Sukses

Miris, Bangunan Sekolah Rusak Tak Diperbaiki, Siswa SD di Kabupaten Kampar Belajar di WC

Belasan siswa SDN 002 Desa Tanjung, Kecamatan Kampar Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, terpaksa belajar di ruangan bekas WC karena bangunan sekolah rusak, padahal sekolahnya milik negara.

Liputan6.com, Pekanbaru - Kampar termasuk kabupaten dengan anggaran pendapatan belanja daerah terbesar di Provinsi Riau. Namun hal itu tidak tergambar bagi 18 siswa Sekolah Dasar Negari atau SDN 002 Desa Tanjung, Kecamatan Kampar Hulu.

Mereka terpaksa belajar di ruangan bekas tempat pembuangan kotoran manusia atau WC. Ruangan siswa belajar di bekas WC itu jauh dari kata layak karena atapnya sudah berkarat dan mulai keropos.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala SDN 002 Tanjung Apriwardi menjelaskan, jumlah siswa di sekolah yang dipimpinnya ada 223 orang. Jumlah itu tak tertampung oleh bangunan yang ada.

Belasan murid belajar di ruangan bekas WC sudah berlangsung 5 tahun. Ruangan itu dipakai oleh siswa baru atau kelas 1.

"Tak ada ruangan lain lagi yang bisa dimanfaatkan untuk belajar anak-anak," katanya.

Apriwadi menyampaikan, dulunya bangunan bekas WC berukuran 4x6 berdinding beton itu dijadikan gudang. Kini disulap menjadi tempat belajar belasan siswa, karena kekurangan kelas.

Tak hanya itu, sebanyak 22 guru yang mengajar juga tidak memiliki ruangan, karena dimanfaatkan untuk dijadikan ruangan kelas. Para guru terpaksa menempati perpustakaan yang sempit.

"Untuk jumlah guru di sini ada 22 orang, ruangan kami di pustaka, ukurannya juga sempit," terang Apriwardi.

 

 

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 2 halaman

Proposal Bantuan Diacuhkan

Sebelumnya pihak sekolah sudah mengajukan proposal ke Dinas Pendidikan Pemkab Kampar untuk penambahan ruang kelas. Namun, sudah bertahun-tahun permintaan sekolah tak kunjung dikabulkan.

"Proposal ke Disdik sudah kita ajukan pada tahun 2022, untuk penambahan ruang kelas," katanya.

Pihak dinas usai proposal disetujui sudah datang meninjau. Katanya sudah oke, tapi entah apa masalahnya sampai sekarang tak ada hasil dan belum ada bangunan baru.

Apriwadi berharap pemerintah dapat menambah ruang belajar murid. Termasuk ruangan guru agar perpustakaan juga bisa kembali.

"Harapan kami kepada pemerintah agar tahun ini dapat menambah ruang kelas murid dan ruangan untuk guru," kata Apriwardi.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.