Tanah Bergerak di Sukabumi Makin Meluas, 25 Bangunan Termasuk Ponpes Rusak

Bencana pergerakan tanah di Kampung Cijambe, Desa Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, dilaporkan semakin meluas dan menyebabkan puluhan bangunan rusak.

Diterbitkan 28 Februari 2026, 16:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kondisi bencana pergerakan tanah di Kampung Cijambe, Desa Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, dilaporkan semakin mengkhawatirkan. Eskalasi kerusakan terus meluas menyusul guyuran hujan deras yang melanda wilayah tersebut selama hampir sepekan terakhir.

Berdasarkan tinjauan terbaru Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Bantargadung pada Jumat (27/2/2026), fenomena alam yang terpantau sejak Minggu (22/2) ini telah berdampak masif di lingkungan RT 005, RW 007.

Sebanyak 25 unit bangunan dilaporkan mengalami kerusakan, mulai dari retakan ringan hingga kerusakan struktur yang fatal.

P2BK Bantargadung, Sihabudin, menjelaskan bahwa stabilitas tanah di lokasi tersebut terus menurun akibat tingginya serapan air hujan.

"Bencana ini akibat hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam waktu lama. Kondisi tanah menjadi labil karena jenuh air. Retakan pada dinding dan lantai rumah warga terus bertambah dan masih kami pantau secara berkala," jelas Sihabudin, Sabtu (28/2/2026).

Dari total bangunan yang terdampak, lima di antaranya masuk dalam kategori rusak berat. Kerusakan parah ini menimpa rumah tinggal milik keluarga Diding S, Linda Farida, Muhamad Buhori, dan Ade Elly Saputra.

Selain rumah warga, satu unit gedung Pondok Pesantren (Ponpes) milik Muhamad Abdul Muizzul Falah yang dihuni sekitar 20 jiwa juga mengalami kerusakan struktur yang sangat membahayakan.

Kondisi ini memaksa sejumlah warga untuk segera mengungsi demi menghindari ancaman bangunan roboh.

"Akibat kerusakan berat tersebut, empat kepala keluarga terpaksa mengungsi ke rumah sanak saudara terdekat demi keamanan jiwa. Sementara penghuni pondok pesantren berada dalam pengawasan dan kewaspadaan ketat," tambah dia.

Selain itu, tercatat enam unit rumah mengalami rusak sedang dan 14 unit lainnya mengalami rusak ringan.

 

Peragkat Desa Terus Siaga

Pihak P2BK bersama perangkat desa, kecamatan, Koramil, hingga Polsek setempat terus bersiaga melakukan pemantauan kontinu untuk mengantisipasi pergerakan tanah susulan, terutama jika hujan kembali turun dengan deras.

Pihak otoritas pun meminta warga untuk tidak mengabaikan tanda-tanda alam yang muncul di sekitar tempat tinggal mereka.

"Kami mengimbau warga agar tetap waspada. Jika retakan semakin melebar atau terdengar suara pergerakan tanah, segera keluar rumah dan laporkan kepada aparat setempat. Keselamatan jiwa harus menjadi prioritas," tegasnya.

Saat ini, warga dan petugas sangat menantikan kajian teknis dari pihak berwenang untuk memastikan tingkat kerawanan lahan.