Liputan6.com, Bandung - Dinas Kesehatan Jawa Barat (Dinkes Jabar) menyiagakan tiga fasilitas kesehatan rujukan untuk melayani pengungsi bencana alam di Kampung Cigintung, Desa Pasirmulya, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta akibat adanya gerakan tanah.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Vini Adiani Dewi mengemukakan, posko kesehatan di Desa Pasirmulya, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, masih melayani keluhan warga pengungsi.
"Rata-rata keluhan pengungsi adalah sakit kepala dan batuk pilek. Karena tergolong ringan, alhamdulillah, bisa kita tangani di posko. Sudah kita siapkan surat rujukan ke Puskesmas Sukatani, RS Dian, dan RS Bayu Asih," ujar Vini dalam keterangannya ditulis Bandung, Kamis (19/6/2025).
Advertisement
Vini mengatakan posko kesehatan di poliklinik desa (Polindes) tersebut melayani 24 jam, walau hanya dengan sumber daya manusia (SDM) yang terbatas dari pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas).
Vini menambahkan, untuk keperluan medis sampai saat ini masih mencukupi, warga hanya mengeluhkan kurangnya pakaian dalam perempuan dan laki-laki dewasa serta anak-anak. Selain itu, Vini juga menyampaikan kurangnya failitas mandi, cuci dan kakus (MCK) untuk melayani 40 Kepala Keluarga (KK) yang mengungsi di gedung olahraga (GOR).
"Kita dapat bantuan SDM dari 3 Puskesmas dan 2 klinik. Tapi alhamdulillah, tertangani. MCK hanya ada 1 di GOR, kurang sekali," terang Vini.
Penanganan BPBD Jabar
Selain Dinas Kesehatan Jabar, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jabar langsung mengerahkan anggotanya untuk menangani masyarakat yang terdampak bencana pergerakan tanah di Purwakarta.
Dilaporkan hampir 250 orang harus mengungsi akibat pergerakan tanah di Kampung Cigintung, Desa Pasirmulya, Kecamatan Sukatani, Purwakarta.
"BPBD Jabar fokus pada penanganan pengungsi yang saat ini berada di beberapa tempat yang lebih aman, di antaranya kantor desa. Sedangkan Dinkes Jabar bersama Dinkes Purwakarta memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat," ujar Pranata Humas BPBD Jabar Hadi Rahmat, Minggu (15/6/2025)..
Hadi mengatakan pelayanan yang dilakukan otoritasnya antara lain penyediaan logistik makanan dengan dapur umum, dan layanan kesehatan.
Berdasarkan laporan sementara, bencana pergerakan tanah tersebut mengakibatkan 57 rumah rusak berat, 1 unit fasilitas umum rusak berat, 1 unit tempat ibadah rusak berat, 3 rumah rusak sedang, dan 8 rumah rusak ringan.
"Kita dirikan dapur umum, dan posko layanan kesehatan," ucap Hadi.
BPBD Jabar intens berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Purwakarta dalam melaksanakan asesmen. BPBD Jabar juga melakukan pendampingan ke lokasi gerakan tanah, pemasangan patok sederhana untuk mengukur/tanda gerakan tanah, dan melakukan monitoring di lokasi gerakan tanah bersama Wakil Bupati Kabupaten Purwakarta, TNI, Polri, Satpol PP, Dishub, PLN, aparat kecamatan dan desa, serta masyarakat.
Advertisement
Rekomendasi Badan Geologi
Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menerbitkan sejumlah rekomendasi usai terjadinya gerakan tanah di Kampung Cigintung, Desa Pasirmulya, Kecamatan Sukatani, Purwakarta, Jawa Barat.
Menurut Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Muhammad Wafid, mengingat daerah tersebut masih sangat rawan terjadi gerakan tanah dan curah hujan yang masih tinggi maka sebagai langkah antisipasi potensi longsoran susulan.
"Masyarakat yang tinggal dan beraktifitas di lokasi bencana agar meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat hujan," jelas Wafid.
Wafid mengatakan jika terdapat bagian rumah yang rusak berat untuk sementara tidak digunakan sebagai tempat berkumpul atau beristirahat.
Wafid mengimbau untuk segera melakukan perbaikan pada rumah yang mengalami kerusakan, namun masyarakat harus melakukan pemantauan menerus terhadap perkembangan retakan dan nendatan.
"Jika terjadi pekembangan yang menerus pada retakan yang telah ada dan muncul rembesan air baru atau hilangnya mata air lama atau ada perubahan mata air dari bening menjadi keruh agar segera mengungsi dan melaporkan ke pemerintah daerah setempat," kata Wafid.
Jika retakan berkembang dan meluas ke arah pemukiman lanjut Wafid, maka pemukiman yang rusak sebaiknya direlokasi ke tempat yang lebih aman.
Wafid menjelaskan diperlukan pengendalian air permukaan (surface drainage) yang kedap air dengan cara perencanaan tata saluran permukaan, pengendalian air rembesan (sub surface drainage) serta pengaliran parit pencegat yang diarahkan langsung ke sungai utama.
"Menutup retakan dengan tanah liat dan dipadatkan untuk memperlambat masuknya air kedalam tanah. Aktivitas ini agar dilakukan dengan selalu memperhatikan kondisi cuaca dan faktor keselamatan," tukas Wafid.
Wafid menegaskan gerakan tanah pada lokasi ini berupa rayapan, sehingga rumah yang cocok untuk daerah ini adalah rumah dengan kontruksi ringan atau rumah panggung. Wafid menyarankan agar menanami lereng dengan tanaman berakar kuat dan dalam yang mampu mengikat tanah.
"Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah. Masyarakat agar selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah setempat dan BPBD," tegas Wafid.
Masuk Zona Gerakan Tanah Menengah-Tinggi
Wafid menjelaskan faktor penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan karena kemiringan lereng yang agak curam hingga curam di sekitar lokasi gerakan tanah mengakibatkan tanah mudah bergerak, tanah pelapukan yang tebal yang bersifat poros serta mudah jenuh, ditambah curah hujan tinggi yang menyebabkan tanah jenuh air.
Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah pada Bulan Mei 2025 di Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), lokasi bencana termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah menengah – tinggi.
"Artinya daerah ini mempunyai potensi menengah hingga tinggi untuk terjadi gerakan tanah apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi atau di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali," terang Wafid.
Berdasarkan Peta Geologi Lembar Cianjur, Jawa (Sudjatmiko, 1972), batuan penyusun daerah bencana berupa endapan Aluvium Tua (Qoa) yang terdiri dari konglomerat dan Pasir sungai yang bersusunan andesit dan basal serta endapan Batupasir Tufan dan Konglomerat (Qos) yang terdiri dari batupasir tufan dan konglomerat berasal dari endapan lahar.
Secara umum, morfologi daerah bencana berupa perbukitan dengan kemiringan lereng yang agak curam – curam. Lokasi bencana berada pada ketinggian 370 meter diatas permukaan laut (mdpl).
"Dampak gerakan tanah 41 rumah rusak ringan, 5 rumah rusak sedang dan 2 rumah rusak berat," ungkap Wafid.
Berdasarkan interpretasi dari foto dan laporan dari BPBD Kabupaten Purwakarta, gerakan tanah berupa rayapan yang ditandai dengan munculnya retakan pada permukaan dan bangunan. Gerakan tanah ini bergerak lambat namun sering menimbulkan dampak yang luas.
Gerakan tanah terjadi sejak Minggu, 20 April 2025 pukul 22.00 WIB kemudian kembali terjadi pada Rabu, 23 April 2025 pukul 20.00 WIB serta pada Senin, 19 Mei 2025 pukul 07.00 WIB.
Advertisement
4 Langkah Antisipasi Potensi Tanah Longsor
Dicuplik dari kanal Regional, Liputan6, memasuki musim penghujan menyebabkan adanya potensi terjadinya bencana tanah longsor akibat kemiringan tanah yang cukup curam dan terjal di beberapa titik daerah di Indonesia.
Tanah longsor sendiri merupakan fenomena perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng.
Secara sederhana, Longsor dapat terjadi jika terdapat air dengan volume yang besar meresap ke dalam tanah, sehingga berperan sebagai bidang gelincir, kemudian tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng.
Berangkat dari pengertian diatas, maka fenomena bencana tanah longsor rawan terjadi di musim hujan seperti saat ini.
Untuk itu, masyarakat bersama-sama dengan pemerintah dapat segera melakukan langkah antisipasi guna mengurangi risiko terjadinya tanah longsor, seperti :
1. Menghindari pembangunan pemukiman di daerah di bawah lereng yang rawan terjadi tanah longsor.
2. Mengurangi tingkat keterjangan lereng dengan pengolahan lahan terasering di kawasan lereng.
3. Penanaman pohon yang mempunyai perakaran yang dalam dan jarak tanam yang tidak terlalu rapat diantaranya diseling-selingi tanaman pendek yang bisa menjaga drainase air.
4. Menjaga drainase lereng yang baik untuk menghindarkan air mengalir dari dalam lereng keluar lereng.
Dengan adanya langkah preventif yang dilakukan oleh pemerintah bersama dengan masyarakat, diharapkan mampu meminimalisasi terjadinya potensi tanah longsor dan kerugian materil maupun korban jiwa.
Apabila terdapat anggota keluarga maupun tetangga sekitar yang sakit dan mengalami luka akibat longsor yang melanda, segera lakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat agar mendapatkan penanganan yang baik dan tepat.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258254/original/075445200_1781330306-Tugas__34_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263843/original/065734300_1782021578-Tugas__38_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5370367/original/028709700_1759546468-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-10-04T093301.745.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/408266/original/071633600_1747617599-ari.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4680179/original/023092200_1702126645-FotoJet_-_2023-12-09T094535.027.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1373125/original/048354700_1476359894-purwakarta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/827404/original/069659300_1510203910-WhatsApp_Image_2017-11-09_at_12.04.27.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260382/original/054470700_1781590662-063_2281748273.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264068/original/012778200_1782078495-000_B7TT4GU.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264045/original/061909400_1782061462-063_2282633998.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264088/original/090012000_1782087024-000_B7TY6Z7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264089/original/060388300_1782087027-000_B7TZ2WM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264097/original/098152700_1782090739-AP26172582885325.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260275/original/078184800_1781584802-Hamza_Abdelkarim.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263769/original/046217200_1782009540-Jeremy_Doku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5498440/original/085802200_1770706913-Penemuan_mayat_di_Lampung.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5559604/original/071661800_1776590155-Pelajar_di_Purwakarta_acungkan_jari_tengah_ke_guru.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5556085/original/075940400_1776231291-WhatsApp_Image_2026-04-14_at_23.11.25.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4171683/original/037152700_1664189417-IMG_20220926_150631.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5547834/original/075367600_1775473238-pengeroyokan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5510118/original/074938800_1771818751-HWB_Unit_1.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5488815/original/022652200_1769764278-WhatsApp_Image_2026-01-30_at_16.07.57.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5479998/original/047577300_1769003326-IMG-20260121-WA0036.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5479383/original/084866000_1768976901-Kepala_Disdik_Jawa_Barat_Purwanto.jpg)