Sukses

Saham Didi Merosot Usai Kabar Diminta Delisting di Bursa AS

Liputan6.com, Jakarta - Saham Didi merosot tajam pada perdagangan Jumat, 26 November 2021. Hal ini setelah Bloomberg melaporkan regulator China meminta eksekutif perusahaan untuk merumuskan rencana delisting dari Amerika Serikat (AS).

Saham Didi ditutup turun 2,59 persen di Amerika Serikat di tengah aksi jual yang lebih luas. Saham SoftBank di Jepang ditutup turun 5 persen. Saham Vision Fund SoftBank memiliki lebih dari 20 persen saham Didi setelah pencatatan saham di AS.

Laporan Bloomberg menyebutkan regulator ingin raksasa ride-hailing China Didi delisting dari Bursa Saham New York karena kekhawatiran tentang kebocoran data sensitif. Kantor berita tersebut mengutip dari sejumlah sumber. Adapun Didi menolak komentar mengenai hal itu.

Delisting yang diarahkan oleh pemerintah akan menjadi langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya tetapi menyoroti dorongan berkelanjutan Beijing untuk memerintah di raksasa teknologi dan menerapkan peraturan lebih ketat. Khusus Didi merupakan kasus khusus. Tak lama setelah IPO di Amerika Serikat pada Juni, regulator membuka tinjauan keamanan siber ke perusahaan.

Didi dilaporkan menarik kemarahan regulator dengan mendorong penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) tanpa menyelesaikan masalah keamanan siber yang ingin diselesaikan oleh pihak berwenang.

Didi merupakan aplikasi ride-hailing terbesar di China dan menyimpan banyak data tentang rute perjalanan dan pengguna.

 

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Regulator Dikabarkan Minta Didi Delisting dari Bursa Saham New York

Sebelumnya, regulator China meminta pejabat eksekutif Didi Global Inc untuk menyusun rencana penghapusan saham perusahaan dari daftar bursa Amerika Serikat (AS). Hal ini pertama kali dilakukan sehingga memicu kekhawatiran investor Beijing kembali perketat industri teknologi raksasa.

Pengawas teknologi China menginginkan perusahaan keluar dari New York Stock Exchange karena khawatir tentang kebocoran data pribadi. Cyberspace Administration of China, badan yang bertanggung jawab atas keamanan data di negara itu,  mengarahkan Didi untuk menyusun rincian yang tepat. Namun langkah ini masih menunggu persetujuan pemerintah.

Proposal dalam tahap pertimbangan termasuk privatisasi langsung atau float saham di Hong Kong diikuti oleh delisting dari AS. Jika privatisasi berlanjut, saham kemungkinan akan diperdagangkan seharga IPO USD 14. Nilai ini lebih rendah daripada penawaran umum perdana pada Juni. Menurut narasumber yang tidak mau disebutkan, ini dapat memicu tuntutan hukum atau resistensi pemegang saham.

Jika ada pencatatan sekunder di Hong Kong, harga IPO mungkin akan mendapat potongan harga dari harga saham di AS menjadi USD 8,11 pada penutupan perdagangan pada Rabu, 24 November 2021. Saham SoftBank Group Corp, pemegang saham minoritas terbesar Didi, turun lebih dari 5 persen di Tokyo.

Perundingan terus berlanjut dan berpotensi regulator akan menarik kembali permintaan dislisting. Pilihan mana pun akan memberikan pukulan telak bagi raksasa ride-hailing yang memgantongi IPO AS terbesar sejak Alibaba Group Holding Ltd. pada 2014.

Perwakilan Didi dan Codex Alimentarius Commission (CAC) tidak menanggapi permintaan komentar.

  • Saham adalah hak yang dimiliki orang (pemegang saham) terhadap perusahaan berkat penyerahan bagian modal sehingga dianggap berbagai dalam pe
    Saham
  • Negara dengan penduduk terbanyak di seluruh dunia. Negara ini telah berganti nama menjadi Republik Rakyat Tiongkok.
    Negara dengan penduduk terbanyak di seluruh dunia. Negara ini telah berganti nama menjadi Republik Rakyat Tiongkok.
    China
  • Didi
  • Saham Didi
  • Delisting