Longsor Cisarua Bandung Barat, Badan Geologi Sebut Masih Ada Ancaman Tanah Bergerak

Plh Kepala PVMBG Badan Geologi Edi Slameto memberikan rekomendasi agar permukiman di wilayah tersebut direlokasi ke tempat yang aman. Kawasan di Desa Pasirlangu masih berpotensi terjadi pergerakan tanah dan aliran rombakan susulan.

Diterbitkan 30 Januari 2026, 15:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan lapisan tanah di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, masih berpotensi terjadi pergerakan dan aliran bahan rombakan susulan. Permukiman di wilayah tersebut, direkomendasikan agar direlokasi ke tempat yang aman. 

Plh Kepala PVMBG Badan Geologi Edi Slameto memberikan rekomendasi agar permukiman di wilayah tersebut direlokasi ke tempat yang aman. Kawasan di Desa Pasirlangu masih berpotensi terjadi pergerakan tanah dan aliran rombakan susulan.

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT), lokasi kejadian termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah. Artinya, daerah tersebut mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah dengan didukung faktor pemicu utama yaitu curah hujan tinggi.

"Bukan hanya Pasirlangu, lembah-lembah lain dengan karakteristik morfologi dan geologi serupa memiliki potensi kejadian yang sama," kata Edi di Kantor Badan Geologi, Bandung, Jumat (30/1/2026). 

Badan Geologi juga merekomendasikan untuk normalisasi sungai dan pembuatan penahanan limpasan air untuk pengendalian erosi air dan tanah. Selain itu, Badan Geologi merekomendasi agar pemantauan jalur air pada lembah-lembah lain dengan karakteristik morfologi dengan geologi serupa di kaki Gunung Burangrang.

"Juga meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah. Masyarakat juga diimbau agar selalu mengikuti arahan dari BPBD dan aparat pemerintah setempat," ucap dia.

Faktor Penyebab Bencana

Ada sejumlah faktor yang menjadi penyebab bencana. Pertama, morfologi yang merupakan hasil proses vulaknisme Gunung Burangrang masa lalu yang kemudian mengalami proses eksogen oleh pelapukan, erosi, dan denudasi yang intensif.

Kedua geologi, kondisi tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut menyebabkan tanah menjadi gembur, urai, dan mudah lepas atau patah.

“Secara regional daerah ini dipengaruhi oleh sistem struktur geologi berupa patahan dan rekahan yang berarah dominan barat laut–tenggara dan barat daya–timurlaut yang di temukan sepanjang lereng bagian atas," ucap Edi.

Ketiga, bagian lereng tengah memperlihatkan lembah sungai yang menyempit dan curam. Lereng bagian pada area terjadi penyempitan aliran sungai hingga 1-2 meter karena proses erosional dan sedimentasi. 

Keempat, penggunaan lahan. Lereng atas didominasi vegetasi tanaman keras, lereng bagian tengah berupa kebun dan ladang campuran warga. 

“Pada lereng bagian bawah atau kaki lereng tempat landaan aliran banjir bandang didominasi oleh permukiman penduduk, lahan pertanian lahan kering, kebun campuran, sayuran dan palawija serta sebagian kawasan terbuka," jelas dia. 

Dia mengatakan, apabila multifaktor itu tidak terpenuhi semuanya, longsor diprediksi belum tentu terjadi. Namun apabila terjadi, longsor pun tidak akan sebesar yang terjadi pada 24 Januari 2026 lalu, karena keempat faktor itu tidak terpenuhi.

"Apabila empat faktor ini tidak terpenuhi salah satunya, belum tentu terjadi atau kalau pun longsor ya sedikit saja," katanya.