Pembunuhan Anak Punk, Korban dan Pelaku Sempat Damai hingga Minum Miras Bareng

Pengaruh minuman keras serta persoalan pribadi antara korban dan Donal membuat situasi kembali memanas saat rombongan berada di kontrakan Mondy.

Diterbitkan 23 Juli 2026, 18:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Polisi mengungkap fakta baru di balik tewasnya anak punk Faisal Anwar di Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi. Sebelum ditusuk hingga tewas, korban ternyata sempat berdamai, berkumpul, dan minum minuman keras bersama para pelaku usai bentrokan pertama. 

Namun beberapa jam kemudian, keributan kembali pecah di sebuah kontrakan di Kampung Jatibaru, Desa Kalijaya.

Dalam insiden itu, Faisal ditusuk tujuh kali. Satu luka di dada kanan yang menembus paru-paru menjadi penyebab kematiannya.

Kanit Reskrim Polsek Cikarang Barat AKP Engkus mengatakan, bentrokan pertama terjadi di depan sebuah salon di Jalan KH Asnawi, Desa Kalijaya sekitar pukul 21.00 WIB.

Saat itu korban sempat bertengkar dengan Doni Darmawan alias Donal terkait sepeda motor milik Dita Restu Amanda alias Mondy Tatto yang hendak dipinjam korban. Perkelahian itu berhasil dilerai rekan-rekannya.

“Setelah kejadian itu selesai, kemudian mereka kumpul lagi di Ceger sambil minum. Dari situ baru ke kontrakan Mondy,” kata Engkus kepada wartawan, Kamis (23/7/2026).

Menurut Engkus, pengaruh minuman keras serta persoalan pribadi antara korban dan Donal membuat situasi kembali memanas saat rombongan berada di kontrakan Mondy.

Di lokasi itu, Darmin yang belakangan ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan ikut datang. Berdasarkan hasil pemeriksaan, Darmin mengaku sejak awal sudah membawa pisau. Alasannya hanya untuk berjaga-jaga karena mengetahui korban sedang bertengkar dengan temannya.

“Kalau berdasarkan pengakuan dia, dia bawa pisau buat jaga-jaga. Dia tahu korban sedang berkelahi sama temannya, makanya dia bawa pisau,” ujar Engkus.

Korban Sempat Kabur Usai Ditusuk

Darmin mengklaim awalnya berniat melerai pertengkaran. Namun situasi berubah setelah dirinya mengaku dipukul korban menggunakan tabung gas elpiji.

“Dia mau melerai. Malah dikepruk pakai gas melon sama korban. Dari kejadian itu pelaku ngambil pisau yang sudah disiapkan, ditusuk di situ,” katanya.

Usai terkena tusukan pertama, Faisal sempat menyelamatkan diri ke kontrakan lain yang berjarak sekitar tiga rumah dari lokasi kejadian.

Namun Darmin mengejarnya dan kembali menusuk korban hingga roboh di depan pagar kontrakan.

Hasil visum luar menunjukkan terdapat tujuh luka tusuk di tubuh korban. Meski demikian, polisi memastikan penyebab kematian bukan jumlah luka tersebut, melainkan satu luka fatal di dada kanan.

“Kalau hasil visum luar ada tujuh luka tusuk. Tetapi yang menyebabkan kematian adalah luka tusuk di dada sebelah kanan yang menembus paru-paru,” ujar Engkus.

Hasil autopsi memperkuat temuan itu. Luka tusuk di dada kanan menyebabkan pendarahan hebat hingga merenggut nyawa Faisal.

Polisi menetapkan Darmin sebagai tersangka pembunuhan. Sementara Donal dan Mondy diproses dalam perkara berbeda, yakni dugaan pengeroyokan yang terjadi beberapa jam sebelum penusukan.

Engkus menegaskan penyidik sengaja memisahkan penanganan kedua perkara tersebut karena lokasi, waktu, dan pelakunya berbeda.

“Tempat kejadian perkara berbeda, waktu kejadian perkara berbeda, pelakunya pun berbeda,” tandas dia.