Sukses

Mereguk Sejarah Dawet Ayu Khas Banjarnegara

Liputan6.com, Banjarnegara - Minuman khas atau minuman tradisional dari suatu daerah merupakan warisan budaya yang yang juga menjadi ciri khas suatu daerah. Dawet ayu misalnya, minuman dari Banjarnegara, Jawa Tengah, ini telah melegenda dan masih eksis hingga saat ini.

Dawet merupakan minuman tradisional yang terbuat dari tepung beras. Umumnya, dawet disajikan dengan es parut, santan, dan gula jawa cair.

Dawet memiliki penampilan dan cita rasa yang mirip dengan cendol khas Jawa Barat. Perbedaan keduanya terletak pada bahan dasar pembuatannya.

Dawet dibuat dari bahan dasar tepung beras dan sagu aren, sementara cendol dibuat dari tepung kanji. Gula yang digunakan pada dawet ayu bukanlah gula merah cair atau gula kelapa, melainkan gula aren.

Gula aren inilah yang memberikan rasa manis yang alami dan aroma khas pada dawet ayu. Dalam Jurnal Dinamika Sosial Budaya Vo. 23 berjudul "Dawet Ayu sebagai Icon Kota Banjarnegara" tertulis, sebenarnya dawet ayu sudah ada sejak tahun 1980-an.

Asal usul kepopuleran minuman ini berawal dari lagu "Dawet Ayu Banjarnegara", yang diciptakan seniman Banjarnegara bernama Bono. Pada tahun 1980-an lagu ini pun dipopulerkan kembali oleh Grup Seni Calung dan Lawak Banyumas Peang Penjol.

 

Saksikan Video Pilihan Ini:

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Pakai Cetakan

Grup Seni Calung dan Lawak Banyumas Peang Penjol ini memang cukup terkenal di Karesidenan Banyumas pada era 1970-1980-an. Lagu tersebut seolah turut andil dalam mempopulerkan dan melestarikan minuman tradisional ini.

Dawet pada dawet ayu dibuat dengan menggunakan alat berupa cetakan atau saringan. Cetakan ini diperlukan agar dapat memberikan bentuk yang memanjang khas dawet.

Adapun bahan yang digunakan, di antaranya tepung beras, tepung sagu, sari pandan, air, serta garam. Sementara itu, bahan yang digunakan untuk membuat santannya, yakni santan, daun pandan, serta garam.

Dawet ayu akan semakin lengkap dengan tambahan juruh yang terbuat dari gula aren, gula pasir, air, serta daun pandan. Keberadaan dawet ayu sebagai ikon Kota Banjarnegara juga terlihat dalam Monumen Dawet Ayu yang terletak di Alun-alun Kota.

Monumen tersebut berupa patung dua penjual dawet ayu lengkap dengan gerobaknya. Meski berasal dari Banjarnegara, kehadiran dawet ayu bisa ditemui di beberapa wilayah lain di luar Banjanegara.

(Resla Aknaita Chak)

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS