Sukses

Mengenang Bung Hatta, Sosok Nasionalis yang Cinta Mati Sama Buku

Liputan6.com, Jakarta - Proklamator kemerdekaan bangsa, Bung Hatta, merupakan sosok yang nyaris sempurna sebagai seorang pemimpin. Bung Hatta memiliki kemampuan literasi yang seimbang, yakni membaca dan menulis serta mendengar dan berbicara.

"Itu adalah contoh, kita jangan hanya mau bicara saja tanpa mau mendengarkan dan jangan juga kita hanya membaca saja, tapi tulis juga hasil bacaannya,” ujar wartawan sekaligus penulis biografi, Hasril Chaniago, dalam bincang-bincang "120 Tahun Hatta: Bangkit Bersama Literasi" yang diselenggarakan UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta secara hybrid, Kamis (11/8/2022).

Hasril menambahkan, Bung Hatta juga merupakan sosok yang mempraktikkan nilai-nilai keagamaan yang dianutnya. Proklamator negara yang lahir pada 12 Agustus 1902 itu, menerapkan nilai keislaman dalam keseharian, yakni tepat waktu, disiplin, jujur, sederhana, dan hemat.

Hal ini senada dengan kisah yang disampaikan putri ketiga Bung Hatta, Halida Hatta. Halida menyebut, sejak kecil ayahnya sudah mengajarkan nilai kesederhanaan dan komunikasi yang baik di dalam keluarga. Sederhana memiliki makna, makan sehat hingga kehidupan yang ditata dengan baik. Sedangkan komunikasi yang baik adalah ketika ayah, ibu, dan kedua saudarinya menjalin interaksi hangat.

"Ketika diberi hadiah buku, itu adalah sebuah kemewahan bagi kami karena di situ kami membaca sekaligus berinteraksi. Jadi itulah hal yang mungkin sederhana tapi juga kaya. Sesuatu yang tidak berlebih dan membumi tetapi secara tidak langsung kita bisa mendapatkan pencerahan yang luar biasa," kenangnya.

Sementara itu Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah mengatakan, Bung Hatta dan Bung Karno sangat mencintai rakyatnya saat menjalankan kepemimpinan. Ketika sedang berselisih, keduanya tidak menunjukkan sedang ada masalah di depan masyarakat. Perselisihan di depan publik disebut hanya akan membuat rakyat sedih dan putus asa, serta hilangnya ide kreatif dan inovasi.

"Saya kira ini juga perlu kita contoh dari Bung Hatta. Kita harus menghindari percekcokan dan perbedaan, yang harus dibangun adalah solidaritas dan optimisme masyarakat untuk bangkit menjadi negara maju," tegas Gubernur Mahyeldi.

 

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Sosok yang Cinta Buku

Pada kesempatan yang sama, guru besar ekonomi Universitas Indonesia, Sri Edi Swasono, mengungkapkan salah satu tujuan mulia yang dijunjung oleh Bung Hatta adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Bung Hatta meyakini hal ini bukan hanya meningkatkan kecerdasan anak bangsa, melainkan membuat bangsa sadar akan harga diri sehingga dapat menjadi mandiri.

"Mandiri artinya tidak minder dan mempunyai dignity. Jadi bukan sekadar otaknya yang cerdas, tapi juga memiliki harkat dan martabat," ungkap menantu Bung Hatta tersebut.

Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas), Deni Kurniadi mengatakan Bung Hatta merupakan sosok yang cinta buku. Kecintaan terhadap buku ini menegaskan bahwa bangsa yang sejahtera, dapat terwujud apabila setiap warga negara memiliki kecerdasan.

"Perpustakaan juga mengambil peran tidak hanya mencerdaskan kehidupan bangsa tetapi juga bagaimana ikut menyejahterakan masyarakat dengan cara memberikan pengetahuan kepada masyarakat melalui implementasi langsung dari buku-buku yang ada," jelasnya.

Dalam bincang-bincang "120 Tahun Hatta: Bangkit Bersama Literasi" itu juga dipentaskan pembacaan puisi yang berjudul Rindu pada Setelan Jas Putih dan Pantalon Putih Bung Hatta oleh penyair dan sastrawan Indonesia, Taufiq Ismail.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS