Sukses

Penutupan Pasar Hewan Akibat PMK, Bagaimana Harga Sapi di Boyolali?

Liputan6.com, Boyolali - Harga hewan kurban, khususnya sapi, di Pasar Hewan Jelok, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, rata-rata masih stabil terkait penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) di wilayah itu.

"Harga hewan kurban sapi di Pasar Hewan Jelok Cepogo Boyolali rata-rata masih stabil, misalnya berat hidup ternak 350 kilogram dijual rata-rata sekitar Rp17,5 juta per ekor atau tergantung beratnya dan kegemukan," kata Marjo (60), salah satu pedagang asal Desa Mliwis, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jumat.

Harga sapi berat hidup untuk kurban rata-rata dijual Rp50.000/kilogram sehingga jika beratnya 400 kg dipatok harga hingga Rp20 juta per ekor. Harga ini, dibanding tahun sebelumnya hampir sama atau stabil.

"Kami mencari sapi untuk persiapan kurban rencana dipasok ke Jawa Barat. Namun, kondisi masih PMK lalu lintas ternak masih dibatasi. Harga sapi itu, kemungkinan berdampak adanya PMK, tetapi masih belum kelihatan," kata dia, dikutip Antara.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar Hewan Jelok Sapto Hadi Darmanto mengatakan wabah PMK tentunya berdampak terhadap perdagangan hewan kurban di pasar setempat.

Hari terakhir pasaran di Pasar Hewan Jelok diperkirakan pada Kamis (26/5). Sebagaimana hari pasaran terakhir, perdagangan di tempat itu diperkirakan naik, tetapi justru sebaliknya menurun. Hingga pukul 13.00 WIB, ternak sapi yang masuk sekitar 600 ekor atau menurun 200 ekor dibandingkan dengan hari-hari pasaran sebelumnya yang sekitar 800 ekor per hari.

 

Saksikan Video Pilihan Ini:

2 dari 2 halaman

Pembatasan Lalu Lintas Ternak

Penurunan perdagangan sapi di Pasar Hewan Jelok, kata dia, karena sudah ada pemberitahuan melalui surat edaran kepada para pedagang bahwa semua pasar hewan di Boyolali ditutup sementara selama 27 Mei hingga 10 Juni mendatang.

"Mulai Jumat ini (27/5), hingga 15 hari ke depan semua pasar hewan ditutup sementara. Hal ini, untuk penanggulangan dan pengendalian PMK terhadap ternak dengan membatasi lalu lintas ternak," katanya.

Selain itu, peternak juga sudah tahu harus mengurangi lalu lintas ternak yang berasal dari luar daerah. Maraknya penyebaran PMK di Boyolali memang memengaruhi perdagangan hewan ternak. Hal itu, berbanding lurus dengan pembelian ternak karena masih ada peternak yang takut melanjutkan usahanya itu akibat PMK.

Pihaknya sudah melakukan sosialisasi kepada peternak, masyarakat, dan pelaku pasar bahwa sebenarnya penyakit PMK pada ternak tidak berbahaya kepada manusia, sedangkan dagingnya bisa dikonsumsi selama pengolahan sesuai ketentuan.

"Hampir setiap pasar hewan diberikan brosur, baik pedagang maupun masyarakat umum yang beraktivitas di pasar juga disampaikan bersama Disnakkan dan pihak terkait," katanya.

Oleh karena ada pembatasan lalu lintas ternak saat ini, pihaknya belum bisa mengatakan tentang ketersediaan ternak di Boyolali karena hampir 50 persen sapi perah mengambil dari luar daerah.

"Karena penyebaran PMK sangat berdampak pada perdagangan sapi, karena harga bakal hewan ternak sempat menurun sekitar Rp500 ribu hingga Rp750 ribu per ekor," katanya.

Pihaknya bersama PMI, Polri, TNI, dan Disnakkan melakukan pemantauan dan penyemprotan disinfektan di pasar-pasar hewan di daerah itu yang saat ini telah ditutup sementara waktu.