Kisah Pilu Bocah SMP Meninggal Dianiaya Teman: Sepatu Bola Impian yang Belum Sempat Dipakai

Angga Bagus Perwira belum sempat mengenakan sepatu bola impiannya. Nasib berkata lain, Angga meninggal dunia, diduga dianiaya teman-teman sekelasnya. Keluarga diselimuti duka mendalam.

Diterbitkan 15 Oktober 2025, 17:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Biasanya, Angga Bagus Perwira (12) selalu rajin bangun pagi. Tapi hari itu, Sabtu (11/10/2025), Angga tampak tak bersemangat. Tubuhnya menikmati suasana pagi dari atas tempat tidur.

Angga tinggal bersama sang nenak Kustinah di Dusun Muneng, Desa Ledokdawan, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Rumahnya sederhana, di sampng rel kereta. Kedua orang tuanya merantau bekerja di Cianjur, Jawa Barat. Angga dititipkan pada neneknya. Dengan kondisi itu, sejak kecil Angga diajarkan mandiri dan terbiasa bangun pagi.

Hari itu, siswa kelas VII SMPN 1 Geyer ini seolah enggan beranjak dari rumah untuk berangkat ke sekolah. Langkahnya terasa berat. Akhir-akhir ini, Angga merasakan tertekan akibat perundungan atau bullying yang dilakukan teman-temannya di sekolah.

Bocah 12 tahun ini menyimpan kenangan pahit perlakuan dari teman-temannya. Angga memilih memendam kegundahannya, karena sifatnya yang tertutup dan tak ingin merepotkan orang lain. Kustinah berusaha membujuk Angga agar berangkat sekolah.

"Saya tawari sarapan juga tidak mau dan malas sekolah. Angga ini anaknya pemalu dan pasti takut dibully lagi. Tapi setelah saya tegur, akhirnya berangkat sekolah diantar naik motor," kenang Kustinah.

Beratnya langkah Angga ternyata sebagai firasat. Siang itu sekitar pukul 11.00, Kustinah mendapat kabar duka. Angga meninggal dunia karena diduga dianiaya teman-teman sekelasnya. Peristiwa itu terjadi di sekolah. Hancur dan terpukul. Keluarga Angga diselimuti duka mendalam.

Sepatu Bola Impian

Angga bukan anak yang rewel atau manja. Dia selalu bisa memaklumi kondisi perekonomian kedua orang tuanya yang bekerja sebagai buruh. Meski hidup berjauhan, Angga dan orangtuanya intens berkomunikasi melalui sambungan telepon.

"Anaknya pendiam, sifatnya penurut dan tidak neko-neko. Angga tidak pernah meminta sesuatu yang aneh-aneh," kenang sang ayah, Sawendra (38) yang bekerja di pabrik kulit di Cianjur.

Sawendra tak bisa menahan kesedihannya. Dia teringat sepatu bola yang diinginkan putranya itu belum sempat dikenakan.

Beberapa bulan sebelum meninggal, Angga meminta sang ayah agar dibelikan sepatu bola. Sepatu yang akan dipakai untuk kegiatan ekstrakurikuler olahraga di sekolahnya. Angga sempat minder di depan teman temannya. Karena dia tak punya sepatu bola.

Sawendra berusaha keras mewujudkan keinginan putranya. Namun takdir berkata lain. Putranya meninggal dunia dalam kondisi tak wajar. Yang membuat menyesal, sepatu bola itupun tak sempat dikenakan Angga untuk bermain bola.

"Sepatu bola impianmu sudah terbeli nak, tapi kamu pergi untuk selama-lamanya," kata Sawendra dengan suara lirih di depan pusara sang anak.

Permintaan Keluarga

Keluarga tak terima dengan kematian Angga yang diduga akibat penganiayaan teman teman sekelasnya. Keluarga meminta keadilan dan mendesak aparat Polres Grobogan bertindak profesional.

Sawendra mengaku heran tidak adanya pengawasan serius dari tenaga pendidik di SMPN 1 Geyer yang mengakibatkan nyawa anaknya hilang.

Padahal tindakan bullying verbal dan fisik yang sempat dialami Angga sebelumnya, sudah pernah dilaporkan ke pihak sekolah pada Agustus lalu.

"Kami harapannya berlanjut seadil-adilnya. Soalnya nyawa hubungannya ini. Kalau bisa nyawa dibayar nyawa. Tapi hukum kita ikuti aturan yang berlaku. Tapi harus dihukum setuntas-tuntasnya," pinta Sawendra.

Terpisah, Kasat Reskrim Polres Grobogan, AKP Rizky Ari Budianto mengatakan, kasus kematian ABP yang diduga korban bullying teman-teman sekolahnya masih didalami.

Penyidik Satreskrim Polres Grobogan masih memeriksa sejumlah saksi di antaranya teman-teman sekolah korban termasuk para guru SMPN 1 Geyer.

"Masih proses pemeriksaan semua. Saksi yang diperiksa banyak," ucap Rizky.

 

 

Â