Perjuangan Maria Tampani Rawat 2 Keponakan Difabel yang Jadi Korban Pencabulan

Maria memikul beban berat merawat dua orang ponakan yang difabel, bahkan salah satunya sedang hamil usai jadi korban pencabulan.

Diterbitkan 27 Mei 2026, 11:41 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Kupang - Di sebuah rumah sederhana di Kelurahan Oeba, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, perempuan berusia 56 tahun bernama Maria Tampani menjalani hari-harinya dengan penuh ketabahan dan kasih sayang yang tak terhingga.

Di usianya yang sudah tak lagi muda, Maria memikul beban berat di pundaknya, merawat dua orang ponakannya yang memiliki keterbatasan fisik dan intelektual (difabel).

Bagi Maria, kedua anak itu sudah dianggap seperti anak kandung sendiri sejak orang tua mereka tidak lagi mampu merawatnya. Ia berjanji akan menjaga dan membesarkan mereka sekuat tenaga, meskipun keterbatasan ekonomi dan kondisi kesehatan kedua anak tersebut kerap menjadi ujian berat baginya.

Namun, takdir seolah belum berhenti menguji ketabahan hati Maria. Di tengah perjuangannya merawat keduanya, cobaan terberat datang menimpa keluarga kecilnya itu. Salah satu ponakannya, remaja berusia 17 tahun berinisial N, yang juga hidup dengan keterbatasan, harus mengalami peristiwa pahit yang merobek hati siapa saja yang mendengarnya.

N menjadi korban tindak kejahatan pencabulan yang keji, dan yang lebih menyakitkan lagi, remaja yang tidak mengerti apa-apa itu diketahui tengah mengandung hasil perbuatan biadab pelaku tersebut.

N adalah remaja berusia 17 tahun yang lahir dengan keterbatasan intelektual. Ia sulit berkomunikasi, sulit memahami situasi, dan tidak mampu membela diri sendiri maupun membedakan mana perbuatan yang baik dan mana yang buruk. Bersama adiknya yang juga memiliki kondisi serupa, keduanya sepenuhnya bergantung pada Maria untuk segala hal, mulai dari makan, mandi, hingga menjaga keamanan mereka.

Sebagai bibi sekaligus pengganti orang tua, Maria selalu berusaha mengawasi gerak-gerik kedua ponakannya. Namun, keterbatasan tenaga dan kondisi lingkungan yang tidak selalu terpantau membuat pelaku kejahatan sempat menyusup dan melakukan aksinya. Pelaku memanfaatkan ketidaktahuan N dan ketidakmampuannya untuk melawan atau berteriak meminta tolong.

"Dia anak yang tidak mengerti apa-apa, dia tahu orangnya, tapi tidak bisa menyampaikan. Dia hanya bisa ketakutan dan berteriak histeris saat si pelaku lewat depan rumah," ungkapnya, Selasa (26/5/2026).

Menurutnya, pelaku adalah orang dekat di lingkungan rumah tinggal mereka. Meski demikian, hal itu butuh pembuktian secara hukum.

Maria menceritakan, awalnya ia hanya menyadari perubahan fisik pada diri N. Perut remaja itu mulai membesar, nafsu makannya berubah, dan kondisinya sering terlihat lemas. Setelah diperiksakan ke tenaga kesehatan, kabar buruk itu datang: N positif hamil.

Dunia Maria serasa runtuh saat itu juga. Bagaimana mungkin seorang anak yang tidak mengerti apa itu hubungan laki-laki dan perempuan, yang bahkan sulit merawat dirinya sendiri, harus menanggung beban kehamilan akibat perbuatan orang jahat.

"Dari hasil pemeriksaan medis, usia kehamilan N sudah 3 bulan," ungkapnya.

 

Berjuang Antara Hukum dan Kasih Sayang

Kehamilan N membuat Maria harus berjuang di dua medan berbeda. Di satu sisi, ia harus merawat kesehatan N yang kondisi fisik dan mentalnya belum siap mengandung. Di sisi lain, ia harus berjuang mencari keadilan dengan melaporkan peristiwa ini ke pihak kepolisian agar pelaku bertanggung jawab dan dihukum seberat-beratnya.

"Saya sudah melaporkan ini ke polisi dan ULP PPA NTT. Pelaku harus bertanggung jawab. Dia begitu tega berbuat begitu kepada anak yang tidak berdaya seperti N. Dia difabel, dia butuh perlindungan, bukan disakiti seperti ini," tegas Maria dengan suara bergetar menahan amarah dan kesedihan.

Setiap hari, Maria kini harus merawat N dengan perhatian ekstra. Ia harus menjaga asupan makanan, mengurus kebersihan diri N, serta menenangkan remaja itu yang kerap bingung dan gelisah dengan perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Ditambah lagi, ia tetap harus merawat ponakan lainnya yang juga membutuhkan pendampingan penuh. Beban fisik dan pikiran itu ditanggungnya sendiri dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan.

Uang belanja sehari-hari yang terbatas sering kali tak cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi N yang sedang mengandung, apalagi untuk kebutuhan pengobatan lainnya. Namun, semangat Maria tak pernah padam. Ia mengerahkan sisa tenaganya, berharap ada jalan keluar dan bantuan agar kedua ponakannya bisa tetap hidup layak dan aman.

"Saya tidak ada pekerjaan tetap. Kadang mencuci dan seterika saat dibutuhkan tetangga. Kadang juga jadi tukang pijat.

 

Harapan Terakhir

Di tengah kepedihan itu, Maria tetap berdiri tegak sebagai benteng terakhir bagi kedua ponakannya. Ia tidak pernah berpikir untuk menyerah atau menelantarkan mereka. Baginya, N dan saudaranya adalah titipan Tuhan yang harus dijaga sampai napas terakhir.

"Saya sudah tua, badan ini juga mulai sakit-sakitan. Tapi selama saya masih ada nafas, saya akan tetap merawat mereka. Tidak ada yang mengurus kalau bukan saya. Hanya sedih saja, kenapa nasib mereka harus seberat ini? Kenapa ada orang yang tega menyakiti mereka yang tidak bersalah," ucap Maria lirih.

Kini, satu-satunya harapan Maria adalah pelaku segera diadili dan dihukum berat, serta ada uluran tangan dari pemerintah maupun sesama warga untuk membantu kebutuhan hidup dan kesehatan kedua ponakannya. Ia ingin N dan saudaranya hidup aman, tenang, dan mendapatkan hak-hak mereka sebagai manusia yang layak dihormati dan dilindungi.

"Saya hanya berharap, pelaku segera ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku," harapnya.

Respons UPTD PPA

Kepala Seksi Tindak Lanjut UPTD PPA NTT, Margaritha Mauweni mengatakan setelah mendapat pengaduan, pihaknya langsung mendampingi korban membuat laporan ke Polda NTT.

"Sudah dilaporkan ke Polda NTT didampingi kuasa hukum dan didampingi penerjemah," katanya.

Selain ke Polda NTT, UPT PPA NTT juga sudah meminta perlindungan ke LPSK Perwakilan NTT.

Menurutnya, kasus yang menimpa N adalah satu dari sekian banyak kisah yang menggambarkan betapa rentannya penyandang disabilitas, terutama perempuan dan anak-anak, menjadi sasaran kekerasan dan pelecehan seksual.

Keterbatasan mereka dalam berkomunikasi dan membela diri sering kali dimanfaatkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab.

"Kita berharap polisi segera ungkap siapa pelakunya, karena korbannya difabel, tidak bisa bisa bicara. Polisi memang kesulitan, tapi saya yakin polisi punya cara untuk mengungkapnya," tutupnya.