Liputan6.com, Bandung - Jumlah timbunan sampah di Kota Bandung mencapai 1.500 ton perhari. Dari jumlah tersebut, hanya 800 ton yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Maka, pengelolaan sedari hulu menjadi penting.
“Produksi sampah kita sekitar 1.500 ton per hari, sementara kapasitas ke TPA hanya 800 ton. Maka, pengelolaan dari sumber jadi sangat penting,” kata Ketua Tim Pengurangan Sampah DLH Kota Bandung, Syahriani, dalam keterangan pers di Bandung, 8 Juli 2025.
Dia mengklaim, salah satu upaya yang tengah dikembangkan adalah penggunaan teknologi biodigester, alat pengelola sampah organik yang mampu menghasilkan energi dan pupuk cair.
Advertisement
Solusi ini dinilai sejalan dengan visi Bandung sebagai kota modern yang peduli lingkungan dan tangguh dalam menghadapi tantangan sampah.
Syahriani menjelaskan, biodigester dipilih karena kemampuannya mengolah limbah organik yang mendominasi komposisi sampah di Kota Bandung. Pasar Gedebage menjadi lokasi percontohan penggunaan biodigester karena volume sampah organiknya sangat tinggi.
“Di Gedebage, kami lihat potensi besar untuk mengurangi beban TPA lewat pengolahan langsung di lokasi. Biogasnya bisa digunakan untuk memasak, pupuk cairnya untuk pertanian,” ujarnya penuh optimisme.
Meski demikian, ia berharap ada perubahan pola pikir masyarakat.
“Kita pernah memberikan alat ke warga, tapi tak semua dimanfaatkan optimal. Maka sekarang fokus kami adalah menempatkan alat di lokasi strategis dengan pendampingan intensif,” tambah Syahriani.
Edukasi dan kolaborasi lintas sektor harus berjalan seiring agar Bandung benar-benar lepas dari ancaman krisis sampah.
“Warga bisa mulai dari hal kecil: memilah, mengolah, dan mengurangi dari rumah. Kami fasilitasi rumah maggot di 149 kelurahan dan bangun pengolah residu di Cicukang dan Gedebage,” papar Syahriani.
Kerja Sama Kampus
Pemerintah Kota Bandung dan Universitas Islam Bandung (Unisba) resmi menandatangani Kesepakatan Bersama (9/7/2025), antara lain menyangkut kolaborasi strategis bidang pengelolaan sampah.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menegaskan, saat ini Bandung memproduksi 1.500 ton sampah per hari, namun sekitar 40 persen di antaranya tidak terangkut ke tempat pembuangan akhir.
“Kita sudah tidak punya lagi tempat pembuangan sampah. Masalah sampah bukan cuma soal teknologi, tapi soal cara pikir dan rekayasa sosial. Karena itu kami butuh dukungan kampus, termasuk Unisba, untuk menciptakan solusi berkelanjutan,” katanya Farhan.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya pendekatan edukatif dan sosial kepada masyarakat. Menurutnya, program-program seperti Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan) harus diperkuat dan diperluas implementasinya ke seluruh RW di Kota Bandung.
Di sisi lain, Rektor Unisba, Prof. Edi Setiadi, mengatakan, kolaborasi ini akan menjadi ruang bagi Unisba untuk menerapkan hasil-hasil risetnya dalam mendukung kebijakan pemerintah daerah, terutama di isu lingkungan.
“Insyaallah ini menjadi bagian dari bakti Unisba. Kita ingin agar hasil-hasil penelitian kampus bisa diterapkan dalam kebijakan pemerintah, termasuk untuk mengukur indeks keberlanjutan Kota Bandung,” tutur Edi.
Kerja sama ini berlaku selama lima tahun ke depan dan akan dituangkan lebih lanjut dalam bentuk perjanjian teknis di tiap program atau kegiatan.
Pemkot Bandung berharap kemitraan ini bisa menjadi model sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam menjawab persoalan urban, terutama isu lingkungan yang kian mendesak.
Advertisement
Penumpukan di TPS
Salah satu masalah sampah penumpukan timbulan sampah di TPS-TPS, seperti yang terjadi di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Baladewa, Kelurahan Pajajaran, Kecamatan Cicendo.
Wakil Wali Kota Bandung, Erwin, langsung turun meninjau lokasi, Selasa 8 Juli 2025, didampingi jajaran Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Kecamatan Cicendo, serta warga setempat. Penumpukan terjadi sejak Desember 2024.
“KKomitmen kami, sampah hari ini selesai hari ini juga,” ujar Erwin.
