Seni Yalil, Kesenian Vokal Murni dalam Tradisi Palang Pintu

Dalam seni yalil, kemampuan vokal seniman musik menjadi fokus utama yang ditampilkan. Biasanya, irama yang mengimbangi vokal tersebut hadir dalam berbagai variasi, mulai dari semangat, melankolik, haru, hingga penuh harapan.

Diterbitkan 25 Mei 2025, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Yogyakarta - Seni yalil termasuk bagian dari tradisi palang pintu dalam pernikahan adat Betawi. Dalam keadaan tertentu, seni suara ini kerap diiringi dengan ragam alat musik, baik tradisional maupun modern.

Dalam seni yalil, kemampuan vokal seniman musik menjadi fokus utama yang ditampilkan. Biasanya, irama yang mengimbangi vokal tersebut hadir dalam berbagai variasi, mulai dari semangat, melankolik, haru, hingga penuh harapan.

Mengutip dari Seni & Budaya Betawi, penamaan yalil merujuk pada penggunaan kata yalil pada pembuka atau intro lagu. Yalil juga kerap dibawakan di bagian tengah lagu dan saat ini penggunaannya tidak harus sebagai intro lagu.

Dalam prosesi pernikahan masyarakat Betawi, seni yalil biasanya hadir pada momen ngerudat. Momen tersebut berisi acara arak-arakan calon pengantin laki-laki menuju rumah calon pengantin perempuan untuk melaksanakan ijab kabul.

Pada prosesi itulah biasanya dilengkapi dengan tradisi nyapun atau buka palang pintu. Seni yalil menjadi bagian dalan tradisi nyapun tersebut.

Seni yalil kental dengan nuansa Islam. Kesenian ini memang mengambil dari irama seni membaca Al-Qur'an yang disebut nagham. Pada musik modern barat, biasanya disebut notasi atau genre musik.

 

6 Jenis

Terdapat enam jenis nagham, yaitu bayyati, nahawand, hijaz, jiharkah, rost, dan sikah. Adapun irama yang digunakan dalam seni yalil adalah sikah.

Irama sikah (dibaca sikè) memiliki irama paling merdu dari jenis nagham lainnya. Selain itu, irama sikah juga terdengar melankolik, manja, lembut, sekaligus memunculkan nuansa romantis.

Menariknya lagi, seniman yalil tak hanya harus bersuara merdu. Mereka wajib menguasai pengetahuan tajwid dan makhraj huruf yang mumpuni. Bahkan di masa lalu, seniman yalil lazim berpuasa dan memiliki pantangan terhadap beberapa jenis makanan demi merawat pita suara.

Penulis: Resla