26 Kali Erupsi, Anak Krakatau Berstatus Siaga

Berdasarkan laporan pengamatan visual, asap kawah Gunung Anak Krakatau tidak teramati selama periode pemantauan.

Diterbitkan 10 Oktober 2026, 06:48 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih berlangsung. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat 26 kali gempa letusan selama periode pengamatan 24 jam pada Jumat (9/10/2026).

Berdasarkan laporan pemantauan PVMBG, gempa letusan tersebut memiliki amplitudo 28-66 milimeter dengan durasi berkisar 12 hingga 752 detik. Durasi terpanjang mencapai sekitar 12,5 menit.

Selain gempa letusan, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau juga ditandai dengan puluhan kejadian gempa lainnya, termasuk 28 kali gempa hybrid atau fase banyak dan sembilan kali gempa vulkanik dangkal.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Suwarno mengingatkan, masyarakat agar tetap waspada terhadap perkembangan aktivitas gunung api yang dapat berubah sewaktu-waktu.

"Yang penting kita tetap waspada dan selalu menaati rekomendasi dari pemerintah," kata Suwarno, Sabtu (10/10/2026).

Laporan aktivitas Gunung Anak Krakatau periode Jumat (9/10/2026), pukul 00.00-24.00 WIB, mencatat sejumlah jenis kegempaan terekam melalui instrumen pemantauan. Selain 26 kali gempa letusan, PVMBG merekam empat kali gempa embusan dengan amplitudo 10-52 milimeter dan durasi 20-37 detik.

Tercatat pula tujuh kali gempa frekuensi rendah dengan amplitudo 32-49 milimeter serta 28 kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 8-52 milimeter. Sementara itu, sembilan kali gempa vulkanik dangkal tercatat dengan amplitudo 7-44 milimeter dan durasi 7-16 detik.

Instrumen pemantauan juga merekam satu kali gempa tremor menerus dengan amplitudo 1-35 milimeter, yang didominasi amplitudo 10 milimeter.

Suwarno mengatakan, hasil pemantauan instrumental menjadi salah satu dasar untuk mengetahui perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

"Erupsi yang terjadi merupakan aktivitas alam yang harus terus dipantau. Kita tidak bisa menebak perkembangannya, sehingga masyarakat perlu mengikuti informasi resmi," ujar dia.

Berdasarkan laporan pengamatan visual, asap kawah Gunung Anak Krakatau tidak teramati selama periode pemantauan. Gunung terlihat jelas pada sejumlah waktu, tetapi sesekali tertutup kabut.

Kondisi cuaca dilaporkan cerah hingga berawan, dengan angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut.

Meski asap kawah tidak terlihat, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan aktivitas vulkanik telah berhenti. Rekaman kegempaan masih memperlihatkan adanya aktivitas di Gunung Anak Krakatau.

Karena itu, masyarakat diminta tetap mengikuti perkembangan informasi resmi dan tidak menjadikan kondisi visual gunung sebagai satu-satunya acuan untuk menentukan tingkat keselamatan.

 

Status Siaga

PVMBG menetapkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga, berlaku sejak Jumat, 9 Oktober 2026, pukul 21.00 WIB. Seiring dengan status Siaga, PVMBG mengingatkan masyarakat untuk mematuhi batas aman di sekitar Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat, wisatawan, pengunjung, dan pendaki tidak diperbolehkan memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi. Selain itu, aktivitas juga dilarang dalam radius 1 kilometer dari pulau baru di sektor barat laut dan tenggara Gunung Anak Krakatau.

PVMBG mengingatkan sejumlah potensi bahaya yang perlu diwaspadai, meliputi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, serta erupsi sekunder akibat kontak panas lava dengan air laut maupun air hujan.

Suwarno meminta masyarakat tidak mendekati kawasan yang masuk dalam radius bahaya dan selalu mengikuti arahan petugas.

"Jangan mendekati kawasan yang sudah masuk radius berbahaya. Masyarakat harus mengikuti rekomendasi PVMBG dan arahan petugas demi keselamatan bersama," kata dia.

PVMBG juga mengimbau masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir Lampung dan Banten agar tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi mengenai potensi tsunami akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat diminta memantau perkembangan aktivitas gunung api melalui kanal informasi resmi serta mengikuti arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.