Menurutnya, TPS Baladewa adalah satu dari sekian banyak titik di Kota Bandung yang mengalami penumpukan bertahun-tahun karena keterbatasan armada dan akses.
Ia mengungkapkan, sebanyak 60 rit pengangkutan dibutuhkan untuk membersihkan sampah di TPS ini, dengan mengerahkan truk kecil dan alat berat berukuran mini akibat sempitnya lokasi.
“Kondisinya sudah lebih dari satu tahun, bahkan dari Desember 2024. Ini bukan lagi soal estetika, tapi sudah menjadi sumber penyakit. Warga sekitar tidak boleh terus dirugikan,” katanya.
Pasang Insinerator
Erwin juga menyampaikan, Pemkot Bandung tidak hanya menargetkan pengangkutan, tapi juga menyiapkan solusi jangka panjang berupa insinerator.
Teknologi ini akan ditempatkan di TPS Baladewa untuk mengolah sampah langsung di lokasi tanpa perlu dibuang ke luar kota.
“Insyaallah mesin akan ditempatkan di sini, dengan kapasitas minimal 10 ton per hari. Bahkan hasilnya bisa dimanfaatkan menjadi paving block, yang bisa dijual dan bermanfaat bagi warga,” jelasnya.
Saat ini, dari target 30 titik pengolahan sampah dengan insinerator, baru 7 yang sudah berjalan. Erwin menyebut akan terus mendorong percepatan aktivasi titik-titik lain agar Bandung bisa lebih mandiri dalam pengelolaan sampah.
“Kita punya beban 1.496 ton sampah setiap hari, dan selama ini 1.000 ton masih dibuang ke TPA. Kalau terus seperti ini tidak akan selesai. Karena itu kita ingin ubah pendekatannya: olah sampah di tempat, bukan angkut buang,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala DLH Kota Bandung, Darto menjelaskan, kendala teknis selama ini berasal dari keterbatasan alat dan akses.
“Jalan sempit, alat berat tidak bisa masuk. Jadi kita pakai loader kecil dan truk kecil. Satu rit itu 6 kubik, sehingga untuk bersih total bisa sampai 60 rit,” katanya.
Menurutnya, TPS-TPS yang mengalami penumpukan lama akan menjadi prioritas. Selain itu, pihaknya tengah mencari investor untuk mendukung pengadaan insinerator di titik-titik strategis.
“Tujuannya agar sampah tidak perlu dibuang ke luar kota, tapi bisa diolah di tempat,” jelasnya.
Di lokasi yang sama, Camat Cicendo, Bira Gumbira mengimbau masyarakat untuk ikut memilah sampah sejak dari rumah.
“Kunci pengelolaan ada di hulu. Pilah sampah organik dan anorganik, agar lebih mudah ditangani di TPS,” ujarnya.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8805424/original/032384700_1782904857-Cek_fakta_-_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5490270/original/075910100_1770004204-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-02T104539.335.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8627383/original/048072800_1782622786-153948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782357/original/057831900_1782883984-Cek_fakta-_disabilitas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647030/original/064979700_1699881139-TPS__Bandung.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578726/original/087210500_1782537285-063_2283517405.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4937793/original/094395600_1725589798-AP24249749330750.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261539/original/051141200_1781743137-IMG-20260618-WA0008.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264054/original/059677500_1782070488-Spain_s_Mikel_Oyarzabal_celebrates_with_teammate_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389971/original/012637700_1782270142-AP26174800285397.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5556659/original/033473100_1776274063-000_A6D679V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782365/original/061503000_1782884376-AP26181805083891.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782203/original/029416800_1782879842-mex4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782208/original/070447800_1782879843-mex9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776307/original/030285700_1782873381-AP26182087478676.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8524757/original/078321100_1782454482-AP26176835585287.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262583/original/036434300_1781838197-000_B7LE9YQ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5571616/original/030605900_1777651739-5e742459-2735-4621-a2eb-ef899c8ff4c9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5571598/original/060718800_1777646878-image_bank_2026_5_1_Screenshot_2026-05-01_at_20.29.45.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1697578/original/043283200_1504252581-090238000_1498299275-Taman_Alun-alun_Huyogo_Simbolon__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5527426/original/087877400_1773202548-WhatsApp_Image_2026-03-11_at_08.48.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5520998/original/023625900_1772675886-177262620646.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5519684/original/090415700_1772593809-WhatsApp_Image_2026-03-04_at_08.47.52__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5517576/original/086606700_1772432652-Menteri_LH_Hanif_di_Bandung.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2220482/original/035724700_1526813013-The_Blue_Mosque_at_night.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5514444/original/088506900_1772090383-WhatsApp_Image_2026-02-26_at_11.50.40.jpeg)