Sukses

Sukses Bangun Rumah dari Hasil Jualan Kacang Telur Eceran

Liputan6.com, Jakarta Winarto (48) mengisi hari-harinya dengan berkeliling Kota Bekasi dari warung ke warung menyuplai dagangannya. Dagangan yang diproduksi sendiri itu berupa camilan kering yang dijual dalam bentuk kemasan eceran. Meski produk pabrikan banyak mengisi rak-rak minimarket, camilan yang dibuatnya tetap banyak yang menyukainya.

Profesi yang digelutinya sejak tahun 2006 ini dijalani dengan tekun dari sebuah rumah petakan kecil yang dia kontrak di daerah Kayuringin, Bekasi.

“Sejak awal mulai Saya sendiri mengerjakan ini, istri dan anak saya tinggal di kampung, "ungkap bapak dua anak ini sambil tersenyum.

Ia Sempat menjadi buruh pabrik di perusahaan elektronik di Bekasi. Pria yang lahir di Sragen, Jawa Tengah ini memutuskan untuk mengikuti jejak teman-teman sekampungnya yang sudah lebih dulu terjun ke bisnis serupa.

2 dari 4 halaman

Mulai Jam 6 Pagi

Jam 6 pagi pria yang akrab dipanggil Mas Win ini sudah memulai beraktivitas. Ia membagi-bagi porsi camilan dan membungkusnya kedalam plastik ecer berukuran seperempat kilogram.

“Sekarang sudah menggunakan sealer (penyegel) listrik, dulu masih menggunakan lilin bakar”, ujarnya. Aktivitas membungkus ini biasanya memakan waktu dua hingga tiga jam. Biasanya dia selesai membungkus jam 9 pagi.

Lewat jam makan siang, Mas Win mulai berkeliling menggunakan motor menyuplai dagangan hingga jam 8 malam. Bekasi Timur, Bekasi Barat, Bintara, Harapan Indah, Pekayon, dan Duren Sawit menjadi area berjualannya. Dia berkeliling dari warung ke warung dalam satu hari. “Dalam seminggu ada liburnya satu hari, biasanya hari Jum’at saya libur”, lanjutnya.

Selain menyuplai dagangan, Mas Win juga melakukan penagihan barang yang sudah laku terjual, lalu mengisi kembali dengan stok baru yang akan ditagih pada kedatangan berikutnya.

3 dari 4 halaman

30 Jenis Camilan

Ada 30 jenis camilan yang disuplai ke warung-warung langganannya, diantaranya kue kuping gajah, kacang telur, stik keju, kue tambang. Tiga jenis yang paling banyak permintaannya adalah kacang Medan, kacang oven, dan sumpia. Satu plastik kemasan eceran dibandrol seharga 2500 Rupiah. Namun pandemi datang, omset penjualan menurun hingga 15%.

“Sebelum pandemi omset bisa mencapai 600 Ribu Rupiah setiap harinya, setelah pandemi turun hingga 15%.”, jelas Mas Win.

Hal itu karena banyaknya lokasi dagang yang aksesnya ditutup. Karena pandemi Mas Win hanya bisa melakukan kunjungan ke warung menjadi dua minggu sekali. Disamping itu daya beli pelanggan juga menurun.

“Meski pandemi tapi dagangan tetap jalan, Alhamdulillah bisa bertahan.”, lanjutnya. Ini membuktikan bahwa bisnis camilan ini sanggup bertahan meski pandemi Covid-19 menyerang.

Dilingkungan tempat tinggalnya, ada delapan orang rekan seprofesi melakukan aktivitas yang sama dengan Mas Win. Perjanjian tidak tertulis sudah mengatur bagaimana mereka mendapatkan pelanggan tanpa harus bergesekan pada area jualan yang sama. Teknik mendapatkan pelanggan dilakukan dengan caranya masing-masing,

 

4 dari 4 halaman

Bisa Bangun Rumah

“Mendapatkan kepercayaan pelanggan dulu yang utama, agar bisa panjang kerjasamanya.”, jelas Mas Win.

Untuk barang yang retur atau dikembalikan oleh warung maka akan diserahkan Mas Win kepada agen dengan kompensasi ganti barang baru atau potongan harga pengambilan barang berikutnya.

Selama lebih dari 15 tahun menjalani bisnis, usahanya tidak selalu mulus. Pengalaman pahit juga beberapa kali dirasakan seperti warung tutup tidak ada kabar dan ternyata sudah pindah. Alhasil dia harus menutupi tagihan warung tersebut dari uang pribadinya.

Bisnis receh dari camilan yang diecer ini sudah membuat Mas Win bisa membangun rumah impiannya di kampung halaman dan menyekolahkan kedua putrinya. Sambil tersenyum Mas Win menjelaskan, “Yang sulung sudah selesai sekolah, sekarang sudah bekerja, tahun ini mau lanjut kuliah katanya.”

Untuk memulai dan menjalankan usaha seperti ini, harus rajin, bersungguh-sungguh dan mendapatkan kepercayaan adalah kunci utamanya. “Yang penting tekun, ulet, dan mendapat kepercayaan dari pelanggan adalah modalnya.”

Penulis:

Adam Sundana