Lenong Denes, Turunan Komedi Stambul yang Terus Dilestarikan

Saat ini, lenong denes menjadi salah satu kesenian yang masih kerap dipentaskan di Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Diterbitkan 23 Mei 2025, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Lenong denes adalah bentuk seni pertunjukan lenong asli masyarakat Betawi. Pertunjukan lenong denes sangat berbeda dengan lenong preman.

Mengutip dari laman Portal Informasi Indonesia, penanda utama pertunjukan ini terletak pada namanya, denes. Dalam bahasa suku asli Jakarta, denes berarti resmi.

Dalam pertunjukannya, segala penggunaan properti panggung hingga kostum pemain lenong yang dikenakan adalah formal. Hal itu juga berlaku pada bahasa yang digunakan dalam pertunjukan.

Berbagai ketentuan tersebut membuat lenong denes sangat berbeda dengan lenong preman. Adegan-adegan perkelahian dalam lenong denes tidak menampilkan silat, tetapi tinju, gulat, dan anggar (pedang).

Cikal bakal kelahiran lenong denes tak bisa dipisahkan dari komedi bangsawan atau komedi stambul. Seni pertunjukan asal Surabaya ini menampilkan cerita-cerita kerajaan dengan dukungan properti dan kostum yang mewah. Dari sana, lahirlah turunannya berupa lenong denes yang berkembang di masyarakat Betawi.

Terkait cerita yang dibawalan, lenong denes umumnya berlatar kisah kerajaan, seperti Indra Bangsawan, Jula-Juli Bintang Tujuh, dan saduran dari Cerita 1001 Malam. Durasi pertunjukan umumnya digelar selama dua jam.

 

Bahasa Melayu Tinggi

Bahasa yang digunakan dalam pementasan lenong denes adalah bahasa Melayu tinggi, seperti tuanku, paduka, baginda, kakanda, adinda, beliau, daulat tuanku, syahdan, hingga hamba. Menariknya lagi, sebagian besar dialog dalam lenong denes disampaikan melalui nyanyian.

Karena merupakan turunan dari komedi stambul, lenong denes juga memiliki alur cerita lucu dan menghibur. Hal ini pula yang menjadi ciri khas kesenian Betawi yang tak ditinggalkan.

Lenong denes umumnya diiringi oleh suara alat musik tradisional khas Betawi, seperti kecrek, ningnong, suling atau basing, tehyan, gong, gamelan, dan gendang. Alat musik tersebut bersanding dengan gitar dan organ, sehingga menghasilkan nada pentatonik khas.

Saat ini, lenong denes menjadi salah satu kesenian yang masih kerap dipentaskan di Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Setiap akhir pekan, rutin digelar aneka pertunjukan kesenian khas Betawi seperti tari, musik, dan lenong di cagar budaya tersebut.

Penulis: Resla