Liputan6.com, Kendari - Dusun Kaudani di Buton Tengah, dihuni 284 orang warga suku Bajau. Warga lokal, mengenal mereka dengan sebutan orang Bajo Kaudani.
Wilayahnya, mengapung di atas endapan pasir sepanjang garis pantai Desa Tanailandu Kecamatan Mawasangka Kabupaten Buton Tengah. Bukan berupa sebuah pulau, tetapi dari endapan pasir dan karang berukuran cukup luas untuk membangun sekitar 70 lebih unit rumah warga.
Sejak ratusan tahun lalu, endapan pasir Dusun Kaidanu yang menghadap Selat Spellman, menjadi rumah turun temurun generasi Bajo. Mereka dikenal warga Buton Tengah dan sekitar Baubau, sebagai kelompok nelayan ulung penangkap teripang, cumi, dan jenis ikan karang mahal hingga ke perbatasan perairan Indonesia-Australia. Hasil laut tangkapan mereka, sudah dijual hingga ke Jepang dan negara-negara tetangga.
Advertisement
Di sini, selama bertahun-tahun, terdapat ratusan anak bajau usia sekolah yang mayoritas masih mengalami kesulitan membaca. Banyak di antaranya, hingga hari ini masih belum mampu mengeja huruf demi huruf hingga menjadi satu kalimat utuh.
Bahkan, beberapa orang dewasa di atas usia 40-an tahun tidak tahu membaca sama sekali. Penyebabnya, kondisi alam ekstrem lambat laun memaksa mereka tak bisa ikut belajar maksimal di Desa Induk Tanailandu Kecamatan Mawasangka Kabupaten Buton Tengah. Lama kelamaan, karena jenuh dengan kondisi ini dan kurangnya motivasi dan dukungan pemerintah setempat, mereka akhirnya memilih putus sekolah.
Padahal, Dusun Kaudani dan desa induk di Tanailandu hanya berjarak sekitar 1.250 meter atau 1,2 kilometer dari tepi pantai. Namun, di balik itu ada rintangan menahun yang sampai hari ini belum terpecahkan bagi masa depan generasi muda Bajo.
Diketahui, Dusun Kaudani, berdiri di atas hamparan bebatuan dan pasir. Sehari-hari, agar masyarakat bisa terhubung ke desa induk, mereka harus menyeberang menggunakan perahu kecil atau kapal. Namun, kondisi ini jauh berbeda ketika air laut sedang surut.
Saat air laut surut, lumpur dan pasir memisahkan mereka dari desa Induk. Padahal, hanya di desa ini berdiri sekolah SD dan SMP yang bisa dinikmati anak-anak Kaudani.
Kepala Desa Tanailandu Buton Tengah Rafiuddin saat dihubungi wartawan Liputan6.com mengatakan, pemukiman Kaudani sudah ada sejak zaman kesultanan Buton berdiri sekitar 350 tahun lalu. Mereka dikenal hingga dalam area kesultanan dan saat ini warganya sudah menggunakan Bahasa wolio atau bahasa tradisional di wilayah Kepulauan Buton.
Kata Rafiuddin, ia pernah mengeluh dan berkoordinasi dengan pemerintah Buteng. Kemudian, pemerintah memutuskan membangun ruang sekolah sederhana di sana sekitar 2022.
Sistemnya, mirip sekolah jarak jauh dengan bangunan semi permanen dilengkapi 2 ruang belajar. Guru dari daratan didatangkan mengajar di sana.
Namun, berjalan beberapa bulan, sekolah ini tak berfungsi maksimal. Sebab, salah satu penyebab utamanya, kondisi alam tak mendukung.
"Kalau air surut, menyisakan lumpur dan pasir membentang sejauh sekilo lebih. Jadi perahu dari Desa Induk tak bisa berlayar menuju Kaudani atau sebaliknya perahu dari Kaudani tak bisa ke Desa Induk dengan mudah," kata Rafiudin.
Ia menjelaskan, jadwal pasang surut air laut dalam setahun, selalu berubah setiap bulan. Kata dia, ada beberapa bulan dalam setahun, saat pagi hari air laut mulai surut sekitar jam 03.00 Wita subuh hingga jam 10.00 Wita pagi.
Kemudian, kondisi air laut pasang akan berlangsung sejak pukul 10.00 Wita hingga menjelang pukul 18.00 Wita.
"Padahal, saat air laut surut dan kondisi daratan berlumpur untuk menuju ke Desa Induk, saat itulah jadwal anak Kaudani harus menuju ke sekolah," kata dia.
Kondisi ini berlangsung terus menerus selama puluhan tahun. Tak jarang, anak-anak Kaudani yang hendak bersekolah, selalu telat datang atau bahkan memilih tak masuk sekolah daripada mendapat hukuman karena terlambat di perjalanan.
"Kalau saya hitung hitung, mungkin tinggal 2 orang yang masih bertahan sekolah di sana, satu anak kepala dusun. Salah satunya, pelajar Kaudani yang memiliki kerabat di daratan Desa Induk," ujar Rafiudin.
Sampai hari ini, 2 ruangan sekolah sederhana yang berdiri di Dusun Kaudani tidak dimanfaatkan maksimal. Kata warga di sana, guru dari desa induk pernah datang mengajar hanya sekitar 1 sampai 2 bulan. Setelah itu, mereka tak pernah datang lagi mengajar.
Kepala Dusun Putus Sekolah Kelas 4 SD
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5205796/original/095557400_1746115094-1746113501780.jpg)
Dusun Kaudani, dipimpin seorang warga asli bernama Hendra (43). Bekerja sebagai nelayan, pria kelahiran 1982 ini, memiliki 10 orang anak. Menikah pada usia 17 tahun. Dari 10 orang anaknya, hanya 2 orang yang saat ini bersekolah. Anak pertama, sudah menyelesaikan kuliah di Yogyakarta jurusan perikanan. Rencananya, ia akan melanjutkan ke S2.
Anaknya yang lain urutan kelima, bersekolah kelas 1 SMP di Desa Tanailandu. Dia bercerita, 2 anaknya yang lain pernah sekolah hingga kelas 2 SMK dan SMP. Namun, saat ini mereka berhenti sekolah dan memutuskan menikah.
Hendra mengungkapkan, pernah sekolah hingga kelas 4 SD. Namun, karena kondisi alam yang tak bersahabat, dia memilih putus sekolah dan bekerja sebagai nelayan. Lagipula, literasi pendidikan yang minim membuat ia dan sebagian generasi muda bajo di sana jenuh berlama-lama di sekolah.
"Nah, sekarang kalau anak saya ke sekolah pas air laut surut, terpaksa jalan kaki atau naik perahu kalau lagi pasang," kata dia.
Dia mengatakan, sampai saat ini, 2 ruang belajar di Kaudani lebih sering jadi tempat pengajian anak-anak. Sebab, guru sekolah sudah memutuskan tak ke sana lagi.
"Istri saya juga pernah bantu-bantu mengajar anak-anak membaca dan mengeja di ruang kelas kalau guru tak datang. Sejauh ini, itu yang bisa kami lakukan," ujar Hendra.
Advertisement
Ancaman Buta Huruf di Kaudani
Diketahui, saat ini Dusun Kaudani dihuni 70 kepala keluarga. Dari sekitar 70 rumah warga, terdapat sebanyak 150 orang warga jenis kelamin laki-laki dan 134 orang perempuan. Total, ada sebanyak 284 orang warga yang bermukim.
Dari jumlah sebanyak ini, terdapat 116 orang anak usia SD dan 11 orang siswa SMP serta 20 orang siswa SMA. Hanya 1 orang anak saja yang saat ini sedang bersekolah.
Dari jumlah anak sebanyak ini, terdapat 34 orang anak yang masih buta huruf total. Mereka tak bersekolah, warga tak mampu dan tak memiliki akses ke sekolah.
Kepala Dusun Kaudani, Hendra mengatakan, selain 34 orang anak buta huruf, mayoritas anak lainnya sudah kenal huruf. Namun, masih kesulitan membaca cepat. Bisa dibayangkan, bagaimana mereka ketika diminta memahami isi bacaan di sekolah sesuai usia mereka.
"Mereka pernah sekolah, namun paling jauh putus saat kelas 4 atau 5 SD. Ada yang putus di kelas 2 SD, atau hanya beberapa bulan sekolah. Yaa itu, karena rute dan minim literasi pendidikan hingga semangat mereka tidak terpacu agar rajin ke sekolah," ujar Hendra.
Respons Miris Kadis Pendidikan
Kadis Pendidikan Buton Tengah Abdullah mengaku pernah beberapa kali ke Kaudani. Dia mengakui, saat air laut surut tak bisa ke Kaudani. Dan saat pasang harus lewat perahu.
Kata dia, pihak Pemda Buteng pernah membangun ruang sekolah jauh pada tahun 2023.
"Dibangun pakai anggaran dinas pendidikan Buteng. Zaman Bupati Samahuddin (eks bupati)," ujar Abdullah saat dikonfirmasi Liputan6.com via telepon seluler.
Namun, kata dia, orang bajo di sana memang sifatnya suka berpindah-pindah pemukiman. Selain itu, anak sekolah orang bajo suka melarikan diri saat didatangi guru.
Namun, dia menjanjikan, Bupati terpilih saat ini Azhari, fokus terhadap dunia pendidikan. Dia berjanji, jika sekolah rakyat jadi dibangun di Buton Tengah, ia berupaya akan membangunkan semacam sekolah pesantren bagi anak-anak sekolah. Sekolah ini nantinya, akan membuat anak-anak Bajo tinggal di asrama di Desa Tanailandu yang berada di daratan.
Saat ditanyakan, kapan rencana pembangunan sekolah, Abdullah belum dapat memastikan. Padahal, kebutuhan pendidikan anak-anak bajo sudah sangat mendesak untuk memutus potensi buta huruf generasi muda di sana.
"Ahhhh sudah dulu e.." jawab Abdullah sambil mematikan sambungan telepon.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782154/original/031089800_1782878025-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-01T104708.110.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5493673/original/005478800_1770263148-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-05T103223.078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782149/original/002861400_1782877955-Cek_fakta_-_SIM_seumur_hidup.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5449906/original/063102600_1766118428-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-12-19T112523.408.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5205795/original/070875300_1746115094-1746113501805.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5556659/original/033473100_1776274063-000_A6D679V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782365/original/061503000_1782884376-AP26181805083891.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782203/original/029416800_1782879842-mex4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782208/original/070447800_1782879843-mex9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776307/original/030285700_1782873381-AP26182087478676.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8524757/original/078321100_1782454482-AP26176835585287.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262583/original/036434300_1781838197-000_B7LE9YQ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776146/original/063906300_1782856231-Sweden_s_Lucas_Bergvall__7__and_Yasin_Ayari__18__defend_France_s_Ousmane_Dembele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8584006/original/084196900_1782546499-AP26178201151443.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776154/original/033634700_1782859536-France_s_Kylian_Mbappe__10__celebrates_scoring_their_third_goal_with_Michael_Olise.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776150/original/042954000_1782857106-France_s_Kylian_Mbappe.jpg)