Sukses

Kecewanya Pelaku Usaha Persemaian di Sekitar IKN yang Tak Dilibatkan

Liputan6.com, Kutai Kartanegara - Presiden Joko Widodo resmikan Pusat Persemaian Modern (Nursery Center) Mentawir di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Rabu (22/6/2022) lalu. Persemaian Mentawir yang direncanakan untuk program rehabilitasi hutan di sekitar Ibu Kota Negara atau IKN Nusantara.

Presiden Jokowi mengatakan Pusat Persemaian Modern Mentawir dapat menghasilkan sekitar 12 juta bibit pohon per tahun yang nantinya bisa dimanfaatkan untuk penghijauan kawasan IKN Nusantara.

"Jadi konsepnya nanti kan kota di dalam hutan," kata Jokowi.

Konsep yang ditawarkan itu sebenarnya merupakan angin segar bagi pelaku usaha persemaian di sekitar kawasan IKN. Namun, tak sedikit pun melibatkan mereka.

Agus Priyono, salah satu pemilik usaha persemaian di Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara mengaku kecewa kegiatan di IKN minim melibatkan warga lokal. Persemaian Mentawir, sebutnya, adalah salah satu contoh itu.

“Kenapa tidak melibatkan masyarakat? Padahal di sekitar kawasan IKN ini banyak sekali usaha persemaian,” kata Agus kepada liputan6.com, Rabu (7/7/2022).

Agus Bahkan menyebut pejabat yang punya otoritas di IKN tidak memiliki kepekaan.

“Pejabat tidak punya sense of crisis,” sebutnya.

Padahal, sambung Agus, dari upaya pemenuhan jutaan bibit pohon per tahun, sebagian bisa diberikan kepada masyarakat lokal. Usaha persemaian di sekitar IKN banyak terdapat di Kecamatan Samboja dan Kecamatan Loa Janan.

Dua kecamatan ini berada di Kabupaten Kutai Kartanegara yang beririsan langsung dengan kawasan IKN. Dia mencontohkan, di Desa Batuah saja ada 25 unit usaha pembibitan. Satu unit usaha bisa menghasilkan 30 ribu bibit.

“Di Kecamatan Samboja yang persis bersebelahan dan menjadi akses ke kawasan IKN sekarang saja banyak penangkar kehutanan,” kata Agus.

Simak video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Selalu Disudutkan

Agus Priyono mengaku prihatin dengan kondisi ini. Biasanya, jika mereka menyuarakan kekecewaan seperti ini selalu disudutkan dengan kesiapan para pemilik usaha pembibitan.

“Kita sering disudutkan dengan pertanyaan, ‘emang penangkar siap?’. Kalau belum siap, berdayakan, dan latih hingga bisa memenuhi spesifikasi yang diminta,” tegasnya.

Padahal, pelibatan usaha-usaha persemaian ini memberikan efek ekonomi yang baik bagi warga di sekitar IKN, jauh sebelum kawasan itu jadi. Jumlah masyarakat yang terlibat juga sangat banyak.

“Anggota saya saja ada 18 orang. Itu baru saya. Sementara kelompok persemaian lainnya jumlahnya bervariasi, bisa lebih banyak dari saya,” sebut Agus.

Agus juga menyebutkan para pemilik usaha pembibitan di sekitar kawasan IKN sangat bervariasi dalam penyediaan bibit. Tak hanya pembibitan pohon buah, namun beragam jenis pohon juga tersedia.

“Penangkar kehutanan di sekitar Kilometer 38 (Kecamatan Samboja) itu juga ada. Jumlahnya banyak dan anggotanya juga banyak,” sebutnya.

Agus mengaku sangat kecewa dengan pejabat yang memiliki otoritas di kawasan IKN yang tidak melibatkan masyarakat. Padahal pelibatan masyarakat akan sangat membantu dari sisi ekonomi.

“Harusnya ini waktu yang tepat untuk membangkitkan ekonomi masyarakat. Sayang sekali pemerintah kita tidak mengambil kebijakan itu,” pungkasnya.