Jembatan Penghubung 2 Desa di Lombok Timur Ambruk, Warga Sudah Sering Lapor Kerusakan tapi Tak Digubris

Kepala Dusun mengaku pihaknya sudah seringkali melaporkan kepada pihak pemerintah desa untuk melaporkan ke pemerintah yang lebih tinggi agar segera direspons soal jembatan yang sudah miring, tapi tak digubris.

Diterbitkan 19 November 2025, 15:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Lombok Timur - Usai diguyur hujan lebat, jembatan penghubung dua desa di Kecamatan Suele, Kabupaten Lombok Timur, NTB, ambruk hingga memutus akses jalan. 

Kepala Dusun Aik Bete Maisir di Lombok Timur, Rabu (19/11/2025) mengatakan, jembatan penghubung Desa Perigi dan Puncak Jeringo itu ambruk usai diterjang banjir.  

"Jembatan Aik Bete ambruk diterjang banjir setelah terjadi hujan siang ini," katanya.

Meski demikian, kepala dusun memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa jembatan ambruk itu, karena kondisi dalam situasi sepi atau tidak ada pengendara yang melintas saat kejadian.

Kepala Dusun Aik Bete Maisir menyebut, kondisi jembatan sudah miring sebelumnya dan belum diperbaiki, sehingga ambruk saat diterjang banjir.

"Memang kondisi jembatan sudah rusak tapi ambruk sekarang," ujarnya.

Maisir juga mengatakan pihaknya sudah seringkali melaporkan kepada pihak pemerintah desa untuk melaporkan ke pemerintah yang lebih tinggi agar segera di respons, namun tak digubris.

"Kami sudah laporkan tapi belum ada tindak lanjut untuk diperbaiki," tegasnya.

 

Melakukan Pendataan

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Timur H Rifaan mengaku pihaknya sudah menerima laporan jembatan ambruk tersebut.

"Benar memang ambruk akibat bencana alam," katanya.

Atas kejadian itu, pihaknya telah menurunkan petugas untuk melakukan pendataan, supaya penanganan dampak bencana alam tersebut dapat dilakukan.

"Kami melakukan asesmen untuk kemudian diusulkan perbaikan," katanya.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan adanya potensi banjir rob di sekitar perairan Nusa Tenggara Barat (NTB) 19 sampai 26 November 2025 akibat kemunculan fase bulan baru.

"Kami imbau warga agar waspada dan siaga menghadapi dampak dari pasang air laut maksimum," kata Kepala Stasiun Meteorologi BMKG NTB Satria Topan Primadi di Mataram.