Buntut Siswa Bunuh Diri Diduga karena Tak Naik Kelas, Kepala Sekolah SMAN 6 Garut Dinonaktifkan

Kepala Sekolah SMAN 6 Garut dinonaktifkan sementara, buntut kasus siswa bunuh diri diduga karena tidak naik kelas.

Diperbarui 17 Juli 2025, 19:53 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bandung - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menonaktifkan Kepala Sekolah SMAN 6 Garut usai seorang siswa meninggal bunuh diri diduga karena tidak naik kelas.

Keputusan tersebut, kata Dedi, diambil setelah dilakukannya pertemuan antara pihak sekolah dan keluarga korban. Dia mengatakan, saat pertemuan, kedua belah pihak sama-sama merasa benar.

"Saya tugaskan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Jawa Barat untuk melakukan investigatif mencari titik masalahnya, apakah ada kelalaian penyelenggara pendidikan, baik kepala sekolah, wali kelas, guru BK, guru fisikanya. Apakah ada kelalaian terhadap tanggung jawab yang dimilikinya," ucap Dedi dalam unggahan di akun Instagram @dedimulyadi71 pada Kamis, 17 Juli 2025.

Agar proses penyelidikan dapat berjalan dengan transparan dan objektif, Kepala Sekolah SMAN 6 Garut resmi dinonaktifkan sementara mulai Kamis, 17 Juli 2025.

"Untuk mewujudkan seluruh rangkaian ini berlaku secara transparan, maka kepala sekolahnya dinonaktifkan sementara sampai pemeriksaan selesai agar pemeriksaannya bisa berjalan secara objektif," pungkasnya.

Korban Bunuh Diri Diduga karena Tidak Naik Kelas

Sebelumnya, seorang siswa kelas X SMAN 6 Garut berinisial PN (16) mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri pada Senin, 14 Juli 2025. Pelajar itu diduga bunuh diri karena tidak naik kelas dan menjadi korban perundungan di sekolah.

Kasat Reskrim Polres Garut, AKP Joko Prihatin mengatakan, saat dilakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan dan lebih mengarah dugaan bunuh diri dengan cara gantung diri.

Sementara untuk penyebab kematiannya, Joko mengatakan pihaknya tengah melakukan penyelidikan lebih lanjut dengan mengumpulkan barang bukti dan keterangan sejumlah pihak, termasuk keluarga korban.

"Belum bisa menyimpulkan, karena harus kita lakukan penyelidikan," katanya.

 

Penulis: Arby Salim

KONTAK BANTUAN

Bunuh diri bukan jawaban apalagi solusi dari semua permasalahan hidup yang seringkali menghimpit. Bila Anda, teman, saudara, atau keluarga yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit, dilanda depresi dan merasakan dorongan untuk bunuh diri, sangat disarankan menghubungi dokter kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan (Puskesmas atau Rumah Sakit) terdekat.

Bisa juga mengunduh aplikasi Sahabatku: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.tldigital.sahabatku

Atau hubungi Call Center 24 jam Halo Kemenkes 1500-567 yang melayani berbagai pengaduan, permintaan, dan saran masyarakat.

Anda juga bisa mengirim pesan singkat ke 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat surat elektronik (surel) kontak@kemkes.go.id.