menjadi satu-satunya pengusaha wanita yang masuk ke dalam deretan 10 orang terkaya di Indonesia.

Melansir dari Forbes Real Time Billionaires, Jumat, (14/4/2023), hingga saat ini tercatat harta kekayaan Dewi Kam sebanyak USD 4,2 miliar atau setara dengan Rp 61,57 triliun (asumsi kurs Rp 14.661 per dolar AS).

Adapun kekayaan bersih secara real time per 13 April 2023, Dewi Kam memiliki peningkatan harta 4,86 persen atau Rp 224 juta menjadi USD 4,6 miliar. Dengan demikian, ia menjadi orang kaya ke-627 di dunia pada saat ini.

Jumlah kekayaan Dewi pun membawanya masuk ke urutan orang paling kaya ke-8 di Indonesia. Bahkan, ia juga mengalahkan kekayaan bos Alfamart, Djoko Susanto yang berada tepat di bawahnya.

Menarik untuk diketahui, berikut ini Liputan6.com ulas mengenai sosok Dewi Kam dari berbagai sumber.

Dewi Kam merupakan seorang pengusaha. Adapun, sebagian besar kekayaannya berasal dari saham minoritas di perusahaan tambang batu bara Bayan Resources di Indonesia.

Sebagaimana diketahui, saham Bayan Resources atau saham BYAN naik tiga kali lipat pada 2022 di tengah krisis energi global. Wanita berusia 72 tahun ini juga memiliki kepentingan dalam pembangunan dan pengoperasian pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Dalam laporan Indonesia Corruption Watch (ICW), Dewi Kam juga terdaftar sebagai pemilik PT Sumbergas Sakti Prima, pemegang saham PT Sumber Energi Sakti Prima.

PT Sumber Energi Sakti Prima adalah perusahaan yang kepemilikan akhirnya dikuasai oleh Dewi Kam dan Richard Jasin. Dewi Kam dan Richard Jasin adalah pemilik PT Sumbergas Sakti Prima, yang menguasai 91 persen saham PT Sumber Energi Sakti Prima. Adapun 9 persen saham PT Sumber Energi Sakti Prima dikuasai oleh Racecourse Investments Ltd. 

 

4 dari 4 halaman

Pemegang Saham Sejumlah Perusahaan

Dewi Kam adalah pemilik PT Sumbergas Sakti Prima dengan penguasaan 91 persen saham. Namanya tercatat dalam database offshore leaks ICIJ. Bersama dengan Mohamad Abdullah Jasin, dia terafiliasi dengan dua perusahaan yang berdomisili di British Virgin Islands dan Samoa.

Dewi tercatat merupakan pemegang saham Birken Universal Corporation dan Direktur Savill Universal Ltd yang berlokasi di Britisih Virgin Islands, dan pemegang saham Overseas Finance Ltd yang bertempat di Samoa. 

Dia diketahui merupakan nominee director Execorp Limited, dan nominee Shareholder Portcullis Nominees (BV) Limited, dan Sharecorp Limited. Pada 2006 ketika Indonesia dan Cina melakukan kesepakatan kontrak proyek energi sebesar USD 3,56 triliun, dia menghadiri penandatanganan kontrak.

Proyek yang ia kelola yaitu Coal Based Chemical Plant di Balocci, Pangkep, Sulawesi Selatan dengan nilai USD 687 juta.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.