Keren! Dosen UMY Kembangkan Mesin Sangrai Kopi Otomatis Portabel yang Ekonomis

Tingginya harga mesin sangrai kopi modern, yang umumnya berukuran besar, belum sepenuhnya elektrik, dan dibanderol puluhan hingga ratusan juta rupiah membuat pelaku usaha kecil harus membeli bekas.

Diterbitkan 01 Juli 2025, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Yogyakarta - Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Rinasa Agistya Anugrah berhasil mengembangkan mesin sangrai kopi yang inovatif. Bersama tim, Rinasa yang menjadi dosen pada Program Studi Teknologi Rekayasa Otomotif, Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini mengembangkan inovasi mesin sangrai kopi otomatis dan portabel yang lebih terjangkau. Alat ini akan mempermudah proses sangrai dengan sistem otomatis yang efisien, praktis, dan terjangkau.

“Selama ini, mesin sangrai kopi yang tersedia ukurannya besar dan harganya mahal, bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah. Ini tentu memberatkan pelaku UMKM atau kafe kecil yang ingin menyangrai kopi sendiri,” jelas Rinasa saat ditemui Humas UMY di Laboratorium Teknik Mesin, Senin (23/6/2025).

Rinasa mengatakan di Yogyakarta banyak kafe atau kedai kopi yang membeli mesin roasting bekas seharga Rp35 juta hingga Rp50 juta, sedangkan mesin baru bisa menembus harga lebih dari Rp100 juta. Padahal, kebutuhan pelaku usaha ini cukup kecil, yakni hanya sekitar satu kilogram kopi per proses sangrai. “Oleh karena itu, kami merancang mesin kecil berkapasitas maksimal satu kilogram, otomatis mati saat kopi matang, dan harganya jauh lebih terjangkau, sekitar Rp4,5 juta hingga Rp5 juta,” lanjutnya.  

Selama empat bulan, mesin sekitar 50 cm panjang dan lebar 25 cm menjadikan mesin sangrai kopi yang berukuran ringkas. Mesin ini dilengkapi pemanas elektrik, tabung sangrai yang berputar otomatis, serta fitur pengatur suhu dan waktu berbasis mikrokontroler. “Kalau mesin konvensional harus diawasi terus karena risiko gosong. Tetapi dengan alat ini, pengguna cukup mengatur suhu dan waktu, lalu mesin akan berhenti otomatis. Tingkat kematangan pun bisa disesuaikan: light, medium, atau dark roast,” jelas Rinasa.

Lebih lanjut Rinasa menjelaskan bahwa mesin ini memiliki sistem pendingin berupa wadah dan kipas otomatis untuk menjaga kualitas aroma dan rasa. Prototipe ini menjadi bagian dari tugas akhir mahasiswa bimbingan Rinasa dengan tantangan pada proses perancangan menggabungkan aspek mekanik dan sistem kontrol elektronik. “Dasar kami teknik mesin, jadi untuk sistem kontrol elektrik kami perlu belajar dan riset terlebih dahulu. Tapi justru dari sinilah kami melihat pentingnya kolaborasi lintas bidang,” ujarnya. 

Salah satu kafe di Yogyakarta sudah mencoba mesin sangrai kopi ini dan cita rasa kopi yang dihasilkan tidak kalah dari mesin komersial, bahkan beberapa pelaku usaha menunjukkan minat untuk membeli, meski dalam tahap prototipe. Ia berharap dapat mengembangkan versi lanjutan mesin ini yang mampu menyesuaikan proses sangrai secara otomatis berdasarkan karakteristik masing-masing biji kopi, seperti kadar air dan varietas yang berbeda. “Setiap kopi punya karakter unik. Bahkan dari lahan yang sama, kadar airnya bisa berbeda. Itu jadi PR kami berikutnya, yakni bagaimana membuat alat ini semakin presisi dan adaptif tanpa perlu penyesuaian manual,” ujarnya.