OPINI: Mengapa Cendekiawan Indonesia Jarang Dikutip?

Perilaku konsumerisme pengetahuan yang dominan di kalangan akademisi Indonesia telah menghambat kemajuan dalam produksi pengetahuan baru dan melemahkan posisi Indonesia dalam percakapan ilmiah global.

Diperbarui 07 Juli 2025, 23:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tanggal 20 Maret 2025 lalu, sebuah media arus utama mengeluarkan liputan terkait publikasi ilmiah dosen di Indonesia. Di dalam liputan itu dijelaskan jika publikasi ilmiah dosen Indonesia meningkat secara kuantitatif, tetapi belum memiliki dampak yang luas.

Terlihat dari sitasi yang masih rendah. Salah satu sebab dari fenomena ini adalah perilaku konsumerisme pengetahuan yang berkembang di dunia akademik Indonesia.

Konsumerisme Pengetahuan

Di dalam tulisan ini, konsumerisme pengetahuan dimaknai sebagai perilaku seseorang yang terus menerus mengonsumsi pengetahuan yang diproduksi oleh orang lain tanpa upaya memproduksi pengetahuan baru melalui pengembangan teori, konsep, pendekatan dan argumentasi baru atau alternatif.

Jikapun  memproduksi, pengetahuan yang dihasilkan hanyalah reproduksi pengetahuan yang sudah ada tanpa menghasilkan pengetahuan baru yang mengubah aturan main (game changer).

Social Theory of International Politics karya Alexander Wendt merupakan contoh pengetahuan yang mengubah aturan main di dalam kajian Hubungan Internasional (HI).

Karya ini melahirkan Konstruktivisme, sebagai pendekatan baru dalam kajian HI. Dalam konteks Indonesia, contohnya adalah Islam in Indonesian Foreign Policy karya Rizal Sukma yang menginspirasi berkembangnya kajian Islam di dalam kebijakan luar negeri Indonesia.

Di Indonesia, konsumerisme pengetahuan terutama dilakukan dengan mengonsumsi teori, konsep, dan pendekatan yang diproduksi oleh Barat.

Pengetahuan Barat diajarkan di kampus-kampus dan digunakan sebagai landasan untuk menganalisis kasus-kasus empiris. Kritik atas pengetahuan Barat jarang dilakukan.

Demikian pula dengan upaya produksi pengetahuan baru. konsumerisme pengetahuan ini merupakan produk dari berbagai faktor, seperti pragmatisme, rendahnya budaya akademik, tingginya beban kerja administratif, dukungan riset yang minim, dan intervensi negara yang terlalu kuat.

 

Implikasi Konsumerisme Pengetahuan bagi Dunia Akademik Indonesia

Konsekuensi dari perilaku konsumerisme ini adalah karya-karya akademik yang dihasilkan oleh cendekiawan Indonesia utamanya hanya mereproduksi teori, konsep, dan pendekatan yang sudah ada, khususnya dari Barat, untuk digunakan menganalisis kasus-kasus empiris.

Eksplorasi pengembangan ilmu HI berbasiskan sejarah pemikiran internasional Indonesia minim dilakukan oleh cendekiawan Indonesia. Selain itu, eksplorasi bidang kajian baru juga tidak berkembang.

Di dalam dinamika kajian HI di Indonesia, fenomena ini terlihat dari kebiasaan menggunakan teori dan konsep yang sudah mapan, seperti soft power, sekuritisasi, perimbangan kekuatan, dan hedging, untuk menganalisis kasus-kasus hubungan internasional. Tidak ada inovasi untuk mengembangkan dan menawarkan teori, konsep, ataupun argumentasi baru terkait dinamika di dalam HI.

Cendekiawan HI Indonesia juga tidak menawarkan kajian baru dalam tradisi HI sebagaimana kolega mereka di belahan dunia lain. Misal, di Eropa, cendekiawan HI menawarkan gender di diplomasi sebagai sebuah bidang kajian transdisiplin baru di ilmu HI dan Feminisme.

Selanjutnya, perilaku konsumerisme pengetahuan HI juga menyebabkan minimnya perdebatan dan kritik konstruktif di antara cendekiawan Indonesia, dan antara cendekiawan Indonesia dan asing. Tulisan-tulisan cendekiawan Indonesia di jurnal nasional maupun internasional menunjukan kecenderungan ini.

Padahal, perdebatan dan kritik ini merupakan faktor fundamental untuk menghasilkan pengetahuan baru. Dialektika yang berlangsung di dalam perdebatan dan kritik tersebut merupakan sumber inovasi.

Sementara, inovasi-inovasi yang mengubah permainan merupakan kunci untuk menjadi sumber rujukan utama bagi karya-karya akademik berikutnya. Sebagai contoh, di Ilmu HI, Realisme-Struktural yang merupakan kritik atas pendekatan Realisme-Klasik menginspirasi lahirnya pendekatan Realisme lainnya, yaitu Realisme-Ofensif.

Berikutnya, perilaku konsumerisme pengetahuan juga menyebabkan Indonesia hanya menjadi objek riset dan pengetahuan yang dikembangkan oleh cendekiawan asing, terutama Barat, tanpa kemampuan untuk menjelaskan tentang dirinya sendiri.

Konsekuensinya, pertama, narasi tentang Indonesia di dunia akademik didominasi oleh cendekiawan asing, khususnya Barat. Sebagaimana ditulis oleh Anthony Reid.

Kedua, kehadiran dan otoritas cendekiawan Indonesia yang rendah dalam menarasikan Indonesia dari kacamata Indonesia di publikasi akademik menyebabkan cendekiawan Indonesia tidak menjadi rujukan utama pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya tentang Indonesia. Tulisan-tulisan cendekiawan Indonesia cenderung mengikuti arus utama (mainstream).

Sementara, pemikiran-pemikiran non-arus utama adalah yang dicari oleh peneliti dan akademisi dari berbagai belahan dunia. Namun, tidak semua cendekiawan Indonesia larut dalam perilaku konsumerisme pengetahuan ini.

Sebagian kecil dari mereka berusaha untuk menawarkan inovasi-inovasi dengan mengombinasikan antara pengetahuan yang telah ada dan pandangan atau pengalaman yang mereka miliki. Perkembangan ini memberikan harapan bagi perubahan budaya akademik di Indonesia.

Penutup

Perilaku konsumerisme pengetahuan yang dominan di kalangan akademisi Indonesia telah menghambat kemajuan dalam produksi pengetahuan baru dan melemahkan posisi Indonesia dalam percakapan ilmiah global.

Ketergantungan pada pemikiran, teori dan konsep Barat tanpa upaya untuk mengembangkan pendekatan alternatif menyebabkan rendahnya daya saing dan pengaruh publikasi ilmiah Indonesia, baik dari segi sitasi maupun narasi.

Akibatnya, cendekiawan Indonesia belum menjadi rujukan utama dalam menjelaskan dinamika sosial-politik global maupun domestik di kancah internasional. Transformasi budaya akademik diperlukan untuk meningkatkan pengaruh cendekiawan Indonesia di tingkat internasional.

Penulis: 

Wendy Prajuli/ Pengajar Hubungan Internasional, Universitas Bina Nusantara

Musa Maliki/ Pengajar Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta