Sukses

Rencana Tapering Kembali Menggema, Bagaimana Dampak ke Pasar Modal?

Liputan6.com, Jakarta - Pada sebuah acara daring di Amerika Serikat (AS), Wakil Gubernur Federal Reserve (the Fed), Richard Clarida mengungkapkan, ada peluang taper tantrum atau tapering pada akhir tahun ini.

Menaikkan suku bunga acuan dan menyetop pembelian US Treasury ini dilakukan bank sentral AS dinilai mampu mengurangi likuiditas. Melihat hal ini, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Martha Christina menyebut, dampak yang mungkin ditimbulkan akibat kebijakan ini tak akan sebesar 2013.  

"Terkait tapering, bagaimanapun tidak bisa kita hindari sama seperti Covid-19, jadi memang harus berdamai karena cepat atau lambat itu pasti akan terjadi. Hanya saja menurut riset kami tapering yang akan terjadi tidak akan sebesar tahun 2013-2015," katanya, Kamis (5/8/2021).

Martha menyebut, salah satu faktor dampak yang ditimbulkan tak terlalu besar karena arus modal yang masuk ke Indonesia saat ini tak sebesar 2013.

"The fed itu juga memberikan stimulus cukup besar dan arus dana masuk juga cukup besar ke negara- negara emerging countries. Untuk 2021 ini memang arus dana tidak sebesar 2013 lalu jadi dampakya juga tak sebesar kemarin," ujarnya.

Saat disinggung dampak yang akan ditimbulkan secara sektoral, Martha mengaku hal tersebut akan sulit diprediksi. Hanya saja, saya dengan nilai kapitalisasi besar kemungkinan akan mengalami dampak.

"Tapi kalau kita lihat dampaknya secara sektoral itu agak susah, tapi kalau kita lihat dana asing biasanya masuk ke saham-saham dengan kapitalisasi besar jadi kalau ada tapering yang paling berdampak ialah saham big cap seperti Bank BCA, Bank Mandiri, Astra dan Telkom," tutur dia.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Tapering Diprediksi Dimulai 2022

Sebelumnya, Direktur PT Panin Asset Management, Rudiyanto mengatakan, tapering the Fed kemungkinan dilakukan pada kuartal I 2022.

Hal ini seiring bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve mempertimbangkan pemulihan ekonomi yang belum merata secara global. Rudiyanto menuturkan, bank sentral AS akan berhati-hati dalam berkomunikasi terkait taper tantrum sehingga tidak menimbulkan gejolak di pasar.

“Kuartal I 2022 (tapering-red). The Fed sudah belajar, tapering tiba-tiba guncang pasar. Sekarang belum pulih, ada negara yang bisa nonton bola, sekolah. Sekarang ada mau dipikir lockdown, atau tidak. Ekonomi masih fragile,” ujar dia dalam diskusi virtual, Minggu, 27 Juni 2021.

Rudiyanto mengatakan, the Federal Reserve akan jauh-jauh hari memberi sinyal untuk menggelar taper tantrum. Dengan demikian pasar dapat menyesuaikan lebih cepat dan tidak kaget. “Saat ini (bank sentral AS-red) concern pasar. Naikkan dengan tidak buat pasar bergejolak,” kata dia